Sunday, June 26, 2011

Hutan, Hutan, dan Hutan!

*episode terakhir dari sebuah catatan panjang perjalanan Tour de Pantura, sempat mencicipi Kopi Banaran, Teh Pantura dan Bintang Berekor yang menemani kami, lalu mampir ke Jepara oh Jepara dan menuliskan sebuah Cerita dari Tanah Merah dan tentang Kota Ungu, Truk Raksasa dan Bandeng Bakar serta sebuah persinggahan tak terlupakan Di Lorong-Lorong Lasem*

Sabtu pagi. Jam tujuh. Masih di Rembang.
Bangun pagi-pagi langsung pergi ke pantai. Bukan pantai objek wisata. Kami berdua tak terlalu suka pantai sebetulnya, maka kami menuju ke perkampungan nelayan agak menjauh dari kota Rembang melewati Klenteng Ibu Laut yang perkasa dijaga dua ekor naga besar sebagai gerbangnya.
Pagi di anjungan.
Angin laut memusar. Burung-burung. Ikan-ikan kecil yang berenang di bawah anjungan. Kapal-kapal nelayang yang mendekat. Tumpah ruah. Es batu berbalok. Ikan-ikan. Nelayan. Ikan-ikan. Nelayan. Riuh.
Pelabuhan yang berbeda jauh dari keramaian Sunda Kelapa, namun lebih berasa kampung yang guyub dengan tawa pagi milik anak-anak yang terdengar di beberapa rumah tepi pantai. Hampir semua nelayan memakai topi jerami khas. Laki-laki perempuan semua memakai topi. Dan akhirnya kami mampir di sebuah warung kecil penyedia alat-alat nelayan dan membeli topi jerami nelayan untuk kami masing-masing. Topi sederhana yang cantik. Untuk penahan matahari saat saya bersepeda di jalanan Jogja. Dari pantai kami menuju Pasar Kota. Membeli camilan ringan pagi yang disebut 'dumbeg' yang dibungkus dengan daun lontar. Lalu kembali ke penginapan, berkemas-kemas setelah melahap dumbeg, nagasari dan kue lapis.

Jam sembilan. Kami berangkat menuju Blora.
Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang karena kami akan menghabiskan seharian di jalanan. Menurut peta yang saya bawa, kami akan menempuh jarak 187 km meliputi Rembang-Blora (42 km), Blora-Purwodadi (64 km), Purwodadi-Surakarta (52 km) dan Surakarta-Klaten (29 km). Ah! Melihat angka-angkanya saja kami agak gentar. Selain sudah membayangkan kondisi jalanan yang kami tempuh adalah sebagian besar kawasan hutan dan proyek-proyek pelebaran jalan dan pembuatan jalan baru.

Di sepanjang jalan adalah ladang, sedikit rumah, dan: hutan!
Inilah hutan Mantingan yang sering kami lewati saat kami naik kereta atau bis malam. Dan kami berada di dalamnya. Bersama truk-truk yang merayap. Saat kami berhenti hendak membeli bensin di pinggir jalan, saya melihat tak hanya bensin yang dijual di sana. Ada botol-botol ramping berisi cairan kuning dan botol kecil berisi cairan putih. Ternyata mereka adalah madu dan minyak kayu putih. Dan selebihnya kami terantuk-antuk lagi di jalanan hutan yang kadang rata, tapi banyak yang berlubang dan berbatu-batu. Dan masih saja proyek pembuatan jalan dan pelebaran jalan menjadi hal yang sering di rute ini, sehingga kami harus ikut merayap di larik-larik kemacetan yang mengular.

Friday, June 24, 2011

Di Lorong-Lorong Lasem

*lanjutan dari Kota Ungu, Truk Raksasa dan Bandeng Bakar*

Masih hari Jumat.
Setelah makan siang di Pati dengan bandeng bakar yang lezat, kami segera beranjak. Kali ini pemandangan sawah yang membentang, tambak-tambak dan tentu saja, truk-truk besar masih mendominasi. Di kiri jalan ada kanal besar dengan pukat-pukat dan jala. Saat saya melongok ada beberapa laki-laki yang berkubang, lengkap dengan 'senjata' mencari ikannya. Bau ikan menemani perjalanan kami. Ah, pastilah ini Juwana! Tempat asal bandeng-bandeng duri lunak yang dikemas dalam kardus putih dan disebarkan hingga Semarang dan Sidoarjo. Saat saya memandang langit, masih saja bintang berekor melintas di langit biru bersih tanpa awan. Menggaris indah di langit, dan masih saja menyisakan tanda tanya, pertanda apakah itu...

