Friday, April 29, 2011

Semarang!

Ini kali ketiga saya pergi ke Semarang.
Yang pertama, dulu sekali, sekitar Agustus 2007. Waktu itu kami berempat naik motor dari Jogja menuju Semarang dengan tujuan pergi ke Kota Lama dan Lawang Sewu. Victor, Pius, Greg dan saya.
Yang kedua, November lalu saat saya hendak ke Bali dan harus transit ke Semarang dulu karena pesawatnya hanya akan berangkat dari Semarang sehubungan dengan meletusnya Merapi.
Dan sekarang, saya sedang menulis huruf-huruf elektrik ini di kamar kos sahabat saya, Pius, sementara Greg dan Pius sedang entah di luar sana. Semoga mereka membawa mantol karena di luar hujan deras plus geledeg mahabesar bertempur di atas sana.

Thursday, April 28, 2011

Hobi Baru: Masak!

Saya termasuk seorang perempuan yang jauh dari dapur.
Saya tak bisa memasak apapun. Merebus air saja kadang lupa, sampai-sampai ceret bolong dan tutupnya meleleh karena kelamaan di atas kompor yang menyala. Menanak nasi di rice cooker pun hasilnya hanya ada dua: kadang masih mentah dan seringnya lembek. Jadilah Greg yang lebih sering memasak daripada saya. Seperti hari ini saat sore yang melelahkan setelah saya memberi kuliah pada mahasiswa Arsitektur UTY, Greg menawarkan diri untuk membuatkan saya 'menu rahasia'.
Saya hanya manut. Jadilah saya menunggu sambil membaca novel sedang Greg sibuk di dapur. Kadang saat saya penasaran, saya mengintip-intip tapi Greg bilang, hush, ayo pergi pergi, biar saya saja yang masak!

Wednesday, April 27, 2011

Cerita dari Kampung #4: Awas, Ada Ninja!

Kampung saya terletak di belakang deretan toko-toko bakpia Pathuk.
Namanya Ngadiwinatan. Dan kali ini, saya akan bercerita tentang sebuah kejadian yang terjadi hampir duabelas tahun yang lalu.
Awalnya tak ada yang tahu bakal ada kejadian luar biasa yang terjadi di kampung saya. Tak ada juga yang punya firasat akan ada sesuatu yang luar biasa yang akan terjadi di dalam rumah saya.

Malam itu, seperti biasa, kampung mulai sepi setelah jam 9 malam. Hanya suara televisi-televisi yang terdengar dari setiap bilik rumah dan lorong kampung yang lengang. Lampu-lampu neon berpendar di setiap gang. Sinarnya menarik beberapa serangga pencinta cahaya. Malam seperti biasa. Malam hendak bersiap-siap untuk tidur dan menarik selimutnya hingga ke dagu.
Dan saya sedang terlelap di dalam kamar saya. Sendirian.
Saya masih punya kamar waktu itu, karena adik saya yang bungsu belum lahir. Jadilah saya terlelap sendirian dengan cahaya bulan yang menyoroti wajah saya. Sinarnya masuk dari genteng kaca di atas tempat saya berbaring.
Malam cerah.

Tuesday, April 26, 2011

Episode Adik #3: Tentang Wisnu

Selamat berjumpa lagi dalam Episode Adik! Kali ini saya akan bercerita tentang adik saya yang bungsu, setelah beberapa waktu lalu saya sempat bercerita tentang adik saya yang mandinya lama dan adik saya yang lain yang kalau tidur tak boleh ada suara. Nah, kali ini saya akan bercerita tentang Wisnu, si kecil yang pemalu tapi hiperaktif. Yang selalu lengket dengan saya dan yang berjarak 19 tahun dengan saya. Inilah Muhammad Ilmi Wisnu Wardhana.

