Friday, April 8, 2011

Ketika Ibu-Ibu Turun ke Jalan setiap Jumat

Jumat minggu kemarin, pagi-pagi saya bersepeda ria keliling alun-alun dan pasar. Setiap saya meluncur di jalanan, saya selalu melihat serombongan ibu-ibu berpakaian lusuh dengan buntalan kain diselempangkan di pundak. Kebanyakan dari mereka berombongan 4-5 orang. Memakai rok-rok berwarna tanah dan topi lusuh. Beberapa di antaranya menggendong bayi dalam kain jarik yang juga ndak ketahuan warnanya.
Ah, ibu-ibu yang kembali turun ke jalan setiap Jumat.
Saya membatin.
Saya pernah menulis juga tentang ibu-ibu yang turun ke jalan, tetapi kali ini agak lain. Ibu-ibu ini hanya keluar setiap Jumat dalam jumlah besar, berombongan dalam kelompok 4-5 orang, memakai topi dan menggendong bayi, sambil membawa bungkusan tas kresek berisi botol air mineral bekas berisi air putih atau teh.
Dan rute yang saya lalui pagi ini adalah seputar Jalan KHA Dahlan, Gerjen, Ngasem, Nagan, Alun-Alun Kidul dan setiap saya berbelok, meluncur, dan menyeberang, saya selalu berpapasan dengan para ibu-ibu ini.
Mau tidak mau, saya jadi ingat dengan sebuah pengalaman saya saat saya berumur sebelas tahun, tepatnya saat bulan Ramadhan.

Sampeyan percaya tidak?
Saya juga pernah melakukan hal yang sama.

Dan saya juga berjalan kaki keluar masuk kampung mencari sedekah.

Jadi begini ceritanya,
Di kampung saya, saat saya berumur 11 tahun, ada sebuah kegiatan yang saya ndak tahu darimana asalnya, yang dipelopori oleh ibu-ibu dan simbah-simbah setiap sholat Shubuh berjamaah.
Jadi, setiap Shubuh (apalagi hari Jumat) rombongan ibu-ibu itu akan berkeliling masjid di sekitar kampung saya, dan nantinya mereka akan antri sedekah.
Biasanya si imam atau si orang kaya itu akan membagikan sedekah berupa uang atau beras kepada setiap jemaah yang hadir. Pernah suatu waktu kami mendapatkan lima ribu rupiah per orang, pernah juga mendapat beras sekilo per orang, setiap pagi di bulan Ramadhan.

Kejadian yang saya masih ingat dengan jelas adalah,
waktu itu Jumat siang, entah bagaimana, nenek saya mengajak saya untuk menemaninya berjalan kaki mencari sedekah katanya. Saya sih ayo saja.
Jadilah kami kumpul di lapangan SMA 10 dekat rumah, lalu ada seorang ibu gendut yang mengorganisir kami, lalu mulailah kami berjalan kaki.
Mula-mula ke arah Jalan KHA Dahlan, mengetuk pintu-pintu, lalu menuju ke arah Gerjen alias Jalan Nyi Ahmad Dahlan, mengetuk pintu-pintu, lalu berjalan kaki lagi ke arah Pasar Ngasem, mengetuk pintu-pintu, hingga berbelok ke arah kanan, melewati pasar hewan, dan berhenti di depan rumah megah yang konon katanya milik kakak Soeharto, yaitu Probosoetedjo.


Wah, saya ternyata pernah mengemis ya.
Dan kalau saya ingat-ingat lagi, kami terkadang harus menunggu lama sampai pintu dibuka, lalu si pemilik rumah biasanya kaget melihat kami yang berombongan, dan saat melihat saya biasanya langsung iba.
Hmm, jangan-jangan waktu itu saya diajak untuk dijadikan umpan ya.
Saya kan waktu kecil dulu kecil sekali, seperti anak cacingan.


Dan saat saya berjalan sendirian atau bersepeda seperti kemarin, saya seperti deja vu, melihat rumah-rumah yang pernah saya ketuk, pintu-pintu yang pernah saya tunggu untuk membuka di bawah teriknya matahari. Saya ingat dan saya tahu bagaimana rasanya.


Jadi, saat saya melihat rombongan ibu-ibu yang turun ke jalan pagi itu, saya seperti melihat saya di tengah rombongan itu, menggandeng tangan kurus nenek saya, dan berjalan setengah berlari karena langkah kaki saya kecil-kecil...

5 comments:

  1. wah mengharukan ... mengingat masa lalu selalu saja membuat semua menjadi ... T.T

    ReplyDelete
  2. Jempol buat tulisannya Jeng Vanie! Jeng, ada yang berubah ndak keadaan sekarang dengan yang ada dalam ingatanmu...?

    ReplyDelete
  3. merana sekali itu hidup... ngunu

    ReplyDelete
  4. ehm.. rok warna tanah.. coklat dong mb
    besok njajal liat juga ah

    ReplyDelete
  5. @ Banna: wah, ini saya bawakan tisu :) hehe
    @ Monika: iya jeng, perbedaannya adalah, sekarang tambah banyak, dan SELALU hari jumat, jadi tak hanya di bulan Ramadhan saja.
    @ Gugun: kalo mereka menikmatinya piye hayo Gun?
    @ Ika: iya, maksudnya tuh mbladhus dan sudah mangkak gitu loo :) hehehe, di-observe aja :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...