Rembang Bangkit
(bahagia-aman-nyaman-gotong royong-kerja keras-iman dan takwa)
Ada yang sama sekali berbeda saat kami mulai memasuki Kabupaten Rembang. Di kanan kiri tampak ladang-ladang putih dengan kincir-kincir angin serta di balik rumah-rumah di belakang ladang terbentang biru Laut Jawa.
Amboi! Indah sekali!
Kami berhenti sejenak. Mengamati lebih dekat ladang-ladang putih yang terbentang. Di beberapa titik terlihat para petani. Sebuah pemandangan baru bagi kami: ladang garam!
Air-air laut yang mengkristal ditempa panas pesisir pantura menyilaukan pandangan, semilir angin pesisir sesekali datang bersama bau laut, dan rumah-rumah kayu panjang berjejer-jejer tempat garam laut disimpan. Bebauan khas menyapa kami lagi. Kali ini bukan bau ikan, lebih pada bau laut yang terjemur dan mengendap di dalam rumah-rumah kayu panjang berwarna kusam.

Saat kami akhirnya memasuki kota Rembang, jalanan berubah menjadi jalan raya besar, tak seperti di Pati. Sulit sekali untuk menyeberang karena truk-truk berukuran gajah selalu melintas tak putus-putus. Kami memutuskan untuk mencari tempat menginap, mengamati plang-plang bertuliskan hotel, dan tertumbuk pada nama hotel yang terletak tepat di depan sekolah kuno.
Saya masuk dan berjalan menuju meja resepsionis yang tinggi sekali! Bayangkan, saat saya berdiri di depan meja resepsionis itu, orang yang ada di baliknya hanya akan melihat kepala saya saja! Tinggi meja resepsionis itu tepat sedagu saya. Saya lalu membunyikan bel selamat-datang.

Tergopoh-gopoh seorang perempuan muda bergelung tekuk muncul dan hanya melihat kepala saya saja. Saya bertanya tentang tarif kamar, dan mendapati bahwa harganya lebih mahal daripada harga di anggaran kami. Tiba-tiba si mbak resepsionis bertanya:
Mbak sudah menikah?
Saya berkata, belum, tetapi kami sudah bertunangan.
Dan dengan senyum kaku ia menjawab, maaf, tidak bisa menginap di sini kalau Mbak belum menikah, karena kami hanya menerima pasangan yang menikah dan kami meminta KTP suami-istri dengan catatan di sana tertera alamat yang sama alias serumah. Titik. Sambil dimasukkannya kembali daftar harga kamar yang dilaminating itu ke dalam laci meja.
Saya mendelik.

Thursday, June 23, 2011

Kota Ungu, Truk Raksasa dan Bandeng Bakar

*lanjutan dari Cerita dari Tanah Merah*

Hari kedua.
Masih berbekal peta terbitan tahun 1986 berjudul 'Petunjuk Tamasya Bermotor Jawa-Bali' yang saya temukan tiba-tiba sebelum kami memulai perjalanan panjang menyisir Pantai Utara ini, kami sekarang mulai meninggalkan Jepara. Melewati kembali Pasar Kalinyamatan namun kemudian membelok menuju Mayong, desa kelahiran Kartini. Hanya ada satu dua saja bangunan-bangunan kolonial yang masih ada, sisanya hanyalah jalanan berdebu tanah merah dan pohon-pohon yang tegak disirami matahari yang menyengat. Hampir pukul duabelas dan kami bertarung dengan debu jalanan yang ditumpahkan oleh truk-truk besar. Hampir menuju perbatasan saat mata saya tumbuk pada papan hijau bertuliskan Makam Kartini. Ah! Tak ada salahnya mampir. Kami berbelok dan memasuki areal makam. Jalanan menanjak menyapa kami. Baru setelah pintu gerbang terlihat, muncullah beraneka warna seragam anak-anak TK beserta seluruh guru dan orangtuanya. Tak ketinggalan penjaja manik-manik dan gulali yang diserbu anak-anak berwajah polos.

Saat saya masuk ke dalam makam, ah, saya terheran-heran. Jadi, seperti ini to makam Kartini. Bangunan makam termasuk besar, seperti rumah dengan lantai pualam, pun makam Kartini yang berada di tengah-tengah ruangan terbuat dari marmer yang lucunya bertuliskan dibuat di Yogyakarta. Ada pagar besi mengelilingi nisan Kartini yang di dalamnya tampak beberapa ibu-ibu guru TK berjilbab (saya kira) dan murid-murid TK yang menggelendot tak tahu harus bicara atau berdoa tentang apa atau untuk siapa. Mungkin tak terpikir juga bahwa yang ada di depan mereka adalah makam seorang "ibu kita Kartini". Sebuah kata yang terdengar begitu jauh.
Saat saya hendak keluar karena merasa agak aneh dengan suasana makam, saya melihat ada plakat di dekat pintu masuk yang berkata bahwa biaya pembuatan makam ini dibantu oleh Hutomo Mandala Putra alias Tommy Suharto dan diresmikan oleh Ibu Tien. Saya jadi teringat lagi dengan polemik tentang agama Kartini yang sebenarnya, apakah seorang Muslim, Kristen atau teosof. Ah. Panas terik. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi.