Monday, April 25, 2011

Dialog tentang Nama


1.
Banyak orang yang bertanya kenapa nama saya in-va-ni.
Banyak yang salah mendengar menjadi in-sa-ni.
Ada juga yang bilang nama saya seharusnya in-va-si.
Karena ayah saya suka menginvasi ibu saya sampai pagi.
Lalu saya bertanya kepada ibu, kenapa nama saya in-va-ni.
Ibu saya menjawab dengan pelan dan hati-hati.
Karena awalnya ibu saya ingin menamai saya in-fa-ki.
Dari kata in-fak, agar banyak orang yang meng-infak-i saya nanti.
Tapi setelah tahu fak itu artinya apa, ibu saya mengurungkan niatnya dan merubahnya menjadi
in-va-ni.

2.
Banyak orang yang bertanya kenapa nama saya le-la.
Apakah saya lahir di malam hari seperti kata arab la-i-la.
Ada juga yang bilang saya bakal tak bertuhan karena la-ila
dalam bahasa arab berarti tak-ada-tuhan.
Tapi saat saya kembali bertanya kepada ibu saya,
mengapa saya diberi nama le-la,
ibu hanya menjawab, kamu lahir jam satu siang saat matahari panas membara.

3.
Banyak orang yang bertanya kenapa nama saya her-li-a-na.
Kalau yang ini saya bisa menjawabnya.
Her dari potongan nama ayah saya.
Liana dari potongan nama ibu saya.
Tapi ibu saya memotong, bukan hanya itu saja!
Saya suka sekali dengan Herlina si Pending Emas yang berjuang di Papua!
Dan saya ingin kau punya nama itu agar kau seberani Si Pending Emas: Herlina!

NB:
Pada usia 18 tahun, Herlina menjadi wanita pertama yang mengelilingi Indonesia. Pada usia 20 tahun, ketika Indonesia berjuang penuh gelora membebaskan Irian dari cengkeraman Belanda, ia pun ambil bagian di dalamnya. Ia menerbitkan koran perjuangan. Ia diterjunkan ke belantara Irian. Ia berani menghadapi maut yang menghadang di mana-mana. Tuhan menyertainya. Ia diselamatkan oleh putra-putra Irian. Kemudian ia kembali lagi ke sana, mengarungi lautan pertarungan antara hidup dan maut. Ia satu-satunya wanita yang bergerilya di sana, hingga tiba masa gencatan senjata, sampai kembalinya Irian ke pangkuan Ibu Pertiwi Tercinta.
Ia Srikandi Indonesia, si Pending Emas: Herlina!
(dari review Buku Bagus http://www.bukubagus.com/page_produk_detil.php?kd_prod=NNTS45)

Sunday, April 24, 2011

Mencret di Bandung

Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke Bandung. Hanya sehari saja dan bermalam di kereta. Saya juga sempat mampir ke rumah Amanda dan sarapan roti Gempol yang enak dan mengenyangkan itu. Oya, Amanda waktu itu sempat meminta saos yang wadahnya seperti jerigen kecil. Dan waow! Saos roti Gempol enak sekali! Saos sambalnya tebal dan pedas manis, ada banyak rasa tomat dan cabai dengan proporsi yang sempurna menurut saya. Wah, saya kan suka sekali tomat! Jadilah saya menuangkan banyak-banyak saos sambal roti Gempol dan mencolek-coleknya dengan brown bread yang dilelehi keju dan mayones, slurp!
Setelah makan roti Gempol, jadilah kami berdua balik lagi ke rumah Amanda. Ngobrol-ngobrol, ngeteh dan makan camilan.
Amanda mengeluarkan bungkusan dari lemari esnya. Katanya, ini enak Van, pedes tapi enak. Saya melirik ke bungkusan plastik yang mendingin karena sempat tidur di dalam kulkas beberapa lamanya.
Ada tulisannya: keripik seuhah.
Saya tanya, apa sih seuhah itu? Bahasa Sunda ya?

Saturday, April 23, 2011

145 cm?

Ya.
Tinggi saya hanya 145 cm.
Ah, satu-setengah-meter saja tak sampai.
Kata ibu saya, dulu waktu saya lahir saya keciiiiiiiiiil sekali.
Katanya hanya seukuran botol akua.
Saat kelas 6 SD, saya masih ingat sekali, tinggi saya hanya 129 cm. Padahal teman-teman SD saya tinggi-tinggi dan besar-besar. Makanya, saya selalu dipanggil Unyil oleh guru-guru, dan berlanjut saat saya SMA, saya juga masih saja dipanggil Unyil oleh teman-teman sekelas.
Saya ingat, waktu SMA, pernah saya diajak makan di sebuah restoran oleh keluarga teman saya yang kaya. Saat menunggu makanan, ibu teman saya berkata dengan nada yang sinis:
kamu kecil sekali ya, nggak diberi makan cukup ya sama orangtuamu?
Saya hanya tersenyum getir.

