Monday, April 11, 2011

Wong Ponorogo

Kakek saya asalnya dari Ponorogo.
Kakek yang saya maksud ini dari ibu saya. Kakek saya yang asli Ponorogo ini meninggal tiga tahun yang lalu. 
Saya menulis ini karena saya kangen dengan kakek-kakek saya.
Ya. Saya sudah tidak punya kakek lagi.
Kakek yang asli 'wong Ponorogo' sudah meninggal tahun 2008, dan kakek saya yang di Mojokerto juga sudah meninggal dua-duanya. Ya, saya memang punya tiga kakek dan tiga nenek. Dan ketiga kakek saya semua sudah meninggal, plus satu nenek. Tinggal dua nenek saja yang saya punya. Kadang kalau saya sedang di jalan, lalu berpapasan dengan kakek-kakek, saya selalu menyapa dengan senyum. Kadang saya mbrebes mili kalau melihat kakek-kakek mengemis di jalan.
Pernah waktu ada acara Yayasan Pondok Rakyat di Karta Pustaka, ada seorang kakek yang mirip sekali dengan kakek saya yang dari Ponorogo itu. Waktu itu si kakek mengenakan sarung kusam berwarna biru yang sudah mangkak, memakai pecis hitam dan sebatang tongkat ada di tangannya. Dari penampilannya saya yakin 100% kalau si kakek pengembara ini dari Jawa Timur. Waktu saya dekati dan saya tanya pakai bahasa Jawa Timuran, kakek itu tampak terkejut.

Sampeyan seka endi Mbah?
Oh, aku seka Bangil.
Oh, Pasuruan.
Iyo, nak, luesu aku, onok sega ta opo?
Inggih Mbah.

Saya bergegas pergi dan kembali dengan sepiring nasi penuh dengan lauk pauk dan segelas teh panas. Saya bilang kalau saya tak bisa memberi uang, tapi saya bisa memberi makan. Saat si kakek makan dengan lahap, saya ajak dia ngobrol.
Saya baru tahu kalau si kakek ini berkelana, naik apa saja, berjalan kaki, terseok-seok dengan tongkatnya, dari Bangil sana. Katanya mencari anaknya yang ada di Jogja, tapi tidak pernah ketemu.
Saat saya perhatikan wajah si kakek, ah, persis sekali dengan kakek saya yang asli Ponorogo itu. Kulitnya coklat legam penuh dengan kerutan, bibirnya yang menghitam, sarungnya, ah, saya jadi teringat kakek.
Almarhum kakek saya, Mbah Kaulan.
Kakek saya, Mbah Kaulan ini sakit stroke sejak tahun 1991. Hanya gara-gara salah pijat, lalu kakek saya lumpuh separuh. Dan kakek saya selalu berjalan dengan tongkat kemanapun ia pergi. Kalau berjalan sangat pelan sekali, karena ia harus mengangkat kaki kirinya yang lemas, lalu berjalan terseret-seret. Ah, saya jadi ingat bagaimana ia mengangkat ujung sarungnya, lalu berjalan perlahan-lahan. Saya juga sering menggunting kuku-kuku kaki dan tangannya setiap bulan. Meraba tangan-tangan dan kuku-kuku yang sudah lemas dan kisut. Saat kakek saya sakit keras, saya sempat menengoknya di Pantirapih, dan kata dokter, kakek sudah membaik, tetapi kemudian, kakek sudah tiada. Dan meninggalkan tangis diam nenek saya.
Ah, semoga kakek saya damai di sana.
Dan semoga kakek saya bisa berjalan lagi di sana, tanpa tongkat.
Amin.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...