Sunday, April 10, 2011

Anak Wage

Saya terlahir pada pasaran Wage.
Dan katanya, jangan membeli barang baru saat Wage. Mudah rusak.
Saya lalu mencoba mengingat-ingat apakah saya sering merusakkan barang-barang, baik milik saya ataupun orang lain.
Dan jawabannya adalah: YA.

Seperti saat saya diajak Mas Andy SW untuk menghadiri pemakaman bapaknya Mas Kusen di Kuncen. Saya mampir dulu di Bengkel Mime, dan saya baru sadar kalau saya hanya pakai sandal jepit. Saya rasa agak kurang sopan memakai sandal jepit, jadi saya bilang Mas Andy untuk pinjam sepatu. Agak aneh juga mengingat Bengkel Mime tak punya anggota perempuan, karena ukuran kaki saya kecil dan tentu saja tak muat untuk sepatu laki-laki. Untunglah ada sepatu boots kecil dari kulit berwarna cokelat yang pas sekali dengan kaki saya. Sepertinya sepatu boots itu milik pacarnya Mas Inyong. Langsung saja saya bersihkan, lap, dan pakai. Lalu kami menuju rumah duka. Singkat cerita, saat pemakaman selesai, Mas Andy mengajak saya untuk kembali ke dalam bis. Saat saya berjalan di antara makam-makam, saya merasakan ada sesuatu yang menyeret kaki saya. Waduh, saya agak was-was juga sebenarnya karena posisi saya ada di tengah-tengah makam. Saya terus saja berjalan tanpa menghiraukan apa yang menyeret-nyeret kaki kiri saya. Dan ternyata, setelah saya beranikan diri untuk menengok ke bawah, sepatu bootsnya sudah kiwir-kiwir solnya. Saya angkat kaki kiri saya, dan pluk! Sol sepatunya jatuh bebas di antara makam-makam. Waduh! Saya buru-buru merunduk mengambil sol sepatu dan berjalan cepat ke arah bis. Waduh! Baru saja saya pinjam, sudah rusak, bilang apa saya sama Mas Andy? Saya genggam sol sepatu di tangan kiri sambil terseok-seok menuju bis. Selanjutnya yang terjadi adalah wajah kaget Mas Andy, seruan harus-dibawa-ke-tukang-sol, dan wajah saya yang memelas karena rasa bersalah dan kepanasan.

Seperti juga yang terjadi saat saya di studio Dagingtumbuh milik Mas Eko Nugroho, saat saya harus menge-print beberapa dokumen. Saya hitung sudah hampir lima kali saya selalu bermasalah dengan printer. Kalau tidak paper jamming, kertasnya tergencet di tengah-tengah printer dan sulit diambil, printer macet dan yang paling sering kertasnya miring-miring dan sobek. Waduh! Saya selalu berkeringat dingin saat ada masalah dengan printer dan saya. Saya selalu berpikir, waduh saya harus ganti berapa duit ya printernya. Dan saya selalu ndremimil merapalkan mantra agar printernya tidak apa-apa dan bahwa itu 'hanyalah' kesalahan standar operasional prosedur saja. Tapi untunglah selalu ada Mbak Oki yang siap sedia membantu saya yang pucat dan berkeringat dingin kalau printer-nya sudah berteriak-teriak kesakitan.

Seperti juga dengan netbook saya yang sudah EMPAT kali jatuh dan SEBELAS kali ganti kabel adaptor. Gila ya. Saya habis banyak hanya untuk beli kabel adaptor! Pernah saat saya enak-enak ngetik di Multiculture Realino, kabel yang nglewer di paha saya njeblug, dhuar! Percikan api memercik dan paha saya bergetar keras. Untung tidak ada yang melihat. Kalau jatuhnya netbook saya yang pertama saat saya jatuh dari sepeda listrik saya dan kembrukan sepedanya, posisi saya adalah (dari bawah ke atas): netbook-saya-sepeda. Padahal bobot saya 50kg dan sepeda 40 kg. Jatuh yang kedua saat di YPR, jatuh dari meja, lalu jatuh saat di pesawat waktu saya pulang dari Singapura (saya letakkan di kursi samping saya yang kosong dan saat landing pesawatnya nge-rem keras sekali, ciiiiiiiiiit, dan tas berisi netbook saya terjungkal ke bawah kursi penumpang dua baris dari kursi saya), dan yang terakhir saat saya presentasi di depan mahasiswa UII Arsitektur semester 8, jatuh dari atas meja. Waduh! Tapi sampai sekarang netbook saya tidak apa-apa dan masih berfungsi meski tak pakai baterai: alhamdulillah!

Seperti juga yang terjadi dengan kacamata saya. Tercatat, selama saya memakai kacamata sejak kelas 1 SMP tigabelastahun yang lalu, saya sudah berganti kacamata SEMBILAN KALI bukan karena mengikuti tren atau gaya-gayaan, tapi karena kacanya gripil, pecah atau yang paling sering frame-nya patah karena sering kelingguhan pantat saya yang besar atau terinjak karena tak kelihatan oleh mata saya yang minus lima silinder dua.

