Thursday, May 5, 2011

Kudus! Kudus!

Setelah mampir ke Masjid Agung Demak dan sempat terpukul dengan pemandunya yang kurang ramah, kami lalu melanjutkan perjalanan. Kali ini dengan ekstra hati-hati agar tak ditilang lagi.
Kami berbelok menuju papan bertuliskan KUDUS, dan waow, kami langsung melewati pasar yang sangat ramai, becek, penuh, dengan jalan yang nggronjal-nggronjal dan penuh lubang.
Namanya Pasar Bintoro.
Saya agak heran juga, wah Demak kecil sekali ya, bahkan saya tak melihat wujud kotanya. Hanya jalan besar, lalu pasar yang tumpah dan macet ini, lalu jalan besar lagi, langsung menuju Kudus!
Ah, saya padahal mencari-cari dimanakah kejayaan Kerajaan Demak tempo dulu yang sangat melegenda itu. Tapi saya tak mendapatkan apa-apa, hanya ada kota kecil yang panas dan pendiam yang sepertinya sudah lelah untuk ikut dalam kompetisi gemerlapnya kota dan pernak-perniknya. Demak menjadi semacam kaki amuba yang ditarik memanjang dari pusat selnya, hanya menjadi perpanjangan dari pertumbuhan kota-kota sepanjang pantura saja.
Meninggalkan jejak kerajaan Demaknya dan menyisakan masjid agung serta makam yang selalu penuh dengan para peziarah.
Ah, tak terasa kami sudah mulai memasuki gerbang kota Kudus.
Di kiri jalan, kanal besar masih menyapa kami, airnya berkilat ditimpa mentari. Saya perhatikan banyak sekali orang yang mandi siang itu. Ibu-ibu dengan jarik yang hanya menutupi sebagian tubuh mereka, anak-anak yang ciblon dan bersendagurau, nenek-nenek tak bertutup dada, ah, hari yang panas untuk bermandi-mandi di kanal, pikir saya.
Begitu masuk kota Kudus, saya serasa mendapatkan atmosfer baru. Ada sesuatu yang tak saya temukan di kota-kota yang lain yang pernah saya kunjungi. Memang, Kudus sudah semarak hari ini, dengan mall-mall besar dan jalan-jalan yang bersih, dan bau harum kretek yang mengambang di lorong-lorongnya.
Menara Masjid Kudus (foto:wikipedia)
Kami muter-muter kota dan tiba-tiba saja sudah masuk ke sebuah gang tua bernama Gang Menara, dan waow, di depan kami ada Menara Masjid Kudus yang terkenal itu!
Batu-batanya yang merah bata mengingatkan saya pada candi-candi di sekitar Trowulan, Mojokerto.
Dan hawanya, sangat, sangat kuno. Meski banyak sekali wisatawan dan para santri yang memenuhi sekitar pelataran masjid, tapi saya tetap bisa menghirup energinya. Masjid ini terletak di Kampung Kauman, sama dengan nama kampung tempat Masjid Demak. Mungkin semua kampung yang dekat dengan masjid dan penduduknya rajin sholat namanya Kauman, ya. Oke, kembali ke menara masjid, saya tertegun sekali dengan kegagahannya. Sosoknya seperti candi anggun dengan beberapa piring biru yang saya percaya adalah porselen Cina.
Saya sempatkan untuk membeli peci untuk ayah saya, lalu bergegas memarkir sepeda motor di belakang menara.
Tentu saja, Kudus juga menjadi lokasi ziarah Wali Songo karena ada Sunan Kudus, tapi lagi-lagi saya tak dapat masuk makam karena saya tak berkerudung dan baju saya tak sesuai.
Saat Greg selesai memarkir motor, kami lalu masuk ke sisi dalam dan berjalan melingkari menara. Saat itulah ada bapak-bapak yang hendak ke masjid karena memang sudah waktunya sholat Dhuhur, melihat Greg dengan seksama.
Aow, dia melihat tato-tato yang ada di lengan Greg yang terbuka!
Ada gentho insyaf rupanya, gumamnya.
Ha-ha-ha!
Saya merasa tak enak karena kami berada di dalam area masjid sedangkan waktu sholat sudah mulai, dan kami hanya berkeliling saja sambil menyentuh batu-bata kuno menara.
Greg bilang, ayo kita makan!
Dan beberapa menit kemudian kami sudah duduk sambil makan nasi bandeng dengan sayur yang disajikan oleh perempuan berkulit putih dan bermata sipit, dan tentu saja bukan orang Cina karena pembawaannya sangat Jawa. Greg melirik saya, ini bukti kenapa di menara ada porselen Cina-nya. Saya tersenyum simpul.
Nantinya, kami akan menjumpai dua klenteng yang ada di tengah kota dan berpapasan dengan banyak orang Cina yang lalu lalang di jalalan kota Kudus. Kami makan dengan lahap.
Di depan kami, menara Kudus tampak gagah berkilau di tengah lalu lalang dan dentum suara bedug azan.
*bersambung*

1 comment:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...