Friday, April 22, 2011

Manusia, Manusia

Sudah banyak manusia-manusia yang saya temui.
Sudah banyak tangan-tangan yang saya sentuh.
Sudah banyak mata-mata yang saya tatap.
Sudah banyak sapa yang saling kami tukar.
Sudah banyak tubuh-tubuh yang saya peluk.
Sudah banyak senyum dan tawa yang saling kami bagi.
Pun sudah banyak tangis yang saling kami cuci.
Dan masih saja wajah-wajah mereka membekas dalam setiap ingatan saya.
Mata-mata yang menatap tajam kepada saya.
Mata-mata yang berbicara dalam diam.
Mata-mata yang mengajak saya masuk melesak ke dalam dunia mereka.
Tanpa harus berkata-kata atau mengeja.
Tanpa harus dituliskan dengan kata yang berbunga-bunga.
Manusia, manusia!

Thursday, April 21, 2011

Kartini Kecil yang Hilang

Pagi ini saya baru sadar kalau hari ini Hari Kartini.
Itu pun setelah saya melihat serombongan andong yang berparade melintasi Nagan Lor dengan serombongan anak-anak TK yang duduk manis di andong lengkap dengan kebaya imut mereka yang warna-warni, selop yang agak kebesaran, dan wajah yang tebal bermake-up dengan bibir merah dan pipi bertabur bedak. Mereka tertawa-tawa sambil saling bersenda gurau dengan teman-teman mereka yang berpakaian surjan dan berblangkon.
Ah, tiba-tiba saja saya teringat dengan masa-masa saat saya TK dan seperti hari ini, waktu itu Hari Kartini, duapuluhsatu tahun yang lalu.

Wednesday, April 20, 2011

Malam Sayuran!

Selama dua tahun terakhir ini, kami (Greg dan saya, maksudnya) tidak lagi mengkonsumsi daging merah (dari hewan berkaki empat). Greg malahan tak makan daging sama sekali, kecuali ikan. Nah, jadilah kami punya ide untuk masak (lagi!), kali ini makan malam, dan temanya adalah: s-a-y-u-r-a-n!
Adik-adik saya masih menemani kami dan siap sedia untuk membantu lagi di dapur. Jadilah, kami berbelanja sayur-sayuran dan spageti dan makaroni.
Hmm, sepertinya dapur YPR akan ramai lagi malam ini!

Tuesday, April 19, 2011

Hari Memasak untuk Wisnu

Yay! Saya memasak lagi!
Kali ini saya mengajak adik-adik saya untuk memasak bersama untuk Wisnu. Saya dan Nunna belanja di pertigaan Patehan Tengah, di dekat IVAA, berbelanja sayuran dan bumbu-bumbu pada sebuah pick up yang diubah menjadi semacam pasar berjalan. Ternyata lengkap juga lho! Semua ada!
Kami berbelanja menghabiskan 15 ribu rupiah, untuk porsi 5 orang! Aw!
Murah meriah dan hore-hore!
Kami rencananya hendak makan siang bersama dan mencoba menu masakan rumah yang sangat biasa, yaitu oseng-oseng tempe dengan kacang panjang. Tapi saya pikir, apapun makanannya kalau kita makan dengan orang-orang yang kita sayangi, pasti akan semakin nikmat!
Jadi ini dia rekam proses masak memasak itu di dapur YPR di Nagan Lor yang menyenangkan:

