Saturday, April 2, 2011

Kelaparan di Changi

Jadi, sampailah saya ke Singapura.
Ini kali pertama saya menginjakkan kaki ke kota singa ini.

Saat saya mendarat di bandara Changi, hawa yang terasa adalah modern, superbersih dan steril. Semua berjalan dengan cepat dan mekanis. Saya mengikuti arus orang-orang yang menatap lurus ke depan, lalu lalang, dan terkadang menabrak saya, lalu bilang, sorry, dan terus melangkah.
Saya menjadi arus yang menuju ke arah cek imigrasi, dan turun melalui eskalator besar dengan, apa itu?
Hah? Pakis raksasa?
Benar ternyata, pakis raksasa di tengah-tengah luasnya cek imigrasi, bahkan ada pohon pisang dan kelapa juga. Eh, beneran ada pohon pisang dan kelapa di dalam bandara? Ternyata hanya gambar, sodara-sodara!
Dan saya langsung menuju ke loket imigrasi, dan mengantri di depan loket yang petugas imigrasinya seorang perempuan India Tamil. Saat giliran saya tiba, bergegas saya maju, dan sampeyan tahu apa yang terjadi?
Saya menghabiskan waktu hampir sepuluh menit karena si petugas sangsi dengan foto saya di paspor.
Ia berkali-kali menanyakan hal-hal pribadi, seperti menguji apakah saya benar-benar saya atau tidak. Waduh!
Belum apa-apa sudah dicurigai, pikir saya. Padahal saya sudah tersenyum manis dan minta ijin saat saya mengambil permen-permen di depannya. Berkali-kali pula si petugas melihat wajah saya, lalu ke foto saya, wajah saya, lalu foto saya. Dan akhirnya, setelah saya hampir berteriak, itu memang benar-benar saya!, saya akhirnya mendapat stempel. CAP!
Wuih!
Saya langsung buru-buru mengecek paspor saya. Walah, memang benar, saya tidak seperti saya! Kok bisa ya? Paspor saya dibuat April 2009, dan itu 2 tahun yang lalu, dan saya pikir di foto paspor itu saya terlihat sangat dewasa. Sedang saat saya antri di imigrasi, saya memakai topi merah muda kebanggan saya, kaos warna peach dan rok merah. Seperti anak TK yang tersesat!
Setelah berjalan cukup lama, karena bandara Changi sangat luas, akhirnya, saya menemukan Pak Hassan, yang akan menjemput saya.
Oya, saya ke Singapura karena saya diundang sebagai pembicara di United World College of South East Asia, dan saya akan berbicara di depan anak-anak kelas 5 SD. Jadi, Pak Hassan ini adalah sopir sekolah.
Pak Hassan ini seperti orang Jawa. Ia mengajak saya berbicara dalam bahasa Melayu, dan hal pertama yang saya ucapkan, saya lapar.
Maklum, pesawat saya jam 7 pagi, tapi saya harus bangun jam 4, karena jarak bandara dengan rumah saya cukup jauh, jadi tak sempat sarapan apalagi minum air. Bayangkan betapa bau dan keringnya mulut saya!
Sebenarnya ada makanan dan minuman yang dijual di dalam pesawat, tapi dompet saya tertinggal di dalam tas, dan tasnya ada di bagasi, jadi saya hanya bisa ngeleg idu saat teman samping saya memesan nasi lemak yang baunya benar-benar bikin saya lapar.
Oke, jadilah saya bilang, Pak Hassan, saya lapar sekali.
Pak Hassan dengan sigap membawa saya ke sebuah restoran, dan setelah kami mendekat, wah, saya dibawa ke Burger King? Wah, saya nggak makan daging, saya bilang ke Pak Hassan. Dan ia menjawab, berikan kepada saya dagingnya, saya akan makan. Akhirnya ia memesan roti lembut dengan keju dan telur dadar serta kentang goreng dan jus jeruk untuk saya. Ada dua iris besar bacon di piring saya, dan serta merta langsung saya berikan ke Pak Hassan. Ia bilang, maaf, menunya sudah satu paket, jadi saya tidak bisa menghilangkan dagingnya.
Saya menikmati sarapan saya sambil menikmati sekitar. Gadis-gadis dengan rok mini dan celana superpendek terlihat di mana-mana. Remajanya sangat fashionable dan mengikuti metode mutakhir. Hmm, saya sudah tak sabar untuk melihat kotanya.
Ketika saya sudah di dalam mobil bersama Pak Hassan, saya melihat banyak bangunan tinggi menjulang di bawah langit kelabu siang itu.
Semua tampak abu-abu.
Gedungnya, langitnya, jalannya.
Wah, jadi seperti ini ya Singapura.
Tapi penghijauan juga banyak, pohon, taman, bunga, dan sesekali saya melihat burung berloncatan di dahan-dahannya. Pak Hassan bercerita kalau hampir semua orang tinggal di public housing. Ketika saya bilang apakah itu semacam apartemen, ia bilang itu berbeda. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan jemuran-jemuran melambai-lambai di jendela-jendelanya itu disebut HDB alias House Development Board. Alias rusun atau rumah susun. Sedangkan apartemen dan kondominium (sering disebut condo) itu semacam rusun tapi lebih mewah dengan fasilitas yang lebih oke. Saat saya bilang, wah di Jogja kami tak ada bangunan tinggi seperti ini, dan saya tinggal di kampung.
Sampeyan tahu Pak Hassan menjawab apa?
Kampung? Ah, kampung sudah hilang sejak 20 tahun yang lalu di negeri ini!
Saya terdiam.
Dan berpikir.
Saya lahir di kampung. Hidup di kampung. Dan bekerja di dan untuk kampung.
Kalau kampung sudah hilang, berarti saya akan hilang juga.
Waduh! Semoga tidak akan terjadi. Semoga.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...