Tuesday, May 3, 2011

Dijebak KTL di Demak!

Jadi, saya akan bercerita tentang perjalanan, lebih tepatnya petualangan saya kira, saat Greg dan saya berkeliling dari Jogja-Solo-Semarang-Demak-Kudus.
Aw! Sungguh hari yang menyenangkan!

Setelah malamnya hujan deras mengguyur Semarang, paginya Greg mengajak saya keliling Semarang dengan sepeda motor milik Pius yang bernomor AD karena dia dari Klaten. Jadilah kami berkeliling kota Semarang yang kontur tanahnya naik turun dan naik turun, waaah! Asyik sekali!
Kami sempat melewati kawasan pemukiman elite yang terletak di atas bukit yang kalau kita melihat ke bawah kita bisa melihat hamparan kota Semarang dengan petak-petak kecilnya, lalu lintasnya, dan sengatan mataharinya yang waaah, panas!

Kami juga melewati Jalan Pemuda yang jalannya besar sekali, Toko Oen (tak sempat mampir), lalu Jalan Ronggowarsito yang waow sekali karena banyak bangunan-bangunan berbata merah yang sangat eropa sekali, lalu tiba-tiba Greg bilang, ayo kita ke Demak!
Berbekal Lonely Planet, kami berdua langsung meluncur ke arah Demak. Kami terus saja berkendara, berselip di antara truk-truk besar dan semakin menjauh dari keramaian Semarang.
Kenapa Demak?
Demak merupakan ibukota kerajaan Islam pertama di Jawa. Dan kami ingin sekali melihat bagaimana ia berdiri sekarang, dan menghirup kejayaan masa lampau. Kami juga ingin mengunjungi masjid tertua di Jawa, Masjid Demak yang dibangun tahun 1466. Yang katanya orang-orang tua, masjid itu dibangun oleh para Wali Songo hanya dalam waktu semalam saja.
Dan saya berteriak kegirangan selama dalam perjalanan karena saya begitu bergetar bahagia hendak merasakan sejarah.
Kami melewati jalan yang seperti tak berujung, berbalapan dengan truk-truk besar yang sopirnya selalu menoleh ke arah saya karena rok saya mini dan baju saya biru sekali dan berkibar-kibar seperti bendera. Kinclong di tengah terik matahari pantura.
Saat kami melewati gapura perbatasan bertuliskan SELAMAT DATANG DI DEMAK! DEMAK KOTA WALI. Saya ber-wooohooo gembira!
Dan setelahnya, kami masih berkendara di sepanjang jalan aspal dengan kanal besar di kiri jalan. Atmosfirnya sudah mulai berbeda dari Semarang. Banyak masjid-masjid dengan kubah berbentuk bawang berwarna-warni. Perempuan-perempuan dengan kerudung warna-warni di kepalanya membawa kerupuk warna-warni yang mengingatkan saya pada suasana pasar Brangkal di Mojokerto, Jawa Timur. Hawanya sangat jawatimur sekali, menurut saya.
Yang paling menarik adalah, sepanjang jalan raya yang dulunya dibangun oleh Daendels yang terkenal dengan Jalan Raya Pos ini, banyak sekali gerobak-gerobak sederhana yang ditarik kuda-kuda coklat dengan sais yang berdiri tegak di atas gerobak sambil menghela kudanya dengan membawa puluhan bambu panjang di atasnya.
Melihat gerobak-gerobak kuda yang berketipuk di sepanjang kanal yang airnya berkilau ditimpa sinar matahari dengan pohon-pohon berdaun kuning di tepinya, saya merasa berada di atas Jalan Raya Daendels itu sendiri.
Semuanya seperti berjalan melambat, dan berwarna sepia, menuju sebuah masa ketika banyak pribumi bercawat dan opsir-opsir Belanda lalu lalang dengan muka garang saat pembangunan jalan raya pos yang kontroversial itu.
Kami juga melewati banyak kedai yang menjual swike, alias kodok goreng. Dan saya, kurang kerjaan, menghitung berapa jumlah kedai swike yang tersebar di sepanjang jalan. Dan waow, delapan kedai!
Saya agak heran, kenapa di Demak orang banyak makan swike padahal sepengetahuan saya makan binatang amfibi semacam katak dalam hukum Islam adalah haram. Ketika saya bertanya kepada Greg, ia bilang mungkin kedai swike itu untuk mengakomodasi para sopir truk yang butuh energi ekstra. Ingat, ini pantura, dan banyak truk yang menuju Jakarta atau Surabaya lewat jalan ini. Saya mengiyakan.
Dan ketika kami sudah semakin mendekati kota, di depan ada dua jalan bercabang terbentang. Lurus masuk kota Demak, ke kanan menuju Kudus. Kami memutuskan untuk lurus. Dan tiba-tiba:
PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!
Empat polisi menghentikan sepeda motor kami dan kami digiring ke tepian jalan. Saya mengumpat, sial!
Greg memperlihatkan semua surat, semacam STNK, SIM bahkan KTP karena sepeda motornya berplat AD, kami orang Yogya dan kami ada di jalanan Demak. Dan Pak Polisi yang gendut itu berkata, silakan membayar limapuluhribu. APA? Saya protes.
Kenapa Pak? Toh surat-surat kami lengkap.
Anda melanggar rambu. Anda tak boleh melewati jalan ini. Ini KTL.
KTL? pikir saya. Saya mengumpat dengan meminjam bahasa polisi, KTL!!!
KTL itu Kawasan Tertib Lalu Lintas. Anda seharusnya masuk ke jalan khusus sepeda motor, tidak boleh lewat jalan ini. Silakan membayar.
Tapi Pak, saya tetep ngeyel, tidak ada rambu-rambunya!
Anda tidak melihat. Ada di sebelah sana. Silakan membayar di sini.
KTL! umpat saya dalam hati.
Greg bilang, lebih baik membayar karena kami sedang dalam in-the-middle-of-nowhere. Saya akhirnya memberikan selembar limapuluhribuan dan karena terbiasa dengan nota, saya bilang, Pak, minta notanya.
Pak polisi gendut itu bilang, tidak boleh, ini untuk bukti di pengadilan.
Sial sial sial!
Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Demak.
Saya masih agak kesal dengan peristiwa penilangan yang semena-mena itu, jadi saya minta berhenti di warung es rumput laut tepat di depan masjid.
Saya makan pisang goreng sambil menikmati es rumput laut, sementara Greg sendirian melihat-lihat masjid. Saya memandang ke sekitar. Saya sedang berada tepat di depan Masjid Agung Demak yang di seberang saya ada alun-alun kecil sekali yang saya kira pastilah ini Alun-Alun Kota Demak.
Sampeyan tahu, saking kecilnya bahkan alun-alun itu tak bisa memuat seluruh 99 nama Asma'ul Husna (nama-nama mulia Allah) yang terpasang mengelilingi alun-alun! Saat Greg datang, ia bilang:
Giliranmu.
Lalu saya beranjak hendak melihat masjid tertua di Pulau Jawa.
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...