Wednesday, April 13, 2011

Antara Indon dan TKW

Saya jadi ingat sesuatu.
Saat saya di Singapura beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk presentasi di sekolah internasional bernama United World College of South East Asia. Saya menghabiskan empat hari penuh dari pagi sampai sore di sekolah itu, bersama dengan para murid-murid kelas 5 dan guru-gurunya.
Nah, ada satu asisten guru yang baru pertama kali itu bertemu. Dengan ramah, ia menyapa saya,
'Dari mana?' *dengan logat Melayu*
Dengan bangga saya bilang, 'Indonesia'
Sampeyan tahu jawabannya apa?
'Aaaah, orang Indon!'
Saya kaget bukan kepalang. INDON?
Ia meneruskan: 'Pembantu saya juga orang Indon, sudah 15 tahun ia jadi pembantu di rumah saya.'
Hati saya mencelos, los, los.
Ada satu reflek yang membuat hati saya berdetak kencang dan kuping saya serta merta jadi panas begitu mendengar kata Indon, serupa saat Hermione Granger mendengar kata 'mudblood' alias darah-lumpur dalam fiksi Harry Potter. Tapi beberapa detik kemudian, saya menyadari bahwa mungkin, mungkin lho ini, orang Melayu menyebut semua orang Indonesia adalah indon, termasuk orang-orang Malaysia. Hmmm.
Saat presentasi saya sudah selesai, si asisten itu mendatangi saya dan berkata, 'Ah, haibat sangat presentasi kamu, kamu pintar cakap bahasa Inggris ya.' Saya hanya tersenyum.


Dan saya juga teringat sesuatu.
Saat saya kembali dari India, bawaan saya banyak dan saya harus transit di Jakarta, dan saat itu baru pertama kalinya saya ke bandara Soekarno-Hatta yang bagian cek imigrasi. Semua penumpang pesawat berbondong-bondong menuju antrian cek imigrasi, setelah selesai, berbondong-bondong lagi keluar, dan saat itulah tas saya jatuh. Perlu beberapa waktu untuk memasukkan dan mengatur barang bawaan saya yang banyak itu. Saat sudah selesai, orang-orang yang tadi saya kenali wajahnya karena sudah satu pesawat selama empat jam dari Chennai mendadak menghilang. Hanya tampak lorong sepi dengan besi-besi dan petugas berseragam biru yang hilir mudik.
Aduh, saya bingung sekali waktu itu hendak kemana.
Akhirnya saya nekat masuk ke lorong terdekat dengan panah-panah di atasnya, pokoknya yang ada tulisan Indonesia. Saya merasa kok saya semakin menjauh dari keramaian ya. Lorongnya sepi dan tak ada penumpang. Saya semakin curiga. Saat tiba di ujung lorong, saya diperiksa oleh petugas berseragam yang mengecek paspor saya dan menanyai saya macam-macam:
'Dari mana?'
'India Pak, India Selatan'
'Kerja di bagian apa?'
'Anu Pak, konferensi'
'Konferensi?' si petugas melihat saya dengan dahi berkerinyut.
'Eh, konferensi anak muda Pak' saya bilang saja sekenanya.
'Sudah lama di India? Umur kamu berapa?'
Aduh!
Sebelum saya menjawab si bapak tiba-tiba tertawa dan menepuk-nepuk bahu saya keras-keras, 'Hahahaha! Saya kira adiknya ini te-ka-we! Ini khusus untuk TKW dik, kalau yang penumpang biasa dari sebelah sana, tapi karena si adik mah sudah terlanjur, jadi ya lewat sini saja, terus kesana, dan kesana, terus belok sana lalu kesana.'
Wah, saya dikira TKW!
Dan saya tak sempat mengingat petunjuk arah yang diberikan bapak itu, jadi saya tersesat di tengah keramaian. Untung ada bapak-bapak dari Gunungkidul yang memberitahu saya arah, dan menunjukkan saya ke lift yang benar.
Ah! Untunglah, saya tak harus menjelaskan tentang konferensi dan bla bla bla, mungkin kalau dibuat konferensi te-ka-we kedengarannya menarik juga! :)


*TKW: tenaga kerja wanita*

2 comments:

  1. wahaahahahhahahahahahaaa....ngakak tenan aku moco iki..sumpah...mbayangke tampangmu pas ditepuk tepuk bahumu :DDD

    ReplyDelete
  2. hahahahahaha :D
    iya e, bapak'e ki masak aku dikira tenaga kerja anak-anak :p heehehe :p

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...