Friday, May 20, 2011

Menikah!

Siapa?
Siapa yang menikah?

Yang jelas bukan saya.
Ah, jadi inilah rupanya beberapa alasan dari sekian banyak alasan kenapa saya tak sempat-sempat untuk menulis di ruang ini.
Jadi, saya sedang berada dalam sebuah projek besar yang bagi saya adalah sebuah tantangan sekaligus rejeki.

Ya, saya sedang berada dalam sebuah perencanaan pernikahan, atau bahasa kerennya, saya sedang menjadi wedding planner untuk satu bulan ini hingga Juni besok. Merancang sebuah pernikahan dengan tema Nice & Simple dan porsi pekerjaan yang sangat day-to-day target membuat saya belajar banyak hal.

Oya, maaf saya lupa belum bercerita tentang siapa yang menikah kali ini.
Ialah Kai Hodgkin, seorang perempuan dengan mata lembut dan senyum hidup yang akan menikah dengan Mark Bradley. Dua-duanya berasal dari Australia, dan akan menikah di Jogja. Di sebuah desa yang indah. Yang akan saya ceritakan besok saja biar sampeyan penasaran. Dan mereka sudah punya seorang bayi kecil berumur tiga bulan yang lucu dan menggemaskan bernama Charlie, yang senang ditimang dan berbau wangi.

Dan saya tak bisa bercerita lebih banyak lagi, karena saya harus segera beranjak, mengejar hari, dan menikmati satu ungkapan yang sangat saya sukai: Pressure is My Pleasure!

Saya akan bercerita lebih banyak lagi, besok! :)

Thursday, May 19, 2011

Setelah Gin dan Tonik


Ah, dada yang berdebar dan bibir yang ingin terus mengecup.
Saya bisa merasakan ada yang berdenyut di setiap pori.
Padahal gin-tonik sangat ringan sekali.
Hanyut seperti kayu terapung-apung di sungai.
Mengikuti gelombang dan kadang timbul tenggelam, basah dan basah.
Saya seperti sebatang kayu kering berongga yang dihuni seekor laba-laba tua.
Laba-laba buta yang kesepian, bergelung di dalam rongga dan berjengit saat air berkecipak.
Yang sarangnya tak lagi terbuat dari benang-benang halus yang ia sulam dengan jari-jarinya,
tapi dengan bibirnya.
Sarang yang melembut dan buncah terkena hujan.
Dan saya, sekali lagi, seperti kayu kering berongga dengan laba-laba tua buta di dalamnya.
Menjalin, memintal udara kosong.
Tak menemukan tangan yang menyambut saat jari menengadah.
Menunggu uluran.
Dan tak ada yang terjadi.
Tak ada.
Hanya air yang menciprati rongga,
dan sekali lagi ia berjengit.
Ah, saya baru saja minum gin dan tonik dan saya sudah bercerita tentang kayu berongga dan laba-laba buta?
Saya sudah mulai gila rupanya!

Monday, May 9, 2011

Nenek, Air, dan Buaya

Beberapa hari terakhir ini Jogja berhujan sangat deras yang kadang membuat saya agak was-was, seperti saat Jumat kemarin ketika hujan tak henti-henti mengguyur Jogja sejak Kamis malam hingga Jumat pagi jam sepuluhan. Saya belum siap untuk membangun bahtera nuh, jadi ya berharap saja hujan segera reda hari itu. Tiba-tiba saja saya teringat dengan peristiwa saat saya masih es-em-a di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama Mojokerto...

