Monday, May 9, 2011

Nenek, Air, dan Buaya

Beberapa hari terakhir ini Jogja berhujan sangat deras yang kadang membuat saya agak was-was, seperti saat Jumat kemarin ketika hujan tak henti-henti mengguyur Jogja sejak Kamis malam hingga Jumat pagi jam sepuluhan. Saya belum siap untuk membangun bahtera nuh, jadi ya berharap saja hujan segera reda hari itu. Tiba-tiba saja saya teringat dengan peristiwa saat saya masih es-em-a di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Mojokerto...

Saat itu saya kelas dua SMA. Dan tak ada tanda-tanda kalau akan terjadi sesuatu yang besar malam itu. Seperti biasa, saya belajar, membaca buku sambil mendengarkan radio transistor tua milik nenek saya malam itu. Nenek juga sedang asyik menonton sinetron setelah pergi ke masjid. Oya, saya hanya tinggal dengan Nenek saya waktu di sana. Tepatnya di sebuah desa kecil berdebu bernama Daleman. Rumah Nenek sangat sederhana, terbuat dari anyaman bambu dan hanya ditembok separuh. Meski sederhana, tapi rumah Nenek selalu nyaman dan bersih. Di belakang rumah ada sumur, lalu pekarangan belakangnya luas ditanami bambu-bambu yang setiap malam daunnya bergemerisik tertiup angin. Nah, lebih ke belakang lagi ada sungai. Kata Nenek saya, sungai itu bermuara ke Sungai Brantas. Saya sering sekali pergi ke sungai dulu. Menulis di bawah rumpun bambu dan melihat orang-orang mandi-mandi atau buang air besar. Sungainya berwarna hijau kecoklatan. Hampir semua orang desa percaya kalau di sungai di belakang rumah Nenek ada penunggunya, seekor buaya putih. Katanya lagi, ada semacam cerukan di lereng sungai tempat tinggal si buaya putih bersama anak-anaknya.
Ah, saya suka dengan mitos dan legenda!

Jadilah malam itu, selepas pukul sembilan, Nenek sedang menyalakan obat nyamuk bakar. Dan itu tandanya, kami harus segera tidur. Kamar saya dan Nenek bersebelahan. Dinding dan pembatasnya terbuat dari tripleks. Beberapa jam berlalu, hingga saya merasa ada yang membangunkan saya. Refleks mata saya membuka. Saya duduk di atas tempat tidur dengan mata masih setengah terpejam karena mengantuk. Saya melihat bayangan saya terpantul dari kaca lemari pakaian tepat di depan saya. Eh, tunggu sebentar. Ada yang aneh.
Saya tidak hanya melihat diri saya yang termangu-mangu di kaca, tapi saya juga melihat sandal jepit saya mengapung.
MENGAPUNG?
Saya melihat ke bawah.
Waow, sekeliling saya adalah air, berwarna coklat keruh, dan sandal jepit serta obat nyamuk bakar yang telah padam terapung-apung. Saya seperti berada di atas rakit, dan saya jadi teringat dengan salah satu adegan dalam film Titanic, saat kapal hendak tenggelam dan ada sepasang kekasih yang sudah tua 'hanya' membiarkan air perlahan-lahan mulai meninggi.
Dan saya seperti sedang berada dalam salah satu bagiannya.
Cukup lama saya termenung, melihat air yang mulai meninggi dan membasahi seprei, sandal jepit yang memukul-mukul tiang kamar, dan...

Tiba-tiba saya mendengar Nenek berteriak-teriak memanggil saya.
Dengan sekali gebrak, pintu kamar membuka dan Nenek berdiri di depan saya. Jariknya basah, kebayanya juga basah. Wajahnya pucat pasi.
Dan saya masih di atas tempat tidur. Tak tahu harus berbuat apa.
Nenek bilang, kita harus mengganjal dapur dengan karung-karung agar air dari belakang tak bisa masuk lebih banyak lagi.
Jadilah saya berkecipak, membuntuti Nenek saya keluar kamar menuju ruang tengah. Dan waow, semuanya terapung!
Buku-buku saya yang ada di bawah meja tivi, alat-alat makan dan alat-alat dapur, tas kresek berwarna-warni yang selalu disimpan Nenek saya juga ikut-ikutan mengambang di mana-mana.
Kami segera bergerak. Bahu membahu memblokir arus air yang deras sekali mengalir dari sungai belakang rumah. Saat karung-karung yang kami tumpuk sudah rapi terpasang di palang pintu, Nenek dan saya berpandangan lega.
Akan tetapi, hanya beberapa detik setelah itu, pertahanan kami jebol!
Air menderas masuk tumpah ruah membuat kami berdua hampir kehilangan keseimbangan. Air semakin meninggi hingga ke perut.
Nenek saya berperawakan kecil dan pendek, jadi kami sama-sama terbenam hingga perut. Dan saya sadar, air akan terus semakin meninggi. Jadi saya lari ke kamar, menyelamatkan buku-buku saya yang berharga dan menaruhnya di puncak lemari Nenek yang sangat besar dan tinggi di ruang tengah.