Kudus Semarak
(sehat-elok-maju-aman-rapi-asri-konstitusional)
Mau tak mau, kami harus melewati Kudus untuk menuju Rembang via Pati. Beberapa waktu yang lalu, kami sempat mampir Kudus. Bahkan kami sempat ke Menara Kudus dan membeli peci untuk ayah saya. Namun kali ini kami melewati rute yang berbeda. Kalau sebelumnya kami lewat Demak, kali ini kami dari utara dan melewati perbatasan Jepara dan Kudus yang berupa dua kandang besar berisi harimau garang. Tentu saja tidak benar-benar harimau. Tapi sungguh seperti nyata!
Saat mulai memasuki Kaliwungu, saya tersenyum-senyum terus sepanjang jalan. Bagaimana tidak? Seperti namanya, sungguh semua benda di sini berwarna ungu. Mulai dari angkot, kantor kecamatan, seragam sekolah, tembok-tembok pagar, gapura, tempat sampah, bahkan pohon-pohonnya dicat ungu!
Di mana-mana semua warna ungu!

Wednesday, June 22, 2011

Cerita dari Tanah Merah

*lanjutan dari Jepara oh Jepara!*

Masih di Jepara. Hari kedua.
Bangun pagi-pagi. Mengintip alun-alun Jepara yang mulai menggeliat. Inilah saatnya di mana orang-orang Jepara muncul. Mereka muncul berombongan, ramai-ramai untuk: lari pagi dan bersepeda!
Budaya olahraga tumbuh subur di kota ini. Di halaman kantor-kantor pemerintahan tampak para staf bersenam pagi bersama-sama. Saya jadi ingat slogan jaman saya masih SD, saat seluruh kelas wajib SKJ tiap Jumat pagi, yaitu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat.

Jam delapan. Setelah sarapan roti tangkup dan teh susu, kami bersiap-siap berkelana melihat perkampungan nelayan Jepara. Kami menyusuri jalanan yang mulai benderang. Di sana sini terlihat remaja-remaja berseragam. Kami melewati salah satu SMP yang megah. Wah, semua kelas ber-AC! Yang membuat kami tergelak adalah saat melewati beberapa plakat hijau di depan beberapa sekolah yang bertuliskan huruf besar-besar: T3BM - Tengok Kanan Tengok Kiri Tengok Kanan Baru Menyeberang!
Cukup mengherankan ada papan nasehat di sebuah kota yang lalu lintasnya sangat lengang dibanding Jogja, atau bahkan jalan KS Tubun di depan kampung saya, Ngadiwinatan.

Kami melewati beberapa hotel besar, membelok ke sebuah jalan dengan papan penunjuk ke arah Pantai Kartini. Ah, iya. Jepara selalu terkenal salah satunya karena ada Ibu Kita Kartini, putri sejati. Saya jadi teringat dengan polemik pendapat apakah Kartini beragama Islam atau Kristen. Dan saya berusaha menggali-gali di bumi ini, di manakah sisa-sisa kejayaan Kartini. Saya memang menemukan patung Kartini yang tampak gagah di tengah jalan utama kota, tapi selain itu nihil. Mungkin saya harus kembali lagi ke kota ini kapan-kapan.

Tidak terasa, kami mulai memasuki kawasan kampung nelayan Jepara. Di belakang rumah-rumah terbentang laut biru. Angin laut kencang pagi itu. Tiba di sebuah jembatan, saya terpana. Di bawah saya adalah kanal, semacam teluk buatan yang menggiring perahu-perahu nelayan pulang kandang. Berpuluh-puluh perahu warna-warni tertambat, dengan bendera merah putih di puncaknya berkibar semangat diterpa angin samudera.
Kabut masih turun, selimutnya mulai menipis.
Air laut bergolak tenang, perahu-perahu bergoyang-goyang seirama ombak. Nelayan-nelayan berlengan kekar dan berkulit terbakar matahari tampak menarik jala dan membongkar muatan. Tetes-tetes keringat menitik di dahi mereka yang kini mengkilat ditimpa cahaya mentari.

Tuesday, June 21, 2011

kurakurakikuk oleh Fatika Santun

Wah!
Saya senang bukan kepalang saat mendapat kiriman gambar dari Fatikah Santun, yang biasanya saya panggil Tika, atau yang akrab dipanggil Antun kalau di rumah.
Ia menggambar kurakura kikuk untuk saya!


Bakat menggambarnya memang mantap, seperti ayahnya tercinta, Mas Eko Nugroho :) Oya, kurakura kikuk memang suka berjalan pelan-pelan, jadi mungkin cara berjalannya memang agak aneh. Tapi ia tetap senang berjalan-jalan kok. Dan baru saja si kurakura berjalan-jalan ke pantai utara!

Terima kasih ya Tika! :)

Monday, June 20, 2011

Jepara oh Jepara!

