Saturday, April 16, 2011

Di Balik Jubah Wisuda

Jadilah saya ikut wisuda di bulan April ini.
Mengapa?

Pertama, karena saya adalah orang pertama di keluarga saya yang diwisuda.
Ya. Ayah dan ibu saya tak selesai menuntaskan pendidikan tinggi mereka. Dan saya punya empat orang adik yang lucu-lucu yang ingin tahu wisuda itu apa.

Kedua, karena saya ingin punya kebaya sendiri. Seumur hidup belum pernah saya punya kebaya. Agak memalukan mengingat sebagai perempuan Jawa, saya kok tidak pernah punya sekebaya satu pun! Terakhir kali saya dikebaya'ni itu waktu kelas empat SD jadi tukang kipas manten dengan kipas bulu warna pink menyala. Setelah itu, tidak pernah sampai tadi pagi. Dan saya ingin kebaya yang benar-benar saya, maka saya minta bantuan Mas Ardian, seorang disainer kebaya dan pebatik untuk memvisualisasikan keinginan saya yang cukup ekspresif tentang sebuah kebaya. Jadilah kebaya warna hijau toska dengan aksen obi pink dan syal (tentu saja) pink dengan jarik merah-hitam karya Mas Ardian sendiri. Saya jadi ingat kata-kata Mas Ardian waktu ia mengepas kebaya itu ke tubuh saya yang akhir-akhir ini melar:
Bajulah yang harus mengikuti kita, bukan kita yang harus mengikuti baju.

Ketiga, karena akhirnya ada yang cukup baik hati untuk meminjami uang untuk membayar biaya wisuda yang mahal itu, dan yang akan saya lunasi bulan depan. Ah, saat saya menulis ini, saya malah menjadi sadar kalau ternyata wisuda juga sebuah saat dimana kita bisa berdarma. Seperti yang terjadi siang tadi saat Ayah saya hendak membeli semua foto-foto dirinya yang dijepret oleh para fotografer dadakan di depan parkiran rektorat. Saya sempat melarang untuk membeli foto-foto itu karena ada sekitar 8 foto yang isinya ayah-ibu-Wisnu (adik saya yang paling kecil), lalu ibu-ayah-Wisnu, lalu Wisnu-ibu-ayah, lalu ayah saja, lalu ibu saja, lalu Wisnu saja, lalu, lalu, ah gila!
Tapi kata ayah saya, kasihan, mereka juga butuh uang untuk memberi makan anak-anaknya. Ah, ayah saya yang tiba-tiba jadi bijak...
Dan sampeyan tahu? Semua foto dibeli!

Ah, saya juga ingat. Untuk menjahit kebaya, Mas Ardian mempertemukan saya dengan Mbak Temi, seorang penjahit kebaya yang sudah menjahit kebaya sejak tahun '85 dengan keahlian khusus: ia seorang tuna rungu!
Jadilah saat-saat mengukur, mengepas, dan mencoba-coba aksesoris kebaya suasana menjadi hidup dan penuh bahasa isyarat. Sebuah pertemuan yang indah, menurut saya, saat saya mempercayakan ide saya di tangan seorang yang bahkan tak mampu berkata dan mendengar. Dengan hati-hati dan kelembutan seorang yang peka terhadap indera yang lain selain pendengaran, Mbak Temi benar-benar seorang pencerita dan pendengar yang yang baik. Dan pelajaran baru buat saya beberapa minggu terakhir ini adalah:
belajar bahasa isyarat!

Keempat, bagi saya wisuda adalah sebuah penghargaan bagi diri saya sendiri, keluarga, para donatur yang telah membantu membiayai kuliah saya di awal-awal semester dulu, para dosen, teman-teman seangkatan, tetangga, teman-teman dan sahabat-sahabat, serta yang tak akan mungkin lupa disebut adalah: untuk Greg, yang belum juga lulus sampai sekarang, dan semoga ia cepat-cepat menyusul saya!
Karena saya pikir, kampus sudah tak cukup besar untuk kami terus berkarya...

Akhirnya, yang kelima:
Saya wisuda karena saya sebenarnya ingin mendekonstruksi apa yang disebut wisuda itu sendiri. Sebelum saya dobrak kan saya harus tahu dan merasakan apa dan bagaimana wisuda itu sendiri.
Ada yang menganggap bahwa wisuda adalah bagian dari pembagian kelas sosial antara yang elit dan tidak-elit, karena dulu sejarahnya, kelompok elit Mataram dapat dimasuki oleh rakyat biasa (wong cilik) dengan jalan menjadi abdi raja. Ketika ia telah naik strata, ia disebut kawulawisuda.
Menurut kamus yang disusun oleh J.F.C. Gericke Javaansch-Nederduitsch Woordenboek pada tahun 1847, kawulawisuda diterjemahkan sebagai “diangkat ke satu tingkat yang lebih tinggi (kawula:rakyat/pelayan, wisuda; menaikkan pangkat).
Nah, ada yang berpendapat bahwa secara tak langsung ini menyatakan bahwa warga negara bisa mempunyai kesempatan masuk ke kelompok elite dan juga bahwa hak masuknya hanya melalui jabatan negara (Soemarsaid Moertono, 1980). Dengan demikian, saat itu lapisan sosial atau kelas dibentuk oleh pemerintahan (wisuda hanyalah wewenang kenegaraan).
Dengan kata lain, menurut saya, saat seseorang diwisuda, maka naluri yang muncul adalah "saya setingkat lebih tinggi daripada yang lain karena saya sudah diwisuda dan bertitel, dan saya bisa masuk ke jajaran elit sedangkan yang lain tidak, oleh karena itu saya berhak untuk berwewenang."

Ah, saya tak ingin memperlihatkan titel saya, karena bagi saya, saya masih jauh kalah bijaksana dibanding dengan simbah saya yang dengan terampil menyamak kulit dan mencipta kerajinan kulit selama puluhan tahun, atau dibandingkan dengan simbah saya yang lainnya lagi yang menjadi sufi.

Ah, saya tak ingin ber-ah-ah lagi.
Saya pikir, banyak, banyak yang tersembunyi di balik jubah wisuda saya selain yang saya sebut di atas, seperti saat saya merasakan bagaimana sakitnya dicabuti alis matanya, disasak rambutnya, di-plenet-plenet dan di-singset-singsetkan agar menjadi "cantik" dan menjadi "perempuan".

Ah.
Sudah malam.
Besok saya sambung lagi.
Sugeng istirahat!

4 comments:

  1. wew. . yang dibelain bangun pagi jam 3 subuh ya mbak
    selamat sudah diwisuda ya mbak ~____~

    ReplyDelete
  2. maturnuwun jeeeeeng :)
    sip sip sip :)

    ReplyDelete
  3. mana fotomu pake kebayanyaaA??!!! *jadi pingin kenalan sama mbak penjaitnya..hihihikk

    ReplyDelete
  4. Mbak Riaaa :) hihihihi, iya, foto kebayanya belum jadi, masih dicuci dan dicetak :p maklum, masih manual ini kameranya :p hehehe

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...