Sunday, April 3, 2011

Kenapa Saya Takut Tikus?

Ya.
Saya memang takut tikus.
Apalagi saat saya bersepeda, dan di tengah jalanan Jogja selalu ada bangkai tikus yang sudah dhedhel dhuwel entah terlindas mobil, gepeng dan iiiih, membayangkannya saja saya sudah bergidik.

Saya punya pengalaman buruk nan traumatis sehubungan dengan mamalia pengerat itu. Saya masih ingat, waktu saya kelas empat SD, keluarga saya yang sedang jatuh bangkrut pindah ke rumah nenek saya karena tak mampu sewa rumah, jadilah kami sekeluarga dengan empat orang anak termasuk saya tidur berdesak-desakan di satu kamar.
Dan saat itu, saya kebagian tidur di bawah, tepat di dekat longan atau kolong tempat tidur. Jadi, kalau saya menengok ke sebelah kiri, saya akan melihat seprei yang menjuntai, nah kalau seprei itu saya buka, saya akan melihat kolong tempat tidur yang gelap dan penuh sarang laba-laba. Nah, kalau saya melihat kanan, saya akan melihat tembok. Dan tempat saya berbaring setiap malam saat itu hanya bisa untuk telentang dan tengkurap. Tak bisa nungging, posisi angka empat, atau kaki menganga. Jadi saya selalu diam tak bergerak kalau tidur, dan itu sangat menyiksa, karena saya kalau tidur cukup aktif. Kaki menjejak kemana-mana, tubuh memutar 180 derajat, dan tangan melambai-lambai.
Nah, suatu malam, saya sedang siap-siap hendak tidur seperti biasa, dan saat sudah tidur entah sampai jam berapa, tiba-tiba saya mendengar bunyi BUK!GEDEBUK! Saya njenggirat kaget. Saya kira adik saya yang bayi jatuh dari tempat tidur, ternyata saya melihat seekor tikus besar wirog jatuh dari langit-langit (yang adalah loteng tempat ayah saya tidur) dan jatuh tepat di atas dada adik saya yang masih bayi! Saya spontan berteriak! Dan ibu saya juga bangun. Gaduh muncul di tengah malam tiba-tiba.
Lalu tenang kembali, seolah tak ada apa-apa.
Hingga pagi tiba.
Dan saat pagi itu tiba, entah kenapa saya kok merasa tidak enak. Seperti ada yang mengawasi saya dari balik seprei yang menjuntai, jadilah sambil berbaring karena masih ngantuk, saya buka sepreinya dan saya menjerit keras sekali! Ada TIKUS BESAR tergeletak di samping saya!
(saat saya menulis ini saya sangat bergidik hingga bulu kuduk saya berdiri!)
Saya bisa melihat kumisnya yang abu-abu, bulu-bulunya yang iiiih, saya tak bisa mendeskripsikannya karena saya sangat bergidik saat menulis kata-kata ini! Singkat kata, ayah saya turun dari loteng dan dengan gagah berani mengambil tikus itu dengan satu tangan. Ekornya yang besar diambil dan badannya yang gemuk terombang-ambing di depan saya. Saya menjerit dan lari keluar rumah secepat kilat! HUAAA!
Saya tak habis pikir, kenapa tikus itu ingin tidur di samping saya ya?
Jangan-jangan ia sebenarnya pangeran tikus?


Yah, itulah kenapa saya takut tikus.
Padahal di rumah saya juga banyak tikus, karena ketika Pasar Beringharjo hendak dipugar sekitar tahun 90-an, semua tikus pasar ngungsi ke kampung-kampung terdekat, termasuk kampung saya. Dan tikus pasar itu ganas-ganas.

Saya pernah punya kelinci baru, sehari kemudian mati dengan luka robek menganga di perutnya karena gigitan tikus, dan saat ayah saya baru pulang dari Jakarta dan membawa oleh-oleh sepasang hamster untuk adik kecil saya, Wisnu, baru seminggu yang lalu si ibu hamster melahirkan empat bayi hamster yang merah-merah, dan sehari kemudian si ibu hamster beserta empat bayinya tergolek tak berdaya dengan bercak-bercak darah karena diserang tikus besar.

Belum lagi dengan teman saya yang datang dari Mojokerto, Deasy, yang membeli sepuluh kardus Bakpia Pathuk 25, dan karena kami asyik ngobrol, saya lupa untuk memasukkan kardus-kardus itu ke dalam kamar, dan walhasil, pukul 3 pagi, saat adik saya pulang dari ronda, ia berteriak keras sekali!
Empat ekor tikus sebesar kucing sedang berpesta pora makan bakpia!
Sampai sekarang, saya merasa bersalah dengan kejadian itu.
Bayangkan sepuluh kardus bakpia untuk oleh-oleh habis ludes, menyisakan beberapa butir bakpia dengan kerikitan di pinggirnya.
Jangan tanya kardusnya sudah seperti apa, dhedel duwel ndak karuan!


Jadi, jangan ajak saya nonton Ratatouille ya!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...