*lanjutan dari Tour de Pantura! dan Kopi Banaran, Teh Pantura dan Bintang Berekor*

Masih di Demak...
Saya berkali-kali menengadah menatap langit mencari jejak si awan misterius yang selalu mengikuti kemana pun kami pergi. Saat kami berhenti di pom bensin untuk mengisi perutnya Mbah Kakung (julukan bagi sepeda motor Greg) dengan 2 liter bensin, kami juga masih terus-terusan menatap langit. Waktu itu langit biru bersih. Dan dari arah selatan ke utara menggaris awan yang aneh itu. Apa karena kami semakin mendekati garis pantai ya? Ah, kami simpan pertanyaan dalam hati.
Sepanjang perjalanan dari Demak menuju Jepara, saya banyak melihat rumah-rumah adat yang masih terjaga dengan baik. Dan tak terasa kami sudah memasuki Kabupaten Jepara...

Jepara Bumi Kartini
Kami mulai memasuki desa-desa di Kabupaten Jepara, mulai Welahan, lalu Pecangaan. Hari mulai sore dan Greg semakin mempercepat laju karena kami tak mau kemalaman di tengah jalan. Kami harus sampai kota Jepara sebelum malam menjelang dan mencari penginapan.
Kami melewati Pasar Kalinyamatan yang masih ramai. Nama 'Kalinyamat' membuat saya teringat dengan seorang Ratu Kalinyamat yang gagah berani. Pada tahun 1550 ia mengirim 4000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan Sultan Kerajaan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasan Eropa. Meski kalah, tetapi ia tetap terus memenuhi permintaan raja-raja di Nusantara untuk menghalau Portugis. Hingga Portugis pun menjulukinya sebagai 'Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de Kranige Dame' yang artinya 'Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani'. Kalau sampeyan ingin tahu lebih lanjut tentang sejarah Ratu Kalinyamat, silakan baca di sini.

Sunday, June 19, 2011

Kopi Banaran, Teh Pantura dan Bintang Berekor

*lanjutan dari Tour de Pantura!*

Ungaran Serasi
(sehat-rapi-aman-sejahtera-indah)
Setelah melewati Salatiga yang sejuk, kami mulai memasuki jalan raya berkelok-kelok dan naik turun yang penuh dengan truk dan bis-bis besar. Cukup menegangkan juga terselip-selip di antara truk dan bis yang melaju. Polusi mulai terasa. Asap hitam di mana-mana. Udara mulai panas.
Saya melirik jam tangan. Hampir pukul sebelas. Kami mulai memasuki Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang yang terkenal penuh dengan pabrik-pabrik besar.
Kami memang sudah lapar karena sepagian hanya diganjal dengan roti manis seribu rupiah sewaktu menunggu di Pasar Boyolali.
Beberapa saat kemudian, kebun kopi mulai tampak di sisi kiri jalan. Lapak-lapak pedagang minuman dan kelapa muda juga mulai tampak berderet-deret. Namun siang itu lapak-lapak banyak yang kosong. Hanya beberapa saja yang buka, ditunggui oleh perempuan-perempuan bermata lelah berbedak debu.
Akhirnya kami berhenti di Kampoeng Kopi Banaran. Hendak melepas penat, mencuci muka dan mengisi perut. Restoran tampak ramai didatangi para pelancong bermobil. Hanya sedikit yang bersepeda motor.
Saya memesan Nasi Goreng Hijau dan Kaligua Tea Cream sedang Greg memesan Nasi Pecel Telur dan Kopi Tubruk Banaran. Wah, nasi pecelnya mantap! Segar dan menggoda selera! Sedangkan menu saya cukup enak karena nasinya digoreng dengan bumbu terasi dan dicampur dengan sayuran hijau.
Kampoeng Kopi Banaran sendiri merupakan wisata agro yang dimiliki oleh PT Perkebunan Nusantara IX, dengan banyak fasilitas. Salah satunya adalah naik kereta mini mengelilingi kebun kopi dengan biaya 50 ribu per orang. Saya sempat tergiur, tapi segera menggelengkan kepala karena kami tak bisa lama-lama di Banaran, saya sudah pernah ke kebun kopi sebelumnya di Cetho, dan terutama: satu orang 50 ribu rupiah? Tidak, terima kasih :)
Jadilah kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang dan semangat baru. Kami melewati banyak pabrik besar, seperti Nyonya Meneer, Khong Guan, Coca Cola, Jamu Jago, dan lain-lain. Wuih, perjalanan masih panjang!

Semarang Kota ATLAS
(aman-tertib-lancar-asri-sehat)
Memasuki kota Semarang adalah saat-saat yang menyenangkan. Jalanan yang naik turun menyesuaikan dengan kontur Semarang yang berbukit-bukit, pemandangan yang aduhai dari atas bukit yang menghamparkan pemukiman padat di bawahnya. Meski matahari mulai terik, kami tetap melaju. Tempat pemberhentian berikutnya adalah Tegalsari, dimana kami akan beristirahat di tempat kos teman kami, Pius, barang satu jam dua jam. Setelah mandi dan berganti pakaian, pukul tiga tepat kami siap melaju kembali: menuju Demak!