Kalau sampeyan pernah ke wisata air terjun, pasti terdengar suara gemuruh dari air terjun yang menabrak batu-batu di bawahnya. Dan persis saat itu, suaranya terdengar seperti itu. Dari kejauhan, ada gemuruh yang teredam yang siap membawa apa saja yang ada di hadapannya. Kami masih berkutat menyelamatkan barang-barang di dalam rumah saat ada satu gelombang besar datang dan kami sama-sama bergandengan tangan. Dengan tinggi badan kami yang hanya sekitar 145cm-an, air terus naik hingga ke dada. Sulit sekali untuk berjalan! Air begitu deras di bawah kaki kami. Dan kami sadar, kami harus segera keluar rumah dan mengungsi.

Paman saya datang saat kami sudah mencapai pintu depan. Dengan sigap ia menggendong Nenek dan langsung bergegas menyusuri air yang bergolak. Gelap di luar dan gemuruh masih terdengar. Saya terseok-seok mencari pegangan karena arus semakin deras. Paman kembali lagi dan kali ini setengah menyeret saya. Saya bisa merasakan kaki saya terantuk segala macam benda yang terseret arus. Tapi saya tak tahu dan tak mau tahu itu apa.
Karena saya sedang berpikir, bahwa si buaya putih mungkin juga ikut hanyut dan sekarang sedang berenang-renang di bawah kaki saya!

Kami mengungsi di masjid desa. Lantainya cukup tinggi walau sedikit lagi pasti air akan menggenangi serambi. Dan di kala saya sedang memandangi air yang berpusar dan bergolak di bawah, dan melihat semakin banyak orang yang datang beserta anak-anak dan bayi-bayi, tiba-tiba dari rumah Nenek terdengar Paman saya berteriak keras, BUAYA! BUAYA!

Jantung saya berdegup. Baru saja saya berpikir tentang buaya dan sekarang ada buaya? Ramai-ramai para lelaki turun dan beberapa saat kemudian ada yang berkata bahwa buaya sudah ditangkap. Putihkah warnanya? Mereka tak sempat mengamati apa warnanya karena gelap dan air semakin deras.

Kami menghabiskan malam yang basah dan dingin di serambi masjid. Saat pagi tiba dan air sudah surut sebetis, Nenek dan saya memutuskan pulang ke rumah. Dan rumah Paman saya ramai dikerubungi orang. Saya berlari mendekat. Mana buayanya, mana buayanya?
Dan di tengah kerumunan terbaring seekor makhluk teraneh yang pernah saya saksikan. Ukurannya sekitar 70-80 cm, matanya hijau besar membelalak dan kulitnya hijau seakan berduri. Orang bilang namanya 'nyambik'.
Dan Paman saya berinisiatif memasukkan si buaya kecil ke dalam sangkar burung karena karung tak akan kuat oleh giginya yang tajam.

Dan sampeyan tahu apa yang terjadi sorenya?
Si buaya kecil lepas!
Meninggalkan patahan-patahan dan sangkar burung yang terbelah!
Ah, semoga saja ia bisa pulang ke rumah ibunya dan tak tergoda untuk menyambar apapun di perjalanannya karena pernah ada kasus seseorang yang bokongnya krowak saat ia sedang buang air besar di sungai!

5 comments:

  1. hahahaha :D
    thank you Mbak Miiiiiiiy :D

    Hugs!

    ReplyDelete
  2. yaoloh, bokongnya krowak pas buang aer besar di sungai?? OMG, that's why government campain MCK.. :))

    ReplyDelete
  3. haloo.. salam kenal.. saya suka baca blog-nya... bagus2 ceritanya ;)

    ReplyDelete
  4. hai Neliaaa :)

    makasih yaaaa
    semoga dalam waktu dekat ini kurakurakikuk bisa datang lagi dengan membawa cerita-cerita di punggungnya, salam hangat! :D

    maturnuwun!
    xxx
    vanie

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...