Thursday, May 19, 2011

Setelah Gin dan Tonik


Ah, dada yang berdebar dan bibir yang ingin terus mengecup.
Saya bisa merasakan ada yang berdenyut di setiap pori.
Padahal gin-tonik sangat ringan sekali.
Hanyut seperti kayu terapung-apung di sungai.
Mengikuti gelombang dan kadang timbul tenggelam, basah dan basah.
Saya seperti sebatang kayu kering berongga yang dihuni seekor laba-laba tua.
Laba-laba buta yang kesepian, bergelung di dalam rongga dan berjengit saat air berkecipak.
Yang sarangnya tak lagi terbuat dari benang-benang halus yang ia sulam dengan jari-jarinya,
tapi dengan bibirnya.
Sarang yang melembut dan buncah terkena hujan.
Dan saya, sekali lagi, seperti kayu kering berongga dengan laba-laba tua buta di dalamnya.
Menjalin, memintal udara kosong.
Tak menemukan tangan yang menyambut saat jari menengadah.
Menunggu uluran.
Dan tak ada yang terjadi.
Tak ada.
Hanya air yang menciprati rongga,
dan sekali lagi ia berjengit.
Ah, saya baru saja minum gin dan tonik dan saya sudah bercerita tentang kayu berongga dan laba-laba buta?
Saya sudah mulai gila rupanya!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...