Saturday, June 18, 2011

Tour de Pantura!

Kali ini, saya akan bercerita tentang perjalanan saya dan Greg menyisiri Pantura alias Pantai Utara yang baru saja selesai hari Sabtu ini saat kami dengan selamat tiba di Klaten dan sejenak melepas lelah bermalam di rumah teman baik kami, Pius dan Victor di desa Karangnongko yang dingin menggigit.
Kami memulai perjalanan ini hari Kamis pagi, berangkat jam tujuh dengan rute yang waktu itu bagi saya tidak masuk akal. Bayangkan: Jogja-Klaten-Boyolali-Salatiga-Ungaran-Semarang-Demak-Jepara-Kudus-Pati-Rembang-Lasem-Blora-Purwodadi-Sragen-Solo-Klaten-Jogja!

Waow! Kami hanya berbekal peta, baju secukupnya dan mengendarai sepeda motor tua milik Greg yang bernama Mbah Kakung, sebuah sepeda motor Honda Supra keluaran 2002 yang sudah sangat renta: tak ada rem baik belakang maupun depan, belum ganti oli, tidak ada shock depan, belum diservis dan kondisi ban dalam belakang yang menyedihkan karena sering bocor.
Saya menelan ludah saat berangkat.
Semoga saja semua baik-baik saja! pikir saya sambil mengelus Mbah Kakung dengan pelan-pelan.
Dan inilah rekam jejak perjalanan kami selama tiga hari yang menantang, tanpa kamera (karena saya ingin lebih banyak bercerita), yang saya sajikan per kota destinasi dengan sedikit cerita tentang ini dan itu, dan tentu saja saya jadi hafal dengan semboyan masing-masing kota yang kami lewati atau kunjungi, selain hafal plat nomor kendaraan setiap kota! :)

Friday, June 17, 2011

Dari Candi ke Candi #5: Pulang!

Setelah mengunjungi Trowulan yang misterius dengan petilasannya, kami lalu beranjak meninggalkan petilasan. Saat melewati Museum Majapahit, anehnya, sekarang museumnya buka!
Jadilah kami masuk ke pelataran Pusat Informasi Majapahit dan tidak bayar tiket masuk karena Puji bilang kalau ia penduduk setempat, dan saya tentu saja langsung berbicara dengan dialek Jawatimuran yang khas. Sayangnya, kami tak boleh mengambil gambar apapun di dalam museum. Jadilah kami melihat-lihat peninggalan Majapahit yang waow itu. Di satu ruangan yang berisi perhiasan, saya terkagum-kagum dengan apa yang telah mereka hasilkan pada jaman itu. Sungguh sebuah peradaban yang telah maju!
Yang aneh bagi saya adalah ditemukannya celengan dari tanah liat yang bentuknya mirip sekali dengan figur Gadjah Mada yang di relief di pendapa Trowulan dan imaji yang selalu familiar di otak kita saat kita mendengar nama Gadjah Mada. Coba sampeyan ingat, jika saya berkata 'Gadjah Mada', maka gambaran yang menempel di otak kita adalah wajah yang bulat dengan dagu besar berlapis dengan pipi tembem dan kepala digelung dan raut muka yang penuh ketegaran dengan mulut terkatup rapat dan mata menyala.
Selalu seperti itu. Dan saat saya mengamati celengan tanah liat yang ditemukan pada masa itu, bentuknya mirip sekali dengan raut muka Sang Gadjah Mada! Saat saya membaca tulisan kecil di bawahnya, di situ tertulis: celengan terakota berbentuk wajah anak-anak Majapahit yang biasanya dipakai untuk tempat menyimpan uang. Hmm, apakah semua anak-anak Majapahit berwajah sama seerti Gadjah Mada? Atau hanya itukah gambaran yang bisa kita dapat tentang wajah-wajah orang Majapahit kuno? Entahlah.

