Sunday, May 1, 2011

Mayday, Mayday!

Ada yang terlupa belum saya ceritakan kepada sampeyan pada tanggal 1 Mei ini karena hari ini adalah Hari Buruh! Mayday, Mayday!
Dan saya teringat dengan peristiwa yang agak memalukan, yang terjadi sekitar tahun 2006, bulan Mei juga, tepat pada tanggal 1.
Waktu itu saya masih dibakar oleh gairah idealisme yang berkobar sehingga saya memutuskan untuk mengikuti demonstrasi Hari Buruh yang akan dilakukan tepat jam 12 siang, mulai dari Taman Parkir Abubakar Ali Malioboro hingga berhenti di perempatan Kantorpos Besar 0 kilometer.
Saya mendapat undangan dari teman-teman sesama aktivis mahasiswa yang tergabung dalam gerakan mahasiswa yang sosialis, dan saya mengangguk menyetujui, dan bilang, tepat jam 12 siang saya akan berada di Taman Parkir Abubakar Ali.
Dan, saya datang tepat waktu. Saya berjalan kaki dari rumah menuju Malioboro dengan atribut demonstrasi dan semangat yang memerah membara.
Dan sampai di sana, tak ada apa-apa.
Saya heran. Lho, katanya akan ada demo?
Saya disorientasi.
Wah, sepertinya saya salah kostum, dan tak punya rombongan karena saya datang sebagai diri saya sendiri, dan tak bergabung dalam gerakan.
Setelah menunggu beberapa lama dan nongkrong dengan para tukang becak, akhirnya berpuluh-puluh orang datang serentak berduyun-duyun.
Dan dimulailah demo pertama saya!
Ini pertama kali saya ikut demonstrasi, dan sesuatu yang baru selalu membuat saya bergetar. Ada euforia yang meledak-ledak dan ada sebuah gairah yang menggelegak saat berada di antara massa gerakan mahasiswa yang berjuang dengan jalan yang mereka yakini. Saya bisa merasakan gelombang energi yang luar biasa, lewat papan-papan sederhana yang memuat beribu pesan tentang memperjuangkan hak-hak kaum buruh, tentang mengangkat rakyat miskin, kawula alit, dan akar rumput, dan saya terbakar dengan nyanyian-nyanyian semacam Darah Juang, dan ikut bersenandung karena saya tak hafal.
Saya ikut mengacung-acungkan papan dengan semangat saat long march mulai bergerak memasuki Malioboro. Ratusan orang melihat kami. Dan saat lagu perjuangan selesai, ada lagu baru lagi tentang Rakyat Bersatu tak Bisa Dikalahkan dengan nada yang sangat saya kenal dan saya hafal iramanya.
Saya bernyanyi keras sekali:
Cangkul! Cangkul! Cangkul yang dalam!
Menanam jagung di kebun kita!
Cangkul! Cang...
Saya terdiam.
Beberapa mahasiswa melirik saya dengan tatapan yang aneh.
Saya baru sadar saya salah lirik!
Dan beberapa teman saya tertawa terbahak-bahak.
Ah, saya maluuuu sekali!
Dan sepanjang long march hingga perempatan 0 kilometer saya tak kuasa bernyanyi lagi. Takut salah lirik lagi!

2 comments:

  1. ekekeekek...

    tak apa van. setidaknya ada euforia yang meledak-ledak saat berada di antara massa gerakan mahasiswa yang berjuang dengan jalan yang mereka yakini saat itu. ehehehe

    mana petani dan buruh nya ya??

    ReplyDelete
  2. hahahaha.
    iya itu. euforia dan semangat yang meledak-ledak.

    petani dan buruh?
    mari bernyanyi: cangkul cangkul cangkul yang dalam! :D

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...