Saturday, May 7, 2011

Kutukan Wage

Saya tak pernah menyangka, perjalanan saya sejak dari Jogja-Solo-Semarang-Demak-Kudus akan berakhir seperti ini.
Saya hampir lupa kalau hari itu Wage.
Dan saya Anak Wage.
Ah, kalau saja saya melihat kalender!

Jadilah, kami pulang sore itu dari Semarang, naik bis yang akan membawa kami ke Solo. Kenapa tak langsung Jogja? Karena sepeda motor Greg ada di Stasiun Lempuyangan dan kalau kami naik bis sampai Jogja, berarti turun di Janti dan akan lebih repot lagi. Bis tak kunjung berangkat juga padahal sudah hampir pukul empat. Menanti apa kau, Pak Sopir? keluh saya.
Kami harus sampai Stasiun Balapan jam tujuh malam paling lambat karena kereta Prameks terakhir berangkat sekitar pukul delapan. Ah, ternyata macet!
Sabtu merupakan mimpi buruk bagi jalan raya Semarang-Ungaran. Penuh, padat, sesak dan tiba-tiba hujan deras!
Kami kelaparan.
Greg bilang, lapar? tidur saja. Klise. Tapi tetap berguna.

Jarak Semarang-Solo yang harusnya ditempuh selama 3 jam molor menjadi hampir 4 jam. Kami sempat tertidur dan tertidur, udara dingin menggigit, jendela berembun, dan kami saling mengaitkan jemari berbagi hangat.
Ah, pukul setengah delapan, bis sudah memasuki kota Solo. Saya tak sabar melihat terminal. Saya bertanya, hujan ndak?
Greg menggeleng, sip, cuaca cerah. Saya girang.

Sepuluh menit kemudian bis masuk terminal, dan kami langsung disambut hujan deras! Tumpah ruah dari langit! Bress!
Saya mengumpat. Kaos basah. Tas basah. Dan kami harus menunggu hujan berubah menjadi gerimis agar kami bisa melesat ke Balapan.
Dan menunggu hujan di terminal adalah (juga) mimpi buruk.
Belasan tukang becak tak henti-hentinya menawari kami. Greg sudah menjelaskan bahwa kami ditilang dsb dsb tapi tetap saja mereka berbicara tentang becak dan ongkos dan sepuluh ribu.
Ah, mereka toh juga mencari rejeki, batin saya. Jadi ya, kami hanya diam sambil berharap hujan mengubah dirinya menjadi rinai gerimis.
Sepuluh menit.
Pukul delapan tepat.
Dan saya langsung lemas, karena Pramex sudah berangkat.

Kami bergegas meninggalkan terminal dengan para tukang becaknya, membiarkan hujan menyirami tubuh dan berlari. Ya. Berlari.
Terengah-engah saya berlari sampai palang kereta api, lalu berlari menyusuri pinggiran rel, memasuki Stasiun Balapan.
Kami terlambat.
Dan sangat lapar.

Kami terduduk di bangku peron dengan lemas.
Oke, apa rencana kita selanjutnya? saya berpikir keras. Saya tahu kalau Balapan dilewati kereta-kereta bisnis dan eksekutif yang akan menuju ke barat, seperti Bandung atau Jakarta, dan tentu saja lewat Jogja. Lalu saya bergegas mengumpulkan info: kereta yang akan ke barat malam ini adalah Mutiara Selatan. Pukul sembilan empat lima. Oke.
Jadi begini rencana saya:
Kami akan nggandhul, alias nunut masuk ke dalam kereta ini, lalu berupaya agar tak ketahuan dan turun di Stasiun Tugu. Greg gamang. Kalau ketahuan kita didenda dua kali lipat harga kereta, padahal harga kereta bisnis seratus ribuan. Saya bilang, kita harus naik, atau bermalam di sini dan diserang dingin bertubi-tubi. Saya mengedipkan sebelah mata, adventour!

