Saturday, April 9, 2011

Jangkrik Keju, Syuting Sinetron dan Pedal Patah

Saya baru saja pulang setelah berkeliling kota naik sepeda listrik. Saya diboncengkan Greg.
Sepanjang jalan, saya baru menyadari kalau malam ini adalah malam minggu. Nol kilometer sangat penuh dan macet. Puluhan pasangan muda tampak berbinar duduk di bangku-bangku semen depan Benteng Vredeburg dan Istana Negara. Saling berpegangan tangan, melirik malu-malu, kadang ada yang saling meraba. Ah, darah muda!
Saya juga melihat para pesepeda yang asyik dengan sepeda mereka yang warna-warni dan berkilap. Hampir semuanya berwarna cerah neon. Oranye. Merah. Pink. Hijau. Kuning. Ungu. Saya melirik sepeda saya yang warnanya sudah saya ganti hijau toska yang ditempeli stiker oranye THE SEMELAHnya Mas Eko Nugroho. Seksi juga sepeda listrik saya, he-he-he.

Saya yang kemana-mana naik sepeda listrik selalu mengamati kalau kebanyakan pengendara sepeda listrik terdiri dari tiga macam orang: pertama, ibu-ibu yang setiap hari ke pasar dan menjemput anaknya di esde, kedua, bapak-bapak agak tua yang masih ingin naik kendaraan yang agak lebih cepat dari sepeda tapi masih tetap bisa menikmati angin sepoi-sepoi tanpa repot mengisi bensin, dan yang ketiga adalah para suster dengan kerudung mereka yang berkibar-kibar ditiup angin. Dan saya tak masuk kategori itu.
Jadi saya membayangkan, saya punya geng sepeda listrik yang tiap malam minggu nongkrong di depan Bank Indonesia, dan di depan kami sepeda listrik berwarna-warni berderet berjejer, dan ketika para pengendara motor dan penaik mobil berhenti di lampu merah depan Kantor Pos Besar, mereka akan melihat kami: Geng Sepeda Listrik yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, suster-suster, dan saya. He-he-he.
Oya, kembali ke petualangan saya malam ini.
Jadi, saya dan Greg menuju shopping alias toko buku murah di samping Taman Budaya. Kami janjian dengan Gugun dan Meita yang sudah siap dengan sepeda mereka masing-masing. Sempat ngobrol juga dengan teman-teman Gugun di Canting, seperti Ika UNY, Ika dari Medan, Meisa dan Azis.
Kami sempat ngobrol seru dan akhirnya kami haus karena terlalu banyak ketawa. Jadilah kami mengayuh sepeda lagi ke warung bajigur di dekat keraton dan menikmati segelas bajigur panas dengan menu baru:
Jangkrik Keju.
Wah, kebetulan saya belum pernah makan jangkrik. Jadi langsung saja saya ambil dan saya buka.
Hmm, isinya banyak, sekitar sepuluh ekor jangkrik, berkilat-kilat dan masih berbentuk jangkrik utuh.
Wah, saya seperti uji makanan mengenaskan di Fear Factor. Langsung saya kremus, kriuk kriuk kriuk.
Menu baru: jangkrik keju.
Ini dia jangkrik-jangkrik yang saya makan.
Kriuk kriuk kriuk.
Gurih juga ya. Satu, dua, tiga, empat, sepuluh, habis.
Greg bilang kalau mungkin ada yang punya alergi dengan serangga berbuku-buku. Wah, saya tidak tahu apakah saya punya alergi jangkrik atau tidak. Jadi ya bagaimana saya tahu saya punya alergi jangkrik atau tidak kalau saya tidak mencobanya? Jadi saya ambil sebungkus lagi, dan saya masukkan ke dalam tas saya, untuk bekal di perjalanan.
Nah, setelah menghabiskan bajigur kami berjalan-jalan sebentar cari angin ke Alun-Alun Utara, ternyata ada syuting sinetron di depan Pagelaran Keraton. Wah, banyak sekali orang yang berkumpul, merubungi kru-kru sinetron dengan segala macam lampu dan kabel-kabel besar. Saya mendekat dan memperhatikan pemainnya yang berkeringat dan sering-sering dilap oleh make up artist-nya.
Yang menarik adalah, ketika banyak orang rubung-rubung, pasti akan banyak pedagang yang datang, ada siomay, cimol, bakso dan jagung rebus. Walhasil, jadilah kerumunan itu penuh dengan pedagang, muda-mudi yang asyik masyuk di atas motor mereka (sebenarnya mereka tidak terlalu fokus melihat syutingnya, tapi fokus ke arah bawah), lalu orang-orang seperti saya yang menonton. Menarik juga memperhatikan orang-orang yang menonton syuting sinetron. Lalu Greg punya ide, karena kami akan makan malam di Bakmi Doring, maka mau tak mau kami harus melintas di belakang syuting sinetron itu, yang saat itu sudah ada beberapa pengendara fixie yang sedang akting. Kami bergegas mengambil sepeda yang masih diparkir di warung bajigur, lalu memacu sepeda cepat-cepat ke arah tempat syuting.
Sampeyan tahu apa yang terjadi begitu kami sudah sampai?
Syutingnya selesai!
Kabel-kabel sudah digulung, lampu-lampu padam, kerumunan menipis.
Ha-ha-ha. Ya sudah, kami lalu meluncur ke Suryowijayan untuk menikmati makan malam di Bakmi Doring yang konon katanya salah satu warung legendaris di Jogja, menurut buku kuliner legendaris Jogja yang ada Butet Kertaradjasa sebagai pencicip-nya.
Setelah menghabiskan mi godog (mi rebus) dan nasi goreng, kami lalu pulang, dan baru lima meter, pedal sepeda yang diinjak Greg patah!
Waduh!
Jangan-jangan karena Greg juga terlahir sebagai anak Wage ya, pikir saya.
Padahal saya kan anak Wage juga!
Sampeyan pengen tahu kenapa?
Tunggu tulisan saya besok ya, tentang Anak Wage :)
Sip, selamat bermalam minggu dan bersepeda keliling Jogja!

1 comment:

  1. memang benar jangkrik keju enak ,apalagi sambil emil ,gw sempat ngerasain pas di jogya

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...