Wednesday, April 6, 2011

Denda oh Denda

Stasiun RMT yang seperti mall.
Masih bercerita tentang kota singa, sampeyan mesti tahu kalau Singapura itu negara yang penuh dengan denda. Apa-apa didenda. Buang sampah sembarangan didenda. Merokok di tempat umum didenda. Pas saya jalan-jalan di Chinatown, banyak sekali penjual yang memajang kaos bertuliskan 'Singapore is a FINE Country'. Tak sempat saya bidik, karena waktu saya dengan sangat pede ceklak-ceklek di toko, mereka langsung mendekati saya dan bilang, no photo, no photo. Wah, ya sudahlah.
Oya, jadi saya kemarin bercerita tentang pengalaman saya di Chinatown. Saya berangkat naik kereta cepat yang kadang di bawah tanah, kadang di atas tanah, yang namanya adalah RMT alias Rapid Mass Transit. Maklum, karena saya wong kampung, jadi saya sempat bingung masuk stasiunnya. Awalnya saya sok pede karena saya dibekali dengan peta, kartu langganan RMT yang langsung digesek saat kita masuk ke stasiun, lonely planet Singapura, bekal makan siang berupa tiga kerat roti kismis, satu pisang besar, satu roti gulung, dan botol minum besar berwarna kuning stabilo berisi air putih.