Juga saat sepeda saya rusak, bukan sepeda listrik, sepeda jengki warna perak yang sekarang di rumah menjadi tempat sayuran karena ibu saya sering memasukkan bumbu pawon dan sayur mayur ke dalam keranjangnya dan menggantungkan tas kresek tempat sampah di setangnya dan meletakkan keranjang isi cucian di sadelnya. Haduh, sepedaku yang malang!

Saya juga ingat, saat cerdas cermat antar siswa SD di kampung, waktu itu tak ada bel, jadi kami semua memakai sendok dan gelas. Saat giliran pertanyaan rebutan, saya yang menjadi juru bicara regu B spontan memukul sendok ke atas gelas, dan PRAAAANG! Pecah berkeping-keping gelasnya. Akhirnya cerdas cermat ditunda karena kami harus menyapu pecahan-pecahan gelas dan mencari gelas plastik yang lebih aman.

Sebenarnya masih banyak lagi 'kerusakan-kerusakan' yang saya perbuat, mulai dari yang kecil-kecil, seperti bolpoin yang menculat, hape yang hang, komputer yang blank dan lain-lain, tetapi ya itu tadi, sampai sekarang saya masih berusaha mengingat-ingat, kenapa ya, barang yang saya sentuh selalu rusak? Apa karena energi saya terlalu besar? Atau karena tangan saya mengandung gaya elektromagnetis? Atau jangan-jangan saya alien!
Saya berharap agar tak banyak orang seperti saya agar tak ada kerusakan yang lebih parah lagi di muka bumi ini.
Tetapi masalahnya, cowok saya, Greg, lahirnya juga:

WAGE!

*saya minta maaf banget kepada pacarnya Mas Inyong, yang saya rusakkan sepatu bootsnya, padahal kami belum pernah ketemu dan berkata-kata, semoga bootsnya sudah dijahit oleh Mas Andy karena setelah pulang dari pemakaman saya semaput, takut karena sepatu dan kepanasan serta kelaparan; saya juga minta maaf kepada Mas Eko semoga printer-nya baik-baik saja sekarang dan tak pernah macet; maafkan saya ya teman-teman kalau saya pernah merusakkan barang sampeyan! maturnuwun*

7 comments:

  1. kacanya kok isa gripil diapak ke mbak?

    ReplyDelete
  2. ha ha ha. aku punya temen dulu penghancur benda benda. sebenernya nggak seburuk itu sich...he he. cuma dia kerap kali menyenggol benda benda yang ada di sekitarnya. gelas, meja, kipas angin, asbak (yang penuh terisi abu dan puntung rokok di atas karpet) dan perkakas yang lain. selain itu dia juga menabrakkan dirinya terhadap pagar pintu kulkas dll. kami menjulukinya kebo. lucu juga melihat kecelakaan kecelakaan kecil yang tertimpa kepada dia. memang kadang nggak kesel juga dengan kebiasaan seperti itu karena disebabkan hanya kekurang hati hatian dan perhatian saja kok sebenernya, tetapi kadang kasihan juga lho. temanku itu, kami menjulukinya kebo, meskipun kerbau sebenarnya binatang yang cukup pasif dan tidak banyak berlarian sebagaimana kucing atau anjing atau ayam. Ah, semoga saja temanku 'Kebo' itu baik baik saja sekarang....

    ReplyDelete
  3. hahahaha :)
    kalau itu accident prone Mbak :)
    aku dulu juga gitu, hehehe, mungkin karena shionya kebo po yo? hihihihi :)

    ReplyDelete
  4. aku juga wage lho mbak... januari 12 wage, tapi nek saya wage identik dengan bandel, ngeyel, susah diatur, dan sesuatu yang kalo dalam kehidupan biasa dikenal dengan sifat yang minus2 (itu kalo dalam kelahiran), nah kalo barang yang dibeli waktu hari wage memang betul seperti apa yang ditulis diatas. tapi walaupun begitu ada plus nya juga lho...yaitu dalam pekerjaannya dia (wage) selalu ulet dan rajin, tak pernah istirahat sebelum pekerjaannya selesai, selalu penasaran dengan hal2 yang baru. jadi gak usah takut karena kita wage-ers wkwkwkwk :D

    ReplyDelete
  5. Aku anak senin Kliwon.. Kabarnya wong sing lair Senin Kliwon pinter bohong dan katanya banyak bicara dan mudah dipermalukan tapi baik hati (woh, aku bakat dadi robin hood no). Tur nyatane aku menengan dan karena pendiam itu mungkin aku jadi ra tau ndobos dan sulit dipermalukan kali yo. Ha ha ha...

    ReplyDelete
  6. @Bakti: hahahaha, mesti ngapusiiiii nek kw pendiam :p hahaha, kw kan pendiam kepeksa :p

    ReplyDelete
  7. @iKA gadiscoklat: hehehe. gripil karena tiba jeng :p

    @Banna: hehehehe, ternyata dikau juga Anak Wage to :) hehehehe, sip sip Mas :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...