Monday, April 18, 2011

Seorang Cina di dalam Kurungan Ayam

Tam Lum, sang Chickencoop Chinaman.
Apa?
Seorang Cina di dalam kurungan ayam?
Ya. Alias Chickencoop Chinaman.
Sebuah naskah pertunjukan yang ditulis oleh Frank Chin yang membuat saya sangat tertarik untuk memvisualisasikannya.
Dan catatan ini adalah untuk mengapresiasi sebuah karya dan kerja keras kami, saya dan teman-teman angkatan 2005 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Sanata Dharma yang mementaskan karya ini pada tahun 2008 yang lalu.
Sebuah cerita tentang seorang Cina-Amerika bernama Tam Lum, seorang filmmaker yang ingin membuat film dokumenter tentang seorang petinju berkulit hitam bernama Ovaltine. Ia pergi ke sebuah ghetto di Pittsburgh dan menumpang sementara di rumah sahabatnya, seorang Jepang-Amerika bernama Kenji yang tinggal dengan pacarnya, Lee yang punya seorang anak bernama Robbie. Permasalahan muncul karena Charley Popcorn, ayah Ovaltine tak mau anaknya difilmkan oleh seorang Cina-Amerika.

Sunday, April 17, 2011

Sarapan Roti Gempol

Beberapa hari yang lalu saya ke Bandung.
Dan saat disana, saya dengan semangat mengunjungi kawan saya, Amanda Mita. Nah, pagi-pagi saya sudah sampai Stasiun Bandung, dan meski sempat kesasar naik angkot dan muter-muter tak tahu arah, saya akhirnya ketemu di tengah-tengah Jalan Katamso. Karena saya lapar, saya bertanya, dimanakah tempat sarapan yang enak (saya pernah melihat tulisan tentang sarapan roti di blognya Amanda dan saya kepengen mencoba). Jadilah, kami naik angkot lagi dan jalan kaki, masuk di antara gedung-gedung dan rumah-rumah yang bergaya, lalu sampailah kami ke Roti Gempol, yang sudah ada sejak tahun 1958.
Dan, ah! Akhirnya saya bisa sarapan juga.
Sampeyan pengen tahu saya sarapan apa? Menurut rekomendasi Amanda, roti telur mayones sangat menarik untuk dicoba. Ini dia:

Saturday, April 16, 2011

Di Balik Jubah Wisuda

Jadilah saya ikut wisuda di bulan April ini.
Mengapa?

Pertama, karena saya adalah orang pertama di keluarga saya yang diwisuda.
Ya. Ayah dan ibu saya tak selesai menuntaskan pendidikan tinggi mereka. Dan saya punya empat orang adik yang lucu-lucu yang ingin tahu wisuda itu apa.

Kedua, karena saya ingin punya kebaya sendiri. Seumur hidup belum pernah saya punya kebaya. Agak memalukan mengingat sebagai perempuan Jawa, saya kok tidak pernah punya sekebaya satu pun! Terakhir kali saya dikebaya'ni itu waktu kelas empat SD jadi tukang kipas manten dengan kipas bulu warna pink menyala. Setelah itu, tidak pernah sampai tadi pagi. Dan saya ingin kebaya yang benar-benar saya, maka saya minta bantuan Mas Ardian, seorang disainer kebaya dan pebatik untuk memvisualisasikan keinginan saya yang cukup ekspresif tentang sebuah kebaya. Jadilah kebaya warna hijau toska dengan aksen obi pink dan syal (tentu saja) pink dengan jarik merah-hitam karya Mas Ardian sendiri. Saya jadi ingat kata-kata Mas Ardian waktu ia mengepas kebaya itu ke tubuh saya yang akhir-akhir ini melar:
Bajulah yang harus mengikuti kita, bukan kita yang harus mengikuti baju.

Friday, April 15, 2011

Gorengan India

Angkringan ala Tamil. Warna gerobaknya yang biru mengingatkan saya
pada gerobak mi ayam yang kebanyakan warnanya biru. Kenapa ya?
Wah, sudah lama saya tidak menulis tentang makanan!
Kali ini saya ingin mengajak sampeyan ngicipi gorengannya orang Tamil, yang tidak suka gorengan mbaca saja ndak apa-apa.

Saya ngicipi gorengan ini waktu saya ke Tamil Nadu beberapa waktu yang lalu.
Waktu itu saya sempat nongkrong di angkringan'nya penduduk setempat, di daerah Karur, dan melihat