Tak lupa topi bundar pink kesayangan saya yang ditempeli beraneka macam kancing biru oleh Sam dan Tessa, adik Sam yang bermata lembut.
Saya ikut saja arus orang-orang, dan berpegang pada kata-kata Luke, salah satu guru yang meminjami saya kartu langganan RMTnya jadi saya tak perlu bayar tiket. Dia bilang, di stasiun ada banyak sekali tanda-tanda, kamu tak akan pernah tersesat, karena semua tanda-tandanya jelas, kamu tinggal ikuti saja, dan baca petunjuknya.
Oke, jadi saya baca petunjuknya, terus mendongak karena petunjuknya kebanyakan menggantung tinggi di atas kepala saya. Dan saya salah masuk terowongan! Wah, saya tersesat! Saya mondar-mandir masuk ke terowongan yang sama tiga kali, naik lift, turun eskalator, naik lagi, turun lagi, dan saya hanya seperti berputar-putar saja. Wah, edan, saya buta tanda apa ya.
Akhirnya saya berhenti sejenak, melihat orang-orang yang datang dari pintu masuk, memperhatikan ke mana mereka melangkah selanjutnya, oalaaaaaah!
Baru saya sadar, mereka kebanyakan langsung menuju ke arah pintu masuk seperti di supermarket atau di perpustakaan kampus dengan menggesekkan sesuatu di atas kotak besi mengkilat. Sedangkan saya, karena dalam pikiran saya, subway adalah kereta bawah tanah, saya langsung turun menuju terowongan!
Akhirnya saya bergegas, ikut mengantri di belakang orang-orang dan menggesekkan kartu saya, sret! Saya masuk dan mendongak lagi, melangkah lagi, naik turun eskalator, melihat papan tanda-tanda manakah jalur yang menuju Chinatown, dan akhirnya sampai di depan rel kereta.
Saya menunggu.
Ada kejadian menarik. Di depan saya ada beberapa cewek gaul sedang diam bersandar di tiang stasiun, dan di depan mereka ada seorang nenek tua yang linglung, tertatih-tatih dan bertanya ke beberapa gadis-gadis muda yang gaul dan fashionable yang juga ikut menunggu kereta. Nenek itu berbahasa Cina. Dan tak ada seorang pun yang menjawab dan bereaksi. Saya kaget. Lho, ini neneknya tanya kok didiamkan saja. Baru setelah ada laki-laki tua, mereka kemudian bercakap-cakap dalam bahasa Cina. Karena penasaran, saya coba melongok, ingin tahu, kenapa to cewek-cewek tadi diam saja. Saya mengintip dan ealah, kupingnya disumpal headset! Oalah.
Akhirnya saya naik juga, dan ternyata RMT itu seperti Prameks, rasanya mirip seperti Prameks, bedanya ini lebih cepat. Setiap stasiun hanya ditempuh 2-10 menit saja. Wus wus wus. Ada peta kelap-kelip di atas yang menunjukkan sampai mana kita berada serta ada suara wanita yang berbicara dalam tiga bahasa, Melayu, Mandarin, Tamil yang terus-terusan menginformasikan kereta akan mendekati stasiun apa. Oke lah, pikir saya.
Jadi bayangkan, saya dari stasiun Ang Mo Kio yang saya sempat tersesat tadi, lalu saya turun di Dhoby Ghout, lalu ganti kereta ke Chinatown, berjalan-jalan sebentar, lalu naik kereta ke Little India, terus berjalan kaki jauh sekali, lalu tersesat (ceritanya besok saja ya), lalu balik lagi ke stasiun, lalu saya memutuskan kembali ke Chinatown. Naik kereta lagi. Sendiri, kaki kaku, kepanasan karena siang begitu terik, dan haus.
Jadi, saat saya hendak kembali ke Ang Mo Kio dari Chinatown, saya berdiri di dekat pintu otomatis dan bersandar di kacanya. Kereta selalu penuh dan saya selalu berdiri.Dan saya haus sekali!
Otomatis saya membuka bekal saya, mengambil botol minum saya yang besar dan kuning ngejreng, lalu minum dengan sepuasnya.
Gluk gluk gluk.
Setelah minum saya masukkan botol saya, dan menghela nafas lega sambil bersandar. Ketika saya menatap ke depan, orang-orang di dalam kereta melihat saya dengan pandangan aneh.
Waduh, perasaan saya jadi tak enak. Ada apa ya. Jangan-jangan tali beha saya kelihatan, atau rok saya tersingkap, atau apa ya. Mereka masih memandang saya dari ujung topi sampai ujung sepatu. Lalu ke bekal dan botol air minum saya. Saya bersandar dan merebahkan kepala saya di dinding kereta dan mata saya tertumbuk pada tulisan merah-merah besar dengan tulisan NO EATING AND DRINKING:
FINE $500. Saya langsung kaget dan kepala saya kejeduk tulisannya.
WADUH! LIMA RATUS DOLAR! Dan uang saya tinggal 50 dolar saja.
Saya benar-benar tak tahu kalau saya berdiri tepat di bawah rambu-rambu denda besar itu dan dengan santainya minum air dari botol besar kuning stabilo sambil bersuara: gluk gluk gluk.
Saya tahu, saya tak bisa berkutik, jadi saya tegakkan tubuh saya, topi saya tarik dalam-dalam menutupi wajah saya, dan menunduk melihat lantai kereta yang bergoyang pelan. Saya tunggu. Apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saya berpikir, Singapura kan canggih, semuanya serba tertata, tersistem, otomatis dan mekanis. Jadi mesti ada kamera pengintai yang tersembunyi di mana saja, yang akan berbunyi bip bip bip kalau ada orang seperti saya yang melanggar peraturan, apalagi di dalam kereta dan ada banyak saksi mata! Saya menunggu derap-derap kaki polisi yang akan menyeret saya dan membawa saya ke pengadilan dan menuntut saya karena saya hanya membawa uang 50 dolar dan akhirnya saya diekstradisi ke Indonesia naik kapal penuh dengan muatan batubara.
Waaaah!
Dada saya berdentam-dentam. Keringat dingin mengucur.
Setelah lima menit, ternyata tak ada apa-apa!
Saya agak lega, tapi siapa tahu saya sudah ditunggu di dalam stasiun. Jadi begitu pintu membuka, saya langsung berlari kencang, menubruk orang-orang, bilang sori sori sampai sebelas kali, naik eskalator membabibuta, pokoknya gimana caranya agar saya tak tertangkap.
Saya gembrobyos sekali. Terengah-engah karena rusuk sakit dan semakin haus. Saya bersembunyi di balik pilar. Dan saya menunggu. Tak ada tanda-tanda saya akan ditangkap. Dan semuanya berjalan seperti biasa.
Wah, saya lega luar biasa!
Akhirnya saya melenggang keluar stasiun dan langsung naik taksi.
Saya berhasil lolos! Yeaaaaah!
Dan kalau sampeyan hendak melanggar peraturan di Singapura, caranya gampang: berpakaianlah warna-warni, rok mekar, memakai topi bundar berwarna cerah dengan tigapuluh kancing biru tertempel di pinggirannya, bawalah kotak makan siang dan botol air minum besar bergambar mikimos berwarna kuning stabilo, pakai kaos kaki terang dan sepatu. Pasti sampeyan lolos, karena dikira anak SD!

8 comments:

  1. did u man meet Tam Lum in Chinatown, ha??

    ReplyDelete
  2. thanks! :D
    of course i met Tam Lum!
    i also met Charley Popcorn and Kenji. they're running ahead The Lone Ranger and Tonto! yeaaaaaach!! :D

    ReplyDelete
  3. hahaha, pengalamannya menarik banget. jadi pengen kesana juga. :D

    ReplyDelete
  4. hehehe :D
    makasih Mas Detektif :) pake air asia kan murah Mas, chinatown menarik :) sip!

    ReplyDelete
  5. hah, Masa sih? bisa nih, kalo ada teman jalannya.

    ReplyDelete
  6. bisa, tapi online booking dulu :) waduh, dalam waktu dekat saya ndak akan kemana2 dulu je :) hehe. mungkin dengan para detektif yg lainnya Mas:) hehehe. sip

    ReplyDelete
  7. wah asik tuh lari-larinya... sempat mbayangke lho adegannya :D

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...