Friday, April 29, 2011

Semarang!

Ini kali ketiga saya pergi ke Semarang.
Yang pertama, dulu sekali, sekitar Agustus 2007. Waktu itu kami berempat naik motor dari Jogja menuju Semarang dengan tujuan pergi ke Kota Lama dan Lawang Sewu. Victor, Pius, Greg dan saya.
Yang kedua, November lalu saat saya hendak ke Bali dan harus transit ke Semarang dulu karena pesawatnya hanya akan berangkat dari Semarang sehubungan dengan meletusnya Merapi.
Dan sekarang, saya sedang menulis huruf-huruf elektrik ini di kamar kos sahabat saya, Pius, sementara Greg dan Pius sedang entah di luar sana. Semoga mereka membawa mantol karena di luar hujan deras plus geledeg mahabesar bertempur di atas sana.

Saya jadi ingat bagaimana tadi pagi, kami berangkat ke Stasiun Lempuyangan dengan penuh semangat karena pada malam sebelumnya, kami survey kereta dan si petugas stasiun berkata kalau kereta Banyubiru tujuan Semarang sudah tidak beroperasi lagi karena sepi penumpang. Dan si bapak menyarankan agar kami berangkat via Solo lalu pindah kereta Pandanwangi yang langsung menuju Semarang. Bapaknya menambahkan, pemandangannya bagus Mbak, gunung-gunung, sawah. Kami semakin bersemangat.

Dan jadilah kami naik Prameks ke Solo, bertolak dari Lempuyangan tepat pukul 10.41 dan tiba di Balapan satu jam kemudian. Kami bergegas menuju loket untuk membeli tiket kereta Pandanwangi.
Saya sempat curiga karena tak ada tulisan atau tanda-tanda "Pandanwangi" atau "Semarang berangkat 12.30". Lalu saya putuskan untuk bertanya kepada mbak-mbak berlipstik tebal penunggu loket Prameks.
Dan jawabannya adalah:
Tak ada kereta ke Semarang hari ini, Mbak, tidak ada rangkaian.
APA?
Wah, tidak ada rangkaian? Maksudnya relnya tidak ada, begitu? pikir saya.
Lalu kami berembug, dan tak ada pilihan lain: naik bis.

Kalau sampeyan hendak menuju Terminal Tirtonadi dari Balapan, akan lebih hemat dan seru kalau jalan kaki saja. Karena ternyata dekat sekali. Jadilah kami berjalan, dari dalam stasiun, menyusuri rel, melewati Pasar Sidomulyo yang isinya besi-besi bekas dan berat yang berkarat, lalu belok kiri menuju arah terminal. Sempat kami kelaparan dan mampirlah kami ke sebuah warung sederhana di seberang Gereja Bethel. Si penjual adalah simbok bertubuh besar khas wanita Jawa yang duduk menghadapi dua anglo yang menyala. Tangannya cekatan dan suaranya lantang. Kami memesan sepiring nasi dengan sayur lodeh terong dan tempe gembus. Serta teh nasgithel - panas, legi, kenthel.

Waow!
Enak sekali! Lodehnya pedas, santannya kental, dan gembusnya gurih!
Saat mencicipi tehnya, hmmm, sangat nikmat!
Dan sampeyan tahu, untuk semuanya kami hanya membayar tujuh-ribu saja.
Dua piring nasi-lodeh-terong, gorengan tiga, dan segelas teh nasgithel.
Silakan mampir kesana kalau sampeyan lewat! :)

Dan selanjutnya kami sudah berada di terminal dan meloncat ke dalam bus Rajawali. Saya tidur dalam setengah perjalanan karena saya selalu tidur di atas benda yang bergerak. Sedang Greg seperti biasa bersenandung sepanjang perjalanan sambil menikmati pemandangan.

Kami turun di Sukun, setelah Jamu Jago, dan langsung naik angkot jurusan Johar dan turun di depan Java Mall karena kos Pius lumayan dekat dari situ. Dan inilah saya, masih mengetik, belum cuci muka, belum mandi, sambil ngemil kacang mete dan menikmati suara hujan dan gemuruh sembari menunggu Greg dan Pius yang semoga tidak basah kuyup di luar sana.

Semoga malam ini terang agar kami bisa berjalan-jalan menikmati Semarang saat malam. Kalau masih hujan, ah, masih ada hari esok! :)

2 comments:

  1. vaniii.. itu baca aja blog postku.. ada caranya kok buat dapetin giveawaynya. read carefully.

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...