Thursday, June 16, 2011

Dari Candi ke Candi #4: Trowulan

Wah, saya baru sadar kalau saya masih belum menyelesaikan tulisan bersambung saya tentang perjalanan ke Mojokerto: saat saya dan Greg pergi ke Candi Gentong, lalu berlanjut ke Candi Brahu, dan kemudian melancong ke Buddha Tidur.
Jadi inilah ceritanya:
Setelah menengok Sang Buddha Sare, kami melanjutkan perjalanan ke arah Museum Trowulan. Harus menyeberang jalan raya yang besar dan kami semua tak pakai helm. Saya berteriak-teriak kegirangan karena takut dan tertantang. Puji lihai sekali naik sepeda motornya. Sedang Greg yang baru kali ini menyeberang di ruas jalan utama dengan seluruh kendaraan terpacu kencang-kencang juga excited. Wah, bener-bener uji nyali!
Untunglah, kami berhasil menyeberang. Kami memasuki gapura Trowulan dan mampir sebentar di kolam Segaran yang sekarang malah dijadikan area pemancingan bagi para penduduk setempat. Konon katanya di dasar kolam ini tergeletak perhiasan-perhiasan emas peninggalan Majapahit. Saat saya melongok ke dalam kolam yang airnya berwarna hijau itu, saya membatin, siapa ya yang mau menyelam ke dalamnya dan mencari tahu entah apa yang tergeletak di dasarnya. Hmm, bahkan saya agak ragu apakah kolam Segaran ini berdasar atau tidak.

Wednesday, June 15, 2011

Semalam di Pohsarang

*sambungan dari Perjalanan Menuju ke Diri*
Inilah Wisma Mbah Kung yang kami cari. Letaknya persis di depan Gereja Pohsarang. Langsung saja kami masuk dan mencari Nanto yang kemungkinan besar sudah sampai duluan karena ia berangkat bersama pamannya.
Wisma Mbah Kung ini disain bangunannya sangat menarik. Angin selalu bertiup di dalam rumah sehingga suasananya selalu sejuk dan adem.
Nanto bercerita kalau rumah Mbah Kakungnya ini memang didisain untuk tidak menghalangi arus angin yang bertiup di sela-sela perbukitan di belakang rumah. Jadi ketika angin datang dari bukit, langsung ia akan bergerak bebas, masuk ke dalam rumah, berdesau, dan akhirnya keluar. Saya berdecak kagum. Wah, rumah yang ramah dengan jalur angin! pikir saya.
Setelah berkenalan dengan pamannya dan menyantap menu makan siang yang sederhana tapi lezat, kami lantas berjalan menuju Gereja Pohsarang.

Tuesday, June 14, 2011

Perjalanan Menuju ke Diri

Kali ini, saya dan Greg kembali berkelana ke timur, tepatnya di Kediri. Menanggapi undangan sahabat kami, Nanto, untuk berkunjung ke Pohsarang, rumah kakek tercintanya yang katanya juga ikut serta dalam pembangunan Gereja Pohsarang yang unik itu. Sebuah gereja batu-batu yang arsitekturnya bergaya Mojopahit yang dibangun sekitar tahun 1936 oleh arsitek Maclaine Pont. Rencananya kami akan menginap semalam di Wisma Mbah Kung, milik almarhum kakeknya Nanto.
Jadilah kami menunggu kereta Kahuripan yang akan berangkat jam enam pagi dari Stasiun Lempuyangan. Tentang perjalanan ini sendiri pun, saya dan Greg selalu antusias untuk melakukan sebuah perjalanan. Kami bahkan punya terma bernama traveling spontan yang tak diagendakan sebelumnya, melesat begitu saja, langsung pergi ke stasiun dan meloncat ke kereta mana saja yang hendak berangkat, tak berbekal uang banyak (hanya sekitar seratus ribu saja) dan tak membawa baju ganti ataupun bekal. Kami sering melakukan traveling spontan semacam ini, dan salah satunya saat saya tiba-tiba pergi ke Mojokerto bersama Greg dan menginap di stasiun Mojokerto karena kehabisan kereta. Atau saat kami mendadak ingin pergi ke Cetho dan menginap semalam di bawah candinya. Ada banyak traveling spontan yang pernah saya lakukan bersama Greg, dan akan saya tulis ceritanya beberapa saat lagi :)

Monday, June 13, 2011

Spa!

Wah, jadi begini to rasanya spa?
Jadi, dalam seminggu ini, sudah dua kali saya mencicipi spa.
Yang pertama, di D'Omah Spa & Retreat di Tembi.
Dan yang kedua, saya mencoba di Java Garden Spa.

Oke, jadi yang pertama, saya nekat datang ke D'Omah dan meminta Merapi Stone Massage. Setelah selama sebulan menjadi tim wedding di Tembi, sepertinya urat-urat saya mengeras dan kaku-kaku, jadi saya pikir, saya harus coba sesuatu yang agak hardcore, dan saya pilih saja Merapi Stone Massage.
Saya yang baru kali ini datang di tempat spa agak kikuk, datang dengan badan keringetan dan belum mandi, dan agak malu-malu melepas baju dan menggantinya dengan semacam yukata yang ukurannya bagi saya adalah raksasa. Maklum, kebanyakan yang spa di sini adalah para turis asing. Jadi ya tak ada yukata yang berukuran kecil.

Keterkejutan dan kekikukan saya belum berakhir.
Saat saya disuruh duduk dengan belanga terakota berisikan air dan bunga-bunga di dekat kaki saya, spontan saja saya masukkan kedua telapak kaki saya dan AH! PANAS!
Saya terkejut bukan main! P.A.N.A.S!

