Wednesday, April 27, 2011

Cerita dari Kampung #4: Awas, Ada Ninja!

Kampung saya terletak di belakang deretan toko-toko bakpia Pathuk.
Namanya Ngadiwinatan. Dan kali ini, saya akan bercerita tentang sebuah kejadian yang terjadi hampir duabelas tahun yang lalu.
Awalnya tak ada yang tahu bakal ada kejadian luar biasa yang terjadi di kampung saya. Tak ada juga yang punya firasat akan ada sesuatu yang luar biasa yang akan terjadi di dalam rumah saya.

Malam itu, seperti biasa, kampung mulai sepi setelah jam 9 malam. Hanya suara televisi-televisi yang terdengar dari setiap bilik rumah dan lorong kampung yang lengang. Lampu-lampu neon berpendar di setiap gang. Sinarnya menarik beberapa serangga pencinta cahaya. Malam seperti biasa. Malam hendak bersiap-siap untuk tidur dan menarik selimutnya hingga ke dagu.
Dan saya sedang terlelap di dalam kamar saya. Sendirian.
Saya masih punya kamar waktu itu, karena adik saya yang bungsu belum lahir. Jadilah saya terlelap sendirian dengan cahaya bulan yang menyoroti wajah saya. Sinarnya masuk dari genteng kaca di atas tempat saya berbaring.
Malam cerah.
Angin malam berdesau-desau masuk lewat ventilasi kamar yang kalau saya berdiri di atas ranjang dan mengintip ke celah-celahnya, saya akan melihat lorong kampung yang sepi. Belakang kamar saya memang lorong kecil tempat semua orang lewat karena memang harus melewati lorong di belakang kamar saya kalau hendak pergi ke jalan raya. Kadang saya sempat paranoid karena kalau malam lorong begitu gelap dan sepi.

Pernah saya mimpi buruk, saya mengintip dari sela-sela ventilasi dan melihat tetangga saya, Pak Sukir yang jualan sate ayam melihat saya dari balik ventilasi dengan tatapan drakula. Matanya merah. Dan tangannya memegang pisau yang biasa ia gunakan untuk memotong-motong daging ayam.
Setelah mimpi buruk itu, langsung saya bilang kepada ibu saya untuk memasang kain korden kecil agar orang luar tak bisa mengintip ke dalam kamar saya dan sebaliknya agar saya tak ketakutan lagi kalau-kalau saat saya membuka korden dan ada sesuatu yang menatap balik kepada saya.

Ya. Malam sepi. Lengang. Dengung lampu neon. Suara-suara tivi yang mulai memudar. Suara uyon-uyon di radio.
Dan saya terlelap sendirian di dalam kamar.
Orangtua dan adik-adik saya juga sudah tidur di kamar masing-masing.
Ketika tiba-tiba...
 
MALING! MALING!

Teriakannya keras sekali. Mengguncangkan mimpi-mimpi saya.
Suaranya berasal dari lorong di belakang kamar saya. Saya terbangun dengan cepat dan secara otomatis langsung menyingkap korden dan mengintip di sela-sela lubang ventilasi yang penuh debu.
Saya melihat banyak tetangga saya, terutama para laki-laki dewasa sedang bergerak maju sambil membawa kentongan. Beberapa di antaranya saya melihat ibu-ibu dalam daster tidurnya yang tipis dan melambai-lambai.
Saya terpaku. Sementara raungan semakin keras: MALING! MALING! MALING!
Saya melompat dari ranjang dan keluar kamar. Hampir saja saya menabrak ibu saya yang juga tergopoh-gopoh keluar dengan mata masih merah. Saya melirik jam dinding. Jam 2 pagi.

ADA MALING! ibu saya berteriak.

Gang-gang kampung sontak menjadi ramai. Riuh rendah. Semua berteriak agar seluruh penghuni rumah bangun dan keluar rumah. Ibu saya membopong adik saya, dan ayah saya menggandeng dua adik saya yang lain keluar rumah. Saya langsung keluar rumah dan berbaur dengan tetangga-tetangga saya.
Semua tampak serius.
Dan tegang.
Waspada.
Rombongan laki-laki itu membawa senjata yang saya tak tahu apa namanya. Saya terlalu takut untuk berpikir apakah itu golok atau parang ataukah hanya tongkat biasa. Mereka bergerak ke selatan dan membunyikan kentongan tanda bahaya.

