Monday, April 18, 2011

Seorang Cina di dalam Kurungan Ayam

Tam Lum, sang Chickencoop Chinaman.
Apa?
Seorang Cina di dalam kurungan ayam?
Ya. Alias Chickencoop Chinaman.
Sebuah naskah pertunjukan yang ditulis oleh Frank Chin yang membuat saya sangat tertarik untuk memvisualisasikannya.
Dan catatan ini adalah untuk mengapresiasi sebuah karya dan kerja keras kami, saya dan teman-teman angkatan 2005 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Sanata Dharma yang mementaskan karya ini pada tahun 2008 yang lalu.
Sebuah cerita tentang seorang Cina-Amerika bernama Tam Lum, seorang filmmaker yang ingin membuat film dokumenter tentang seorang petinju berkulit hitam bernama Ovaltine. Ia pergi ke sebuah ghetto di Pittsburgh dan menumpang sementara di rumah sahabatnya, seorang Jepang-Amerika bernama Kenji yang tinggal dengan pacarnya, Lee yang punya seorang anak bernama Robbie. Permasalahan muncul karena Charley Popcorn, ayah Ovaltine tak mau anaknya difilmkan oleh seorang Cina-Amerika.
Saya pertama kali menemukan dan membaca naskah lengkapnya di perpustakaan kampus, dan langsung saja saya jatuh hati dan sudah bisa membayangkan akan seperti apa scene-scene-nya di panggung. Waktu itu saya kebagian jadi sutradara, dan karena tim kami waktu itu hanya beranggotakan empat laki-laki saja, maka saya berinisiatif untuk melakukan sedikit perubahan pada naskahnya.
Jadilah karakter Ovaltine, si petinju yang akan difilmkan Tam Lum saya hilangkan, dan saya ganti dengan karakter Gypsy Girl. Lalu anak laki-laki Lee, yang bernama Robbie saya ganti dengan anak perempuan, Roberta.
Lone Ranger dan Tonto, si kuda psikedelik.
Waktu itu, saya sangat dipengaruhi oleh semangat psikedelik yang dibawa oleh Beatles pada album Sgt. Pepper Lonely Heart Club Band, Jimi Hendrix, Bob Dylan, Janis Joplin dan Rolling Stone. Jadi, pada adegan limbo, saat Tam Lum berfantasi bertemu dengan jagoannya, Lone Ranger, seorang koboi dengan kuda setianya, Tonto, saya masukkan musik-musik psikedelik ke dalam panggung dan saya gunakan LCD projector untuk memproyeksikan warna-warni psikedelik yang langsung ditembakkan ke atas panggung, hingga bias cahayanya akan mengenai karakter-karakter di atas panggung.
Untuk pembagian stage-nya, saya sangat senang dengan pembagian ruang. Jadi, satu panggung saya bagi jadi satu hingga tiga ruang, agar penonton bisa melihat dengan konteks ruang yang berbeda namun pada saat yang bersamaan.
Gypsy Girl, si penari perut yang cantik dan seksi.
Ada beberapa kejadian lucu saat kami pentas. Saat adegan Gypsy Girl sedang menari, seharusnya langsung ada proyeksi gambar psikedelik warna-warni yang disorotkan oleh Uuth yang bertugas untuk mengatur sorot LCD projector dan mengoperasikan laptop di depan panggung. Namun, ketika LCD projector sudah menyala, tiba-tiba DENG! DENG! VIRUS DETECTED! Ada logo peringatan besar berwarna merah dengan segitiga dan tanda seru besar. Tentu saja semua penonton melihat sorotan logo itu di atas panggung. Semua penonton tertawa geli, namun tarian Sang Gypsy Girl terus berlangsung.
Belum lagi saat tiba-tiba ada kucing yang nyelonong dan muncul di atas panggung, lalu berjalan pelan-pelan dan malahan menjadi bagian dari setting ruang tamu Kenji. Atau saat kemunculan beberapa burung layang-layang yang mengepak-epak di atap panggung. Maklum, aula yang kami pakai sebagai tempat pementasan sudah lawas dan konon katanya memang berhantu. Hiii....Ah, saya tiba-tiba ingat dengan latihan-latihan kami setiap malam selama satu semester di koridor-koridor kampus yang sepi dan mencekam kalau lewat jam 9 malam, teringat dengan beberapa teriakan marah, tawa riang, tangisan yang berderai atau gerutuan yang selalu mengiringi proses kerja kami dalam menyiapkan pementasan ini.
Saya sangat menikmati prosesnya, semangatnya, dan segala rasa yang pernah saya rasakan saat menyutradari pementasan ini. Bahwa saya juga berharap bahwa ada sesuatu yang bisa dibawa pulang oleh para penonton yang malam itu memenuhi aula. Apakah tentang wacana perbedaan ras, diskriminasi, semangat psikedelik yang saya tawarkan sebagai sebuah alternatif atas pemilihan musik dalam pementasan play performance, atau beberapa properti aneh yang dipakai seperti kurungan ayam raksasa dan kuda berwarna pink menyala milik Lone Ronger, si koboi dari Amerika.
Saya juga hendak berterimakasih kepada teman-teman saya tercinta yang telah banyak mengajari banyak hal selama proses penciptaan karya itu berlangsung, dan tetap menjadikan momentum Chickencoop Chinaman sebagai sebuah suvenir atas perjalanan lima tahun berkuliah di Sanata Dharma.
Terima kasih!
Jauh di mata, dekat di hati!
Adegan Tam Lum saat di pesawat hendak menuju Pittsburgh.
Adegan Tam Lum dengan Hong Kong Girl,
si pramugari robotik dalam pesawat.
Kenji, Roberta dan Tam Lum.
Lee, pacar Kenji yang tak terlalu senang dengan kehadiran Tam Lum.
Pada akhirnya Tam Lum pergi, namun Roberta terlanjur suka dengan Tam Lum.
Saat Gypsy Girl dan Tam Lum bertemu
dalam iringan musik psikedelik yang membius.
Charley Popcorn yang marah melihat anaknya
berdansa dengan si "Cina" Tam Lum & si "Jepang" Kenji.
Adegan limbo saat Tam Lum berfantasi
bertemu dengan pahlawan masa kecilnya, Lone Ranger dan Tonto.
Empat karakter dengan empat ruang yang berbeda.
'I know my punch won't crack an egg,
but I will never fall down! Because I am the one and only:
The Chickencoop Chinaman!!!'

Seluruh tim Chickencoop Chinaman:
Danconk, Pilus, Kothak, Deny, Sekar, Siska, Tunjung, Jojo,
Joex, Uuth, Datia, Rimas, Kanya, Septi, Yayas, Bere, Lara,
dan saya! :)

Semua foto saya ambil dari album fotonya Rimas dan Yayas :)
Catatan:
Teman-teman saya di atas sudah lulus semua dan mempunyai kehidupan mereka masing-masing, tetapi satu yang pasti: jauh di mata dekat di hati! :)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...