Saat itu saya kelas dua SMA. Dan tak ada tanda-tanda kalau akan terjadi sesuatu yang besar malam itu. Seperti biasa, saya belajar, membaca buku sambil mendengarkan radio transistor tua milik nenek saya malam itu. Nenek juga sedang asyik menonton sinetron setelah pergi ke masjid. Oya, saya hanya tinggal dengan Nenek saya waktu di sana. Tepatnya di sebuah desa kecil berdebu bernama Daleman. Rumah Nenek sangat sederhana, terbuat dari anyaman bambu dan hanya ditembok separuh. Meski sederhana, tapi rumah Nenek selalu nyaman dan bersih. Di belakang rumah ada sumur, lalu pekarangan belakangnya luas ditanami bambu-bambu yang setiap malam daunnya bergemerisik tertiup angin. Nah, lebih ke belakang lagi ada sungai. Kata Nenek saya, sungai itu bermuara ke Sungai Brantas. Saya sering sekali pergi ke sungai dulu. Menulis di bawah rumpun bambu dan melihat orang-orang mandi-mandi atau buang air besar. Sungainya berwarna hijau kecoklatan. Hampir semua orang desa percaya kalau di sungai di belakang rumah Nenek ada penunggunya, seekor buaya putih. Katanya lagi, ada semacam cerukan di lereng sungai tempat tinggal si buaya putih bersama anak-anaknya.
Ah, saya suka dengan mitos dan legenda!

Sunday, May 8, 2011

Aliran Kaki Besar

Saya punya kaki besar.
Dan saya termasuk anggota aliran kaki besar.
Kaki di sini bukan telapak kaki, tapi betis.
Oke, saya ralat, saya adalah aliran betis besar.

Sekarang ada kuis iseng-iseng saja, silakan sampeyan lihat foto di bawah ini, pertanyaannya sangat gampang, tak sesusah menancapkan ekor keledai dengan mata tertutup, yang manakah kaki saya?
Ah, saya sudah bilang, ini terlalu gampang!
Kadang saya heran juga, kenapa betis teman-teman saya selangsing burung bangau, sedangkan saya sebesar betis kudanil. Ah!

Saturday, May 7, 2011

Kutukan Wage

Saya tak pernah menyangka, perjalanan saya sejak dari Jogja-Solo-Semarang-Demak-Kudus akan berakhir seperti ini.
Saya hampir lupa kalau hari itu Wage.
Dan saya Anak Wage.
Ah, kalau saja saya melihat kalender!

Jadilah, kami pulang sore itu dari Semarang, naik bis yang akan membawa kami ke Solo. Kenapa tak langsung Jogja? Karena sepeda motor Greg ada di Stasiun Lempuyangan dan kalau kami naik bis sampai Jogja, berarti turun di Janti dan akan lebih repot lagi. Bis tak kunjung berangkat juga padahal sudah hampir pukul empat. Menanti apa kau, Pak Sopir? keluh saya.
Kami harus sampai Stasiun Balapan jam tujuh malam paling lambat karena kereta Prameks terakhir berangkat sekitar pukul delapan. Ah, ternyata macet!
Sabtu merupakan mimpi buruk bagi jalan raya Semarang-Ungaran. Penuh, padat, sesak dan tiba-tiba hujan deras!
Kami kelaparan.
Greg bilang, lapar? tidur saja. Klise. Tapi tetap berguna.

Friday, May 6, 2011

Tentang Kretek

Kudus, tentu saja, terkenal dengan kretek.
Saat kami berputar-putar kota setelah mampir ke Menara Masjid Kudus yang dibangun sejak tahun 1549 itu, kami sempat melewati pabrik dan kantor PT. Djarum, salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Kami juga melewati gang kecil bertuliskan GANG NITISEMITO. Mau tak mau, saya langsung ingat dengan artikel kecil yang saya baca sebelumnya.
Nama Nitisemito tak bisa dipisahkan dengan kretek, rokok berbau khas dengan bahan utama tembakau dan cengkeh. Ialah yang pertama kali mengenalkan kretek, tembakau yang ia campur dengan tumbukan cengkeh yang digulung dalam klobot, atau kulit jagung kering. Rokok inilah yang kemudian menjadi andalannya dengan merek Bal Tiga, yang ia jual mulai tahun 1906.
Kudus lalu menjadi pusat industri kretek, bahkan pernah ada 200 pabrik rokok beroperasi. Sekarang hanya tinggal 50-an saja industri rumah tangga dan beberapa industri besar. Rasionalisasi menyebabkan industri rokok kretek kemudian 'hanya' didominasi oleh pengusaha besar, seperti Sampoerna di Surabaya, Gudang Garam di Kediri dan Djarum di Kudus. Nitisemito adalah korban dari industri yang ia ciptakan sendiri dan meninggal dalam kebangkrutan pada tahun 1953.