Tiba-tiba ada suara lagi yang berteriak, suara perempuan: NINJA! NINJA!
Jarinya tertuding ke atas atap rumah saya. Kami melihat sekelebatan bayangan yang berlari cepat melompat-lompat dari atap ke atap seperti ninja. Seperti di film-film kungfu.
Dan semuanya sontak bergerak ke timur. Mengejar 'si ninja'.
Tak tahu apakah saya gila atau saya hilang ingatan, saat semua orang bergerak ke timur, saya juga ikut berlari.
Tapi saya malah berlari masuk rumah.
Saya takut kalau-kalau malingnya turun ke jalan dan membabibuta dengan samurai dan pedangnya.
Pikir saya, akan lebih aman masuk ke dalam rumah. Akhirnya saya masuk rumah dan sembunyi di dapur.
Saya bersembunyi di bawah meja makan.

Dan ternyata pilihan saya salah besar!

Saat saya berjongkok rapat-rapat itulah saya mendengar
GEDUBRAK! BRUK! WADOW!

Saat saya mendongak ada kaki yang terjulur dari genteng dan dalam sekejap hilang lagi. Saya tak bisa bicara apa-apa.
Sepertinya saya baru saja melihat kaki malingnya!

Dalam beberapa detik, dapur penuh sesak dengan orang-orang yang tegang.
Sampeyan tahu, dapur saya berada di dekat kamar mandi. Dan saat itu, banyak yang bergerombol di depan kamar mandi.

Kamar mandi saya sangat sederhana. Dindingnya separuh. Jadi kalau ada orang yang tinggi badannya 160 cm ke atas, dan sedang mandi di dalam kamar mandi saya, pasti saya bisa melihat wajahnya dengan jelas dari luar. Bak mandinya juga selalu ada ikannya. Seekor ikan sebesar lengan orang dewasa yang setia berenang-renang di dalam bak sambil berburu jentik dan plankton.
Lubang WCnya juga sederhana. Hanya lubang dengan dua kotak di sisi-sisinya untuk pijakan kaki. Tak ada toilet atau kloset. Jadi hanya lubang yang menganga. Dalam. Hitam kekuningan.

Dan sampeyan tahu ada apa di dalam kamar mandi saya yang sangat ndeso itu? Genteng kamar mandi saya jebol. Bolong.
Wah, pasti sakit sekali si ninja itu! Lobang yang terbentuk di atas saya cukup besar dan saya bisa melihat langit dini hari yang biru tua.
Ada beberapa genteng berserakan pecah di lantai kamar mandi.
Titik-titik darah.
Dan ada sebuah sandal jepit berwarna biru tertinggal.
Merek Swallow.
Ukuran kaki laki-laki dewasa.

Pimpinan keamanan kampung dengan hati-hati mengambil sandal jepit biru itu.
Dengan sangat hati-hati.
Dan agak bergidik.
Karena:
si sandal jepit biru swalow milik 'si ninja' itu berada tepat di dalam lubang WC!

Ah!
Semuanya lalu berjalan cepat.
Perburuan akhirnya dihentikan saat pagi merekah.
Dan tentu saja, 'si ninja' tertangkap.
Dengan barang bukti berupa sandal jepit biru swalow yang basah dan agak bau yang di-cuthik dari dalam WC rumah saya!

5 comments:

  1. Ah, Ngadiwinatan. Kampung yang menyimpan sejuta cerita dan cinta. Kok aku ndak pernah liat kamu ya kalo maen kesana?

    ReplyDelete
  2. Hah? Kamu dari Ngadiwinatan juga po Mas? Waaaah, ternyata! :D
    aku Ngadiwinatan sebelah timur, paling timur :)

    ReplyDelete
  3. Ndak, tapi dulu sering banget main ke Ngadiwinatan. Tapi yang di deket KHA Dahlan itu

    ReplyDelete
  4. oooh, yang di situ to. gek-gek aku kenal ki. ha aku yo dolan neng daerah kono barang je ket TK :) hehehe.

    ReplyDelete
  5. atau jangan-jangan dikau pernah menjalin cinta dengan gadis Ngadiwinatan ya Mas? :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...