Saturday, April 23, 2011

145 cm?

Ya.
Tinggi saya hanya 145 cm.
Ah, satu-setengah-meter saja tak sampai.
Kata ibu saya, dulu waktu saya lahir saya keciiiiiiiiiil sekali.
Katanya hanya seukuran botol akua.
Saat kelas 6 SD, saya masih ingat sekali, tinggi saya hanya 129 cm. Padahal teman-teman SD saya tinggi-tinggi dan besar-besar. Makanya, saya selalu dipanggil Unyil oleh guru-guru, dan berlanjut saat saya SMA, saya juga masih saja dipanggil Unyil oleh teman-teman sekelas.
Saya ingat, waktu SMA, pernah saya diajak makan di sebuah restoran oleh keluarga teman saya yang kaya. Saat menunggu makanan, ibu teman saya berkata dengan nada yang sinis:
kamu kecil sekali ya, nggak diberi makan cukup ya sama orangtuamu?
Saya hanya tersenyum getir.
Ah, tapi kadang-kadang, menjadi kecil dan pendek bisa menguntungkan. Seperti saat saya masih kelas 1 SMP, saya dan teman saya, Sofia sepakat untuk menonton konser Sheila on 7 di Mandala Krida. Seingat saya, konser itu gratis tis tis. Hanya dengan menunjukkan sepuluh sachet shampo anti ketombe yang menjadi sponsor utama saja, lalu kita dapat masuk dan menonton konser Sheila on 7. Tentu saja saya suka dengan yang gratis-gratis semacam ini!
Ahay! Dengan semangat empat lima, pagi itu saya dan Sofia sudah janjian di depan Mandala Krida. Dan waow, lautan manusia telah menanti kami.
Saya berbisik ke Sofia, gila, gimana caranya kita masuk ke stadionnya, Sof? Saya kok jadi ragu dengan ini, kata saya sambil menunjukkan bungkusan sampo yang saya pegang. Bener nih, kita nggak nukarin sampo-samponya jadi tiket masuk atau apa? Sofia menjawab, kan di iklan radionya bilang kalo shamponya jadi tiketnya.
Jadilah, saat ada pengumuman pintu stadion dibuka, tiba-tiba saja gelombang manusia menerpa kami berdua. Kami berdua sontak berlari menuju pintu stadion yang kecil yang dijaga dua orang sekuriti yang bertubuh kekar dan bertampang menyeramkan. Tak ada yang mengantri. Semuanya berdesak-desakan ingin masuk. Sesak, berjubel, digencet sana digencet sini, dan sesak napas. Dan saat saya mendongak di antara tubuh-tubuh tinggi besar yang menggencet saya, saya mengumpat, sial! Pintunya masih jauh dan saya berada di tengah-tengah kumpulan manusia yang saling mendorong.
Saya tak mau perjalanan saya naik bis dari rumah dan bangun pagi sia-sia, jadi saya memutar otak, bagaimana caranya agar saya bisa masuk stadion.
Saya mendongak ke bawah, dan saya melihat ada celah-celah di sela-sela kaki-kaki. Sampeyan tahu apa yang saya lakukan selanjutnya?
Saya membungkuk dan saya berlari menerobos kerumunan di antara sela-sela kaki-kai orang-orang. Saya masuk di tengah-tengah kaki mereka, berjalan dengan mata setengah terpejam, menerobosi selangkangan, dan terus berjalan hingga ada cahaya matahari yang terang benderang di depan saya:
pintu masuk stadion!
Dan tiba-tiba saja saya sudah berdiri di atas lapangan berumput yang luas sekali. Waow, saya berhasil masuk ke stadion! Yeeehaaaa!
Saya melompat-lompat senang sekali. Bahkan saya lolos dalam pemeriksaan tiket sepuluh sachet shampo anti ketombe.
Lima menit kemudian baru saya sadar, saya sendirian. Sofia tidak ada di samping saya. Saya agak panik karena saya benar-benar merasa ada di tengah lapangan maha luas dengan ribuan orang dan saya sendirian.
Saya menunggu Sofia di dekat pintu masuk, dan beberapa menit kemudian ia muncul. Jilbabnya sudah mencong kesana kemari karena terdesak-desak.
Dan kami berdua tertawa-tawa senang karena berhasil masuk.
Jadilah kami berada di barisan depan, dekat sekali dengan panggung dan bernyanyi-nyanyi gembira sambil melihat Sheila on 7 di atas panggung.
Waktu itu kami berdiri beberapa meter dari pagar pembatas penonton dengan panggung, jadi kami bisa melihat dengan jelas para personil Sheila on 7.
Beberapa lagu kemudian, penonton yang semula jinak menjadi liar.
Kami berdua didorong-dorong dari belakang, dan gelombang pendorongan yang sangat kuat melanda. Kembali lagi saya merasakan perasaan tergencet, sesak napas, dan dihimpit oleh tubuh-tubuh dan bau keringat.
Jarak antara saya dan Sofia semakin lebar karena entah dari mana gelombang manusia ini merangsek maju seakan-akan semuanya ingin melihat Sheila on 7 dari dekat. Saya tiba-tiba sangat takut. 
Saya berteriak, Sofiiiii, pegang tanganku!
Tapi Sofia sudah berjarak beberapa meter dari saya dan tangan saya terlalu pendek untuk menggapainya. Akhirnya saya memutuskan untuk berjuang sendirian. Saya ikut-ikutan merangsek maju. Beberapa kali kacamata saya melesak dan hampir jatuh. Saya tekan erat-erat kacamata saya. Saya berusaha maju ke pagar pembatas. Dan saya berhasil.
Saya punya skenario.
Saat saya sudah ada di depan pagar pembatas dan tangan saya bisa memegang pagar pembatasnya, saya harus berusaha keras agar para penjaga yang kekar dan menyeramkan itu melihat saya.
Tujuan saya: masuk ke dalam area panggung dan meninggalkan lautan manusia yang mulai menggila.
Keringat dingin mulai mengalir. Saya sesak napas. Dan panas matahari pukul 12 siang menggerus kepala saya yang berketombe. Panas dan sesak. Dan para penjaga masih belum melihat saya. Tiba-tiba ada air yang entah dari mana mengguyur kami semua. Byur! Saya basah kuyup. Dan kepanasan.
Dan saat itulah ada satu penjaga yang melihat saya karena mendengar teriakan saya. Ia lalu mendekati saya, dan saya spontan berteriak:
Pak, Pak, tolong, Pak, saya kegencet!
Dengan sigap, si bapak kekar menarik tangan saya, dan mengangkat tubuh saya, dengan mudah tentu saja, karena saya hanya 130 cm dan 30 kg waktu itu. Entah apa yang saya rasakan. Saya merasa tubuh saya diangkat tinggi, di atas kepala-kepala yang menghentak dan kaki-kaki yang mengamuk maju.
Saya lalu digendong dan dibawa ke belakang panggung, didudukkan lalu ditinggal begitu saja.
Ah, maafkan saya, Sofia. Saya tak kuat berada di sana.
Jadilah sepanjang konser, saya hanya melihat punggung-punggung para personil Sheila on 7 dan duduk sendirian di atas tanah sambil mengangguk-angguk mengikuti irama lagu. Saya sempat khawatir karena sekarang saya sendirian dan saya tak tahu bagaimana caranya keluar dari kumpulan manusia yang menggelora di luar sana.
Tak terasa, konser selesai, dan sampeyan tahu apa yang terjadi?
Para personil Sheila on 7 bergerak mundur ke belakang panggung dan melewati tempat saya duduk. Saru persatu mereka datang dan melihat saya.
Saya tersenyum dan menegakkan badan.
Mereka tersenyum. Dan Shakti sempat menepuk-nepuk kepala saya.
Waow!
Seorang gadis remaja usia 13 tahun yang kelelahan karena baru saja digencet-gencet melihat idolanya dengan jarak hanya beberapa senti saja, dan bahkan sempat melakukan kontak fisik. Ahay!
Saya ingat sekali, waktu itu saya seperti terbang.
B-a-h-a-g-i-a.
Dan akhirnya saya pulang sendirian, berjalan kaki, tanpa tahu di manakah Sofia yang tak tahu rimbanya.