Thursday, May 5, 2011

Kudus! Kudus!

Setelah mampir ke Masjid Agung Demak dan sempat terpukul dengan pemandunya yang kurang ramah, kami lalu melanjutkan perjalanan. Kali ini dengan ekstra hati-hati agar tak ditilang lagi.
Kami berbelok menuju papan bertuliskan KUDUS, dan waow, kami langsung melewati pasar yang sangat ramai, becek, penuh, dengan jalan yang nggronjal-nggronjal dan penuh lubang.
Namanya Pasar Bintoro.
Saya agak heran juga, wah Demak kecil sekali ya, bahkan saya tak melihat wujud kotanya. Hanya jalan besar, lalu pasar yang tumpah dan macet ini, lalu jalan besar lagi, langsung menuju Kudus!
Ah, saya padahal mencari-cari dimanakah kejayaan Kerajaan Demak tempo dulu yang sangat melegenda itu. Tapi saya tak mendapatkan apa-apa, hanya ada kota kecil yang panas dan pendiam yang sepertinya sudah lelah untuk ikut dalam kompetisi gemerlapnya kota dan pernak-perniknya. Demak menjadi semacam kaki amuba yang ditarik memanjang dari pusat selnya, hanya menjadi perpanjangan dari pertumbuhan kota-kota sepanjang pantura saja.
Meninggalkan jejak kerajaan Demaknya dan menyisakan masjid agung serta makam yang selalu penuh dengan para peziarah.
Ah, tak terasa kami sudah mulai memasuki gerbang kota Kudus.
Di kiri jalan, kanal besar masih menyapa kami, airnya berkilat ditimpa mentari. Saya perhatikan banyak sekali orang yang mandi siang itu. Ibu-ibu dengan jarik yang hanya menutupi sebagian tubuh mereka, anak-anak yang ciblon dan bersendagurau, nenek-nenek tak bertutup dada, ah, hari yang panas untuk bermandi-mandi di kanal, pikir saya.

Wednesday, May 4, 2011

Masjid Demak yang Agung

Setelah ditilang dengan semena-mena oleh polisi Demak karena kami melewati KTL alias Kawasan Tertib Lalu Lintas kami lalu melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Demak yang merupakan masjid tertua di Jawa yang dibangun tahun 1466, dan singkat cerita, saat tiba giliran saya, maka saya penuhi keingintahuan saya dengan perlahan memasuki pelataran masjid.
Saya yang tak berjilbab, malah memakai rok pendek dan baju pantai biru yang melambai-lambai terang saja langsung menjadi sasaran banyak mata. Hampir semua perempuan yang datang ke Masjid Demak berjilbab, hanya anak-anak kecil saja yang kadang tak berkerudung. Saya melembutkan roman dan terus saja melangkah.

Tuesday, May 3, 2011

Dijebak KTL di Demak!

Jadi, saya akan bercerita tentang perjalanan, lebih tepatnya petualangan saya kira, saat Greg dan saya berkeliling dari Jogja-Solo-Semarang-Demak-Kudus.
Aw! Sungguh hari yang menyenangkan!