Kami menunggu.
Datanglah ia, Sang Mutiara Selatan yang tak lagi gagah.
This is it!
Kami bergegas naik, masuk ke gerbong paling depan dan terperangah!
Satu gerbong banjir! Ada dua petugas kereta yang mengepel gerbong.
Tapi ini kesempatan, kata saya. Kita tak akan dicurigai.
Dan saat kami hendak duduk, kami disuruh pindah, Mbak ke belakang saja, di sini basah semua, tolong pindah.
Ah, sial! Dan saat kami berada di sambungan kereta, ada dua polisi besar muncul.Saya gemetar bukan main. Rasanya seperti saat mengambil barang di supermarket dan menyembunyikannya dalam saku celana yang menggembung.
Dan kami diam. Saya tersenyum dengan pucat.
Dan saat saya sedang berdiri di depan pintu toilet, ada seorang petugas yang mondar-mandir curiga, turun mana Mbak?
Saya berkata, Jogja.
Ia hanya memandang saya sejenak lalu berlalu.
Dan ia tak mau membuat saya tenang, dihampirinya saya beberapa menit lagi lalu berkata, silakan Mbak ke gerbong paling ujung, semua penumpangnya turun di Jogja, jangan di sini, di sana banyak kursi kosong.
Hati saya mencelos.

Saya bingung. Lalu saya bilang dengan Greg, gimana?
Greg mengangkat bahu. Ini pertama kalinya ia naik kereta api bisnis.
Saya lalu bergegas menuju gerbong belakang.
Dan saat saya sudah sampai di tengah-tengahnya, saya sadar kalau saya DIJEBAK! Seluruh penumpang di gerbong paling belakang adalah petugas kereta api! Semua berseragam biru-biru dengan topi!
Saya ingin menangis rasanya!

Seorang petugas menghentikan langkah saya, mau kemana? tolong karcis!
Saya bergetar, lalu saya bilang, saya ingin bertemu dengan kondektur kereta.
Ia menunjukkan seseorang yang berpakaian paling necis di antara semuanya.

Dan dimulailah drama satu babak dalam gerbong paling belakang di atas kereta Mutiara Selatan yang menderu di tengah hujan:

Pak, maaf, kami tak punya tiket.
Kalian mau kemana?
Jogja.
Tak bisa. Tiket mahal dan kamu tahu peraturannya.
Saya mulai memasang tampang memelas, berkaca-kaca, dan menjelaskan dengan detil bahwa kami baru saja ditilang di Demak, kemalaman di bis, kehabisan Prameks, kehujanan, kelaparan, dan sebagai klimaks, saya mengangsurkan beberapa lembar uang sejumlah dua-puluh-ribu rupiah.
Dua puluh ribu rupiah??
Bapak itu meringis melihat uang seribuan yang sudah lusuh sebanyak sepuluh lembar dan dua lembar uang lima ribuan yang tak lagi pantas disebut uang.
Pak, ini sebagai ganti tiket Prameks, Pak. Saya sudah tak punya uang lagi.
Saya berharap bapak bertampang keras ini melunak melihat mata saya yang berkaca-kaca dan suara yang memelas.
Ia mengangguk dan pergi begitu saja.

Saya menghembuskan napas paling panjang yang pernah saya hembuskan.
Kami lemas, seperti cucian yang direndam dalam bak.
Dan sisa perjalanan kami tidur dalam diam. Tak lagi menjalin jemari.
Beberapa saat kemudian kami sudah tiba di Stasiun Tugu, dan ingat, sepeda motor Greg ada di Stasiun Lempuyangan. Jadi, tak ada pilihan lain.
B-e-r-j-a-l-a-n.
Menyusuri Kretek Kewek, Kotabaru, membelok ke Jalan Krasak, langsung menuju ke penitipan sepeda motor.
Saat di situlah saya baru ingat kalau malam itu adalah weton saya.
Wage.
Saya tersenyum pahit.

6 comments:

  1. ya ampun kok mesakke men tho yo van. btw, aku juga anak wage :) aku lahir di hari rabu wage. tapi aku gak tau pernah ato belum pernah mendapati kesialan di hari itu. hahaaa.. karna memang gak pernah ngemati :P
    klo kata iklan di tv sih, derita lo. hihihi :P gpp tho van. ben makin mantab itu kaki. huahaha...
    SEMANGAT!

    ReplyDelete
  2. hahaha :D
    iya to jeng. walah, mungkin aku termasuk wage yang apes :p hehehe. tenan, kesel, ngelih, wah jiaaan, derita satu malam tenan :)
    *inilah mengapa kaki saya besar-besar!*

    ReplyDelete
  3. ceritamu selalu menarik van. ndak bosan untuk dibaca. semangat terus ya buat hidup di negri yang ngeri ini. hehe

    ReplyDelete
  4. @Ika si gadiscoklat : rahasia dong :) pokoke Wage, hehehe.

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...