Sunday, June 12, 2011

Radio oh Radio!

Saya belum pernah bercerita kepada sampeyan ya kalau dulu saya sempat jadi penyiar radio?
Ya.
Jadi, setelah saya lulus SMA, saya tak bisa langsung kuliah karena saya tak punya cukup uang untuk masuk universitas. Jadilah saya mencari-cari kesibukan. Dan saya iseng-iseng datang ke sebuah radio komunitas yang bermarkas di dekat rumah saya, di deretan toko-toko bakpia di sepanjang ruas jalan Pathuk. Waktu itu tahun 2003.
Dan saya tahu kalau ada radio baru yang muncul dan mengudara setiap sore. Jadilah saya beranikan diri saya untuk mendatangi kantornya dan bertemu dengan pemiliknya, dan berbicara panjang lebar tentang ini dan itu, dan akhirnya saya diberi kesempatan untuk menjadi penyiar!
Hmm, sebuah tantangan yang cukup menarik mengingat saya selalu senang mencoba pengalaman-pengalaman baru. Akhirnya, setiap sore jam 3 saya selalu nongkrong di studio radio itu dan belajar tentang mengoperasikan mixer, bagaimana cara memutar lagu, mengatur volume microphone, dan menjawab sms para pendengar. Dan akhirnya saya mendapat jatah siaran setiap malam jam tujuh sampai sembilan, setiap hari.

Saturday, June 11, 2011

Semalam di Cetho

Beberapa waktu yang lalu, saya dan Greg melakukan perjalanan panjang bersepeda motor ke Cetho, di Karanganyar, Jawa Tengah. Cetho adalah nama candi yang menjulang tinggi di sela-sela perbukitan teh yang menghijau dengan jalan yang berkelok-kelok serta udara pegunungan yang segar.
Perjalanan ini adalah salah satu dari sekian traveling spontan yang selalu kami lakukan tanpa uang banyak, tak membawa baju ganti dan hanya menginap semalam saja. Kami juga bermaksud akan bersemadi di candi Cetho, menikmati alam pegunungan dan sekaligus belajar dari penduduk Hindu yang tinggal persis di bawah candi. Sebelumnya saya sering sekali pergi ke Candi Cetho ini karena sewaktu saya masih menjadi guide di Via Via, tur ke Candi Cetho dan Candi Sukuh adalah favorit saya.
Menyusuri perkebunan kopi dan teh yang menggunung hijau menuju Candi Cetho lalu berjalan kaki menyusuri lembah sayur, hutan pinus, naik turun bukit, menyeberangi sungai, dan berakhir ke Candi Sukuh yang erotis, ah! Perjalanan kali ini juga semacam napak tilas pribadi, hendak menyentuh teman-teman lama yang semakin berlumut di puncak sana.

Jadilah kami berdua naik sepeda motor dari Jogja, hujan deras menyertai perjalanan kami, tubuh yang menggigil kedinginan, pantat yang mulai mengeras dan tak nyaman karena lama di boncengan, dan mata yang perih karena kemasukan air hujan. Dan setelah berputar-putar keluar masuk desa dan njajah desa milang kori, kami sampai juga di kawasan Cetho. Hujan masih turun deras dan tanjakan curam yang menuju candi saat itu berwarna tajam dan berbau abu-abu. Sepi. Kelabu. Dingin.

Friday, June 10, 2011

Creambath Gila!

Saya mungkin pernah bercerita kalau saya pernah ratus dan hasilnya menghebohkan. Saya memang termasuk jenis perempuan yang tak pernah ke salon kecantikan, jadi agak gegar budaya dan kadang melakukan hal-hal menggelikan. Maklum, saya biasa potong rambut di salon di kampung saya, yang namanya cukup hibrid, Salon Youkenez, seharga lima ribu saja, tanpa keramas hanya disemprot-semprot air sumur yang dimasukkan ke dalam semprotan pemandi burung dalam sangkar. Sret-sret!

Nah, beberapa hari yang lalu tepatnya dua hari sebelum hari pernikahan, saya diajak Kai untuk potong rambut di sebuah salon di bilangan Gejayan. Dan saya boleh memilih: potong rambut juga atau yang lain. Hmm, setelah saya pikir-pikir, saya akan mencoba layanan creambath.
Ehm, ehm, saya memang belum pernah creambath.
Ya! Saya belum pernah!

Jadi, saya bilang dengan mantap kepada Mbak salonnya, saya mau krimbad.
Mbak salon tersenyum dan memberi saya kain biru yang terlipat rapi:
silakan dipakai Mbak, katanya sambil tersenyum ramah.
Saya segera ambil kain birunya lalu masuk ke toilet, dan saya tidak ngeh dengan apa yang ada di tangan saya.
ROK?
Kenapa Mbak salon itu memberi saya rok ya?
Tapi saya pakai saja, lalu saya keluar dari kamar sambil menenteng celana pendek saya. Dan Mbaknya tertawa terbahak-bahak,
Maaf Mbak, itu untuk kemben, bukan rok.
Saya merah.