Setelah malamnya hujan deras mengguyur Semarang, paginya Greg mengajak saya keliling Semarang dengan sepeda motor milik Pius yang bernomor AD karena dia dari Klaten. Jadilah kami berkeliling kota Semarang yang kontur tanahnya naik turun dan naik turun, waaah! Asyik sekali!
Kami sempat melewati kawasan pemukiman elite yang terletak di atas bukit yang kalau kita melihat ke bawah kita bisa melihat hamparan kota Semarang dengan petak-petak kecilnya, lalu lintasnya, dan sengatan mataharinya yang waaah, panas!

Kami juga melewati Jalan Pemuda yang jalannya besar sekali, Toko Oen (tak sempat mampir), lalu Jalan Ronggowarsito yang waow sekali karena banyak bangunan-bangunan berbata merah yang sangat eropa sekali, lalu tiba-tiba Greg bilang, ayo kita ke Demak!
Berbekal Lonely Planet, kami berdua langsung meluncur ke arah Demak. Kami terus saja berkendara, berselip di antara truk-truk besar dan semakin menjauh dari keramaian Semarang.
Kenapa Demak?

Monday, May 2, 2011

My Inspirational Award!

Wah, ini judul saya satu-satunya yang pakai Bahasa Inggris! :)
Biasanya saya ndak pernah pakai Bahasa Inggris untuk judul postingan, namun karena malam ini saya baru saja dapat dua inspirational award dari Mbak Ria Papermoon dan Fian Khairunnisa maka saya dan si kurakurakikuk yang baru saja menghabiskan semangkok sop tomat pedas mengucapkan terima kasih banyak! Maturnuwun :)
What goes around, comes around! :) 
Ini dia:
 
And the rules for this award are:

1.Thank and link back to the person that awarded this to you.
   Maturnuwun Mbak Ria dan Fian! :D

2.Give the award to 10 blogs which are all inspiring in their own ways. ie. fashion, religious, random, islam/religion.
   Dan award ini jatuh pada:
   1. gregsindana!
   2. safaribumi!
   3. kuwacikecil!
   5. picnicgirl!
   6. latarjembar!
   7. jendelajiwa!
   8. jejaklangkah!
   9. episodetu7uh!
  10.conthong!

Selamat ya teman-teman! :)
Menjadi inspirasi bagi satu dan yang lainnya, adalah salah satu bentuk hamemayu hayuning bawana! Memperindah dunia!
Salam hangat!

Sunday, May 1, 2011

Mayday, Mayday!

Ada yang terlupa belum saya ceritakan kepada sampeyan pada tanggal 1 Mei ini karena hari ini adalah Hari Buruh! Mayday, Mayday!
Dan saya teringat dengan peristiwa yang agak memalukan, yang terjadi sekitar tahun 2006, bulan Mei juga, tepat pada tanggal 1.
Waktu itu saya masih dibakar oleh gairah idealisme yang berkobar sehingga saya memutuskan untuk mengikuti demonstrasi Hari Buruh yang akan dilakukan tepat jam 12 siang, mulai dari Taman Parkir Abubakar Ali Malioboro hingga berhenti di perempatan Kantorpos Besar 0 kilometer.
Saya mendapat undangan dari teman-teman sesama aktivis mahasiswa yang tergabung dalam gerakan mahasiswa yang sosialis, dan saya mengangguk menyetujui, dan bilang, tepat jam 12 siang saya akan berada di Taman Parkir Abubakar Ali.
Dan, saya datang tepat waktu. Saya berjalan kaki dari rumah menuju Malioboro dengan atribut demonstrasi dan semangat yang memerah membara.
Dan sampai di sana, tak ada apa-apa.
Saya heran. Lho, katanya akan ada demo?
Saya disorientasi.
Wah, sepertinya saya salah kostum, dan tak punya rombongan karena saya datang sebagai diri saya sendiri, dan tak bergabung dalam gerakan.
Setelah menunggu beberapa lama dan nongkrong dengan para tukang becak, akhirnya berpuluh-puluh orang datang serentak berduyun-duyun.
Dan dimulailah demo pertama saya!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...