Sunday, April 24, 2011

Mencret di Bandung

Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke Bandung. Hanya sehari saja dan bermalam di kereta. Saya juga sempat mampir ke rumah Amanda dan sarapan roti Gempol yang enak dan mengenyangkan itu. Oya, Amanda waktu itu sempat meminta saos yang wadahnya seperti jerigen kecil. Dan waow! Saos roti Gempol enak sekali! Saos sambalnya tebal dan pedas manis, ada banyak rasa tomat dan cabai dengan proporsi yang sempurna menurut saya. Wah, saya kan suka sekali tomat! Jadilah saya menuangkan banyak-banyak saos sambal roti Gempol dan mencolek-coleknya dengan brown bread yang dilelehi keju dan mayones, slurp!
Setelah makan roti Gempol, jadilah kami berdua balik lagi ke rumah Amanda. Ngobrol-ngobrol, ngeteh dan makan camilan.
Amanda mengeluarkan bungkusan dari lemari esnya. Katanya, ini enak Van, pedes tapi enak. Saya melirik ke bungkusan plastik yang mendingin karena sempat tidur di dalam kulkas beberapa lamanya.
Ada tulisannya: keripik seuhah.
Saya tanya, apa sih seuhah itu? Bahasa Sunda ya?
Amanda bilang, seuhah itu pedas sekali, seperti kalau kita kepedasan maka kita huaaaah huaaah pedhaaas!
Oh, saya coba ya.
Jadilah saya makan satu. Ah, ternyata ini mah ceriping ketela yang dibumbui cabe bubuk yang banyak, pikir saya. Belum terasa pedas. Saya comot sekali lagi. Enak. Pedasnya kerasa. Tiga kali. Wah, seuhah!
Saya asyik comot-comot si seuhah ini sampai akhirnya saya benar-benar huaaah huaaah dan langsung menghabiskan teh hangat saya dalam sekali teguk. Saya berseru, wah, bener-bener pedas!
Tapi saya belum kapok, setelah rasa pedasnya reda, saya comot lagi, lagi dan lagi. Dan saya ber-huhah-huhah lagi. Dan kali ini saya akhiri dengan mantap.

Dan ternyata saya kena getahnya.
Saat saya berada di mobil panitia Bandung Wayang Festival dalam perjalanan 20 km keluar dari kota Bandung menuju Kota Baru Parahyangan di daerah Padalarang, saya mulai mulas. Buru-buru saya ambil minyak kayu putih dan saya oleskan di perut. Saya ingin sekali kentut, tapi saya tahu kalau kentut saya akan super bau karena perut saya melilit, dan saya merasa jahat kalau saya benar-benar kentut di dalam mobil padahal ada dua laki-laki tampan di baris depan. Ah, saya tersiksa sekali. Perut melilit dan rasanya harus ke toilet. Jadilah bolak-balik 40 km menuju stasiun Bandung saya hanya meringis dan menahan agar tidak mbrojol di dalam mobil.

Begitu sampai stasiun, langsung saya ngacir mencari toilet. Saya cari kemana-mana, sempat salah toilet laki-laki yang berdiri itu alias urinoir. Ah! Ayooo! Pertahanan saya hampir jeboooool!

Akhirnya saya menemukan toilet wanita dan dua-duanya sedang dipakai. Sial! Saya tunggu semenit, lima menit, tujuh menit, saya hampir gila!
Langsung saja saya ketok-ketok dan bilang, Mbak, gantian dong Mbak.
Beberapa detik, pintu toilet membuka. Saya siap didamprat karena tidak sopan menggedor-gedor pintu toilet. Dan saya siap.

Sampeyan tahu siapa yang ada di dalam toilet?
Keluarlah gadis kecil berseragam merah putih SD dengan tatapan polos.
Waaaah, lama sekali si gadis kecil itu di dalam!
Langsung saja saya masuk, tutup pintu, jongkok, dan aaaaaaaaaaaah!
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Saya mencret tiga kali dan toilet sudah bau minyak kayu putih bercampur dengan gas amonia. Ah, perut saya masih melilit, tapi saya sadar kalau saya berada di dalam toilet terlalu lama. Buru-buru saya buka pintu dan waow!
Ada lima perempuan yang menahan marah begitu melihat kepala saya nongol dari balik pintu toilet. Saya meringis sambil bilang maaf maaf.

Aaaah, untunglah beban saya berkurang.
Saya lalu makan malam, minum jus jambu sesuai anjuran teman baik saya, Heni, dan minum Diapet. Saya lalu menunggu kereta di peron. Tiba-tiba saja, saat kereta sudah siap dan penumpang sudah masuk gerbong, keinginan untuk mencret datang lagi. Aaaaah, saya harus segera masuk ke toilet kereta!
Langsung saya masuk gerbong eksekutif dan masuk ke toilet yang baru saja dibersihkan petugasnya. Bahkan petugas kebersihan kereta masih ada di dalam membawa pel saat saya hendak nyelonong masuk.
Dan saya mencret lagi!
Aaaaaaah!

Saat sudah selesai, saya baru sadar kalau kereta masih diam tak bergerak di dalam stasiun. Dan saya membayangkan sisa-sisa saya tergeletak hangat di atas bantalan rel kereta api di dalam Stasiun Bandung.

2 comments:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...