Thursday, June 9, 2011

Teman Baru Esiotrot

Hari ini saya punya beberapa teman baru yang mungil dan warna-warni untuk menemani Esiotrot.
Hmm, sampeyan tahu siapa Esiotrot?
Esiotrot adalah nama si kura-kura kecil yang selalu menemani saya kemanapun saya pergi. Ia kura-kura hijau dari giok yang saya dapat dari teman baik saya, Fian, sepulangnya dari Hongkong beberapa tahun yang lalu. Saya suka sekali dengan kura-kura. Saya tak punya kura-kura di rumah, tapi saya punya kura-kura laut besar alias penyu di alam bawah sadar saya. Jadi, pada suatu malam, saya bermimpi saya mendapatkan kura-kura besar yang tiba-tiba turun dari langit. Dan langsung saya pelihara. Saya ajak jalan-jalan, saya beri makan selada, kacang panjang dan tomat segar. Dan saya ajak bercakap-cakap. Beberapa kali saya mimpi pada hari-hari setelahnya, kura-kura besar itu selalu hadir lagi dan ia tumbuh besar dan membesar.
Nah, beberapa hari yang lalu, saya mendapat sepatu kura-kura hadiah dari Michael Hodgkin. Terbuat dari kulit dan berwarna hijau, persis seperti kura-kura!

Wednesday, June 8, 2011

Hah? Saya Gemuk?

Semalam, setelah pulang dari Tembi, saya sengaja mampir ke K-24 untuk membeli multivitamin dan ehm ehm, saya ingin tahu berapa berat badan saya.
Beberapa hari terakhir ini, saya bertemu dengan beberapa orang di kampung, dan mereka selalu berkata,
Vani! Kamu gemuk sekali sekarang! Apa kamu hamil?
Kamu harus sedot lemak! Kebanyakan makan malam!
Bahkan ibu saya berkata, Kamu harus minum teh susut perut!
Dan seterusnya, dan seterusnya.
Ah, ah, ah.
Saya lalu bercermin, dan memang ehm ehm, agak bundar.
Oke, saya memang gemuk.
Setidaknya, kali ini saya memang gemuk.
Sebelum saya bekerja di Tembi untuk mengurusi pernikahan Kai dan Mark, berat badan saya 50 kg, dan ehm, memang sudah cukup besar karena tinggi saya hanya 145 cm. Dan semalam, saat saya menimbang di timbangannya K-24, saya membelalak!
Jarumnya menunjuk ke angka: 55 kg!
Waaaaaaa!
Lima-puluh-lima?
Dalam waktu tiga minggu saya bertambah lima kilo?
Oh, no!
Saat saya sedang banyak tekanan, saya akan makan banyak sekali.
Dan tentu saja, dengan menu makan besar selama tiga minggu ini, bagaimana saya tidak menjadi 55 kg dalam waktu tiga minggu saja?
Plus segala macam emergency chocolate dan es krim dan keju!
Ah! Inilah saat dimana saya merasa sangat besar dan lebar!
Dan saya bahagia!
I enjoy good food, good time, good friends!
Dan saya memakai kebaya baru saya yang saya pakai saat saya wisuda April lalu!
Hmm, saya pikir, i am in a well-shaped, well, round is shape, isn't it? :)
Saya dengan Miriam Scherl dari Austria.

Tuesday, June 7, 2011

Cerita dari Tembi: Ritual Pelukan dan Wig Biru

Wah, setelah hampir sebulan tak menengok si kurakura, saya akhirnya punya sepenggal waktu untuk menulis apa saja yang kemarin saya lakukan di Tembi.
Ya, beberapa minggu terakhir ini, saya sering terlihat mondar-mandir dengan sepeda listrik di sepanjang Jalan Parangtritis atau seputaran Tembi, atau malahan sampeyan akan melihat saya mondar-mandir di Keraton dan Tamansari dengan serombongan tamu dari Australia.

Ya.
Baru kali ini saya terlibat dalam sebuah perencanaan pernikahan yang ajaib, tak ada duanya, dan yang membuat saya belajar banyak hal dan tentu saja bertemu dengan banyak orang-orang baru yang langsung mengisi hati saya dengan cerita mereka masing-masing.
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya di sini, saya memang sedang terlibat dengan tim wedding dari Tembi, ada Bakti yang wajahnya sangat mirip dengan saya hingga para tamu selalu salah memanggil saya Bakti setiap saat. Tapi memang dari dulu kebanyakan orang salah memanggil nama saya, tapi kenapa Bakti tidak? Tak pernah ada cerita ia salah dipanggil dengan nama Vani. Kenapa ya? Mungkin karena ia punya Pablo dan saya tidak.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...