Wednesday, May 4, 2011

Masjid Demak yang Agung

Setelah ditilang dengan semena-mena oleh polisi Demak karena kami melewati KTL alias Kawasan Tertib Lalu Lintas kami lalu melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Demak yang merupakan masjid tertua di Jawa yang dibangun tahun 1466, dan singkat cerita, saat tiba giliran saya, maka saya penuhi keingintahuan saya dengan perlahan memasuki pelataran masjid.
Saya yang tak berjilbab, malah memakai rok pendek dan baju pantai biru yang melambai-lambai terang saja langsung menjadi sasaran banyak mata. Hampir semua perempuan yang datang ke Masjid Demak berjilbab, hanya anak-anak kecil saja yang kadang tak berkerudung. Saya melembutkan roman dan terus saja melangkah.
Serambi masjid sedang direnovasi, saya kira, dengan adanya banyak papan-papan tripleks besar dan para pekerja. Toh, banyak para peziarah yang tiduran di serambinya sembari melepas lelah.
Masjid Demak menjadi salah satu lokasi ziarah Wali Songo karena dipercaya di sinilah tempat para wali songo berkumpul dan memulai penyebaran agama Islam di Jawa.

Di komplek masjid ini juga terdapat makam si pendiri Masjid Demak, Raden Patah dari Kerajaan Demak. Waktu saya berjalan ke arah papan penunjuk bertuliskan MAKAM, ada tiga nama tertulis di papan petunjuknya:
R. Fattah (1478 - 1518 M)
R. Patiunus (1518 - 1521 M)
R. Trenggono (1521 - 1546 M)
Sepintas, ingatan saya tentang pelajaran sejarah yang mengupas tentang Kerajaan Demak muncul ke permukaan.
Saat saya tercenung di depan papan penunjuk, tiba-tiba serombongan peziarah datang dan suasana menjadi ramai.
Di depan saya ada semacam rumah, saya melongok dan mengharap bisa melihat makamnya, tak ada. Yang ada hanyalah dua kotak sumbangan besar sekali berwarna hijau pada kedua sisi pintu yang dijaga oleh empat orang laki-laki yang terus-terusan berteriak, shodaqoh, shodaqoh! Salah satu dari mereka membawa tongkat tipis panjang yang selalu dipukul-pukulkan ke kotak sumbangan, mencari perhatian para peziarah.
Saya tak diperkenankan masuk karena tak berjilbab dan pakaian saya sangat tidak muslimah. Tak apalah.
Lalu saya bergegas ke masjid, melepas sepatu dan masuk.
Masjid Agung Demak (foto:wikipedia)
Saat saya memasuki ruang dalam masjid, satu kata langsung terpikir, sederhana.
Ya. Siapa sangka dari masjid inilah dimulainya penyebaran agama Islam yang kemudian populasinya menjadi negara Muslim yang terbesar di dunia.
Negara dengan 88% penduduknya mayoritas beragama Islam, dan bukan negara Islam.
Masjid Demak sangat sederhana, dengan corak yang bersahaja ala pesisir pantai utara. Yang membuat saya tertarik adalah soko guru-nya alias empat tiang utama penyangga masjid yang konon katanya terbuat dari tatal atau pecahan-pecahan kayu yang diikat menjadi satu dan bisa menopang masjid ini lebih dari 500 tahun yang lalu. Soko guru-nya besar sekali. Saya mencoba memeluknya dan sungguh, diameternya sangat besar!
Uniknya, di pilar utama itu terlekat sebuah plat dengan nama masing-masing sunan yang ikut serta dalam mendirikan masjid ini.
Sebelah barat ada Sunan Gunungjati dan Sunan Bonang, sedangkan di sebelah timur tertera nama Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.
Saat saya sedang berdiam diri di pojokan, tiba-tiba ada bapak berperawakan tinggi besar yang bertanya, dari mana Mbak?
Saat saya bilang, Jogja, ia berlalu begitu saja seolah baru saja bertanya tentang dimana letak toilet pria.
Saya sadar, ia adalah pemandu masjid.
Di sampingnya ada dua orang laki-laki denga penampilan perlente dan necis dengan kamera ditenteng. Mereka ingin difoto di dalam masjid, di dekat soko guru dan di depan sebuah kursi besar seperti singgasana raja. Saya kaget, bukannya tidak boleh memotret di dalam masjid? Kan sudah ada larangannya.
Tapi sepertinya bapak pemandu membuatnya menjadi bisa.
Spontan saya berdiri dan mendekat, hendak menguping tentang info menarik apa yang akan disampaikan oleh bapak pemandu.
Dan sampeyan tahu?
Pak pemandu itu langsung ngeloyor menuju pintu.
Saya kejar, dan saya bertanya dengan bahasa Jawa halus,
Pak, yang kursi besar di sana itu namanya apa?
Kursi kencana, jawabnya pendek.
Kalau yang di sebelah kiri mihrab?
Khalwat, jawabnya semakin pendek.
Lalu menghilang di balik pintu.
Ah, sungguh pelit sekali bapak itu untuk berbagi info.
Apa karena saya terlihat seperti tidak-punya-uang-cukup-untuk-membayar-pemandu? Atau karena saya seperti anak kecil dengan baju warna permen dan tatapan mata polos penuh tanda tanya?
Ah, saya toh bisa cari tahu di wikipedia, pikir saya.
Lalu saya sempatkan untuk ber-khalwat, atau berkontemplasi sejenak di dekat mihrab.
Saat saya sudah di luar dan hendak mengambil sepatu, di dekat sepatu saya ada besek yang berisi beberapa lembar seribuan dan banyak recehan. Saya tak bawa uang. Dompet saya ada di Greg yang menunggu saya di warung di depan masjid.
Saya tersenyum manis dan menggeleng saat mas-mas itu menyorongkan besek sambil berkata shodaqoh, shodaqoh.
Saya lalu ke luar.
Dan tersenyum saat melihat Greg yang sudah menunggu.
Saat ke Kudus sudah tiba!
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...