Wednesday, June 22, 2011

Cerita dari Tanah Merah

*lanjutan dari Jepara oh Jepara!*

Masih di Jepara. Hari kedua.
Bangun pagi-pagi. Mengintip alun-alun Jepara yang mulai menggeliat. Inilah saatnya di mana orang-orang Jepara muncul. Mereka muncul berombongan, ramai-ramai untuk: lari pagi dan bersepeda!
Budaya olahraga tumbuh subur di kota ini. Di halaman kantor-kantor pemerintahan tampak para staf bersenam pagi bersama-sama. Saya jadi ingat slogan jaman saya masih SD, saat seluruh kelas wajib SKJ tiap Jumat pagi, yaitu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.

Jam delapan. Setelah sarapan roti tangkup dan teh susu, kami bersiap-siap berkelana melihat perkampungan nelayan Jepara. Kami menyusuri jalanan yang mulai benderang. Di sana sini terlihat remaja-remaja berseragam. Kami melewati salah satu SMP yang megah. Wah, semua kelas ber-AC! Yang membuat kami tergelak adalah saat melewati beberapa plakat hijau di depan beberapa sekolah yang bertuliskan huruf besar-besar: T3BM - Tengok Kanan Tengok Kiri Tengok Kanan Baru Menyeberang!
Cukup mengherankan ada papan nasehat di sebuah kota yang lalu lintasnya sangat lengang dibanding Jogja, atau bahkan jalan KS Tubun di depan kampung saya, Ngadiwinatan.

Kami melewati beberapa hotel besar, membelok ke sebuah jalan dengan papan penunjuk ke arah Pantai Kartini. Ah, iya. Jepara selalu terkenal salah satunya karena ada Ibu Kita Kartini, putri sejati. Saya jadi teringat dengan polemik pendapat apakah Kartini beragama Islam atau Kristen. Dan saya berusaha menggali-gali di bumi ini, di manakah sisa-sisa kejayaan Kartini. Saya memang menemukan patung Kartini yang tampak gagah di tengah jalan utama kota, tapi selain itu nihil. Mungkin saya harus kembali lagi ke kota ini kapan-kapan.

Tidak terasa, kami mulai memasuki kawasan kampung nelayan Jepara. Di belakang rumah-rumah terbentang laut biru. Angin laut kencang pagi itu. Tiba di sebuah jembatan, saya terpana. Di bawah saya adalah kanal, semacam teluk buatan yang menggiring perahu-perahu nelayan pulang kandang. Berpuluh-puluh perahu warna-warni tertambat, dengan bendera merah putih di puncaknya berkibar semangat diterpa angin samudera.
Kabut masih turun, selimutnya mulai menipis.
Air laut bergolak tenang, perahu-perahu bergoyang-goyang seirama ombak. Nelayan-nelayan berlengan kekar dan berkulit terbakar matahari tampak menarik jala dan membongkar muatan. Tetes-tetes keringat menitik di dahi mereka yang kini mengkilat ditimpa cahaya mentari.

Saya berdiri tepat di ujung jembatan.
Memandang samudera di depan. Memandang Kepulauan Karimun yang tampak di ujung sana. Dan memandangi pucuk-pucuk perahu nelayan yang tiangnya tampak meranggas dimakan waktu.
Saya mendesah, indah sekali!
Sebuah perkampungan yang benar-benar menyentuh saya. Menyentuh dalam makna spiritual maupun kultural, semacam perasaan yang membuat saya enggan memotret dengan kamera seperti turis, karena saat kita memotret kita mengambil jarak dengan subjek/objek yang dipotret, dan saya tak mau itu terjadi. Saya ingin mendekatinya perlahan, lalu menghirupnya dalam-dalam hingga memenuhi rongga saya, dan membiarkannya berenang-renang di alam pikir dan rasa saya yang sungguh, tak bisa dibanalkan begitu saja hanya dengan selembar foto. Ah!

Mungkin saya berlebihan. Tapi, begitulah yang saya rasakan. Maka, kami mulai menuruni jalan setapak dan berjalan di atas pasir pantai utara, menyapa nelayan-nelayan muda dan merasakan sebuah energi purba yang menyapa tengkuk saya. Saya tak lupa bahwa pantai Jepara ini menyimpan sejarah yang mengendap dan mengerak di butir-butir pasirnya. Semenjak Portugis datang, kecamuk raja-raja Jawa, kisah para wali dan sunan, dan saya jadi teringat dengan kisah Sunan Tanah Merah yang tersohor itu. Seorang Syekh Siti Jenar yang masyhur dengan ide Manunggaling Kawula Gusti. Dan saya berdiri di atas tanahnya. Menghirup dalam-dalam sejarah yang menguar di sela-sela pukat, tiang-tiang kapal dan tambang-jangkar yang bergoyak naik turun seirama gelombang berbuih-buih.

Kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini terus memasuki perkampungan, lebih ke dalam lagi, melewati lapangan-lapangan berumput, jalan menurun dengan pohon-pohon teduh, pekarangan-pekarangan bertanah merah dengan satu dua balita bermata pucat, lalu membelok melewati payau-payau, rawa berteratai, segerombolan anak SD yang riuh tertawa di atas dokar beroda dua yang kudanya meringkik-ringkik mencari keseimbangan, dan lebih banyak lagi dokar-dokar berseliweran dengan lonceng kecil di puncak kepalanya. Suaranya renyah saat terdengar bersamaan dengan ketipuk kaki kuda yang menderap.

Saya melingkarkan tangan ke pinggang Greg. Tangannya meremas tangan saya lembut. Kami terus melaju di jalanan yang berbatu. Tanah merah di mana-mana. Debu-debu merah pun beterbangan bersama dengan serbuk-serbuk kayu yang terbawa angin dari rumah-rumah para pengukir yang kami lewati. Kami sedang memasuki sebuah dusun kecil yang lengang, melompat-lompat di sela-sela gerowong badan jalan yang rusak ditimpa berat truk-truk yang hilir mudik mengangkut mebel. Ada yang menarik perhatian saya. Banyak botol-botol minuman bersoda dari Paman Sam yang berderet-deret di depan beberapa rumah. Berisi cairan kekuningan. Setelah beberapa kali melewati botol-botol itu, saya baru sadar kalau mereka menjual bensin eceran. Di desa ini, bensin eceran dijual menggunakan botol-botol minuman bersoda, bukan bekas botol minuman beralkohol seperti di Jogja.

Kami juga melewati sekolah-sekolah berlapangan tanah merah dengan murid-muridnya yang berjejer-jejer di bahu jalan menyoraki kami saat kami lewat. Saya melambaikan tangan dan berteriak gembira menyambut salam hangat mereka. Mereka tertawa. Polos. Ah, anak-anak. Saya selalu jatuh hati saat bepergian ke desa-desa dan bertemu dengan anak-anaknya di sekolah. Rasanya seperti tak ingin pergi, ingin tinggal dan mengajar di sana. Seperti yang dulu saya rasakan saat bertualang ke tengah-tengah hutan Sukamade di Jawa Timur dan menghirup rokok batang kering pertama saya dengan anak-anaknya yang telanjang kaki. Ah! Kapan-kapan saya akan bercerita kepada sampeyan.

Kami mengakhiri perjalanan Jepara siang itu dengan bekal Tolak Angin, sebotol besar air mineral dan semangat menggebu menuju Rembang!

*bersambung*

2 comments:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...