Jadilah sampai sekarang, saya tak pernah menonton konser di stadion lagi.
Tapi, walau begitu, saya tetap bangga menjadi orang kecil.
Hidup orang kecil!
Small people will rule the world!
Saya dengan teman dari Darfur, Sudan yang tinggiiiiiii sekaliiiiii.

8 comments:

  1. ow,,, ow,,,, rupanya seperti itu,,, pandai x anak kecil ini,, aku dibiarkan pulang jalan kaki sendirian kayak anak kucing basah kuyup kehilangan induk kucingnya.....

    ReplyDelete
  2. hehehe..
    maaf ya jeng Sofiaaaaa :D
    maaaaaaaaaf!

    ReplyDelete
  3. apik van slogane, manusia kecil menguasai dunia. Ngeri kuwi, haha.

    See also: http://nyasardihollywood2.blogspot.com/2011/04/pemuda-bergigi-besar.html

    ReplyDelete
  4. hahaha :D
    sip bro :) aku akan menengok si pemuda bergigi besar :)

    ReplyDelete
  5. sigh... bagus sekali ceritanya mbak... luv it!

    ReplyDelete
  6. hehehehe :) makasih yaaa :) masih banyak cerita-cerita aneh dan seru lainnya! aku kadang heran juga, kenapa aku selalu mengalami hal-hal aneh seperti ini. hehehe :D btw, makasih sudah mengunjungi si kurakura :)

    ReplyDelete
  7. Entah kenapa aku kesasar ke tulisan ini...
    Merasa senasib mungkin..?

    Memang benar bertubuh kecil membawa keuntungan tersendiri.
    Misalnya pas naik angkot. Gara-gara pake rok biru + kemeja putih, disangka anak smp n cuma disuruh bayar separuh. Hehehe...

    Ah, tapi saya masih patut berbangga diri. Karena saya lebih tinggi 2 SENTI ! (147 cm). Hahaha... (meski tinggi saya gak berubah sejak lulus SD).

    As fellow small people, let's rule the world! Hahahahaha

    Salam kenal ya mbak ^_^

    ReplyDelete
  8. hahaha.. lucu bgt ceritanya, like it! Small people will rule the world,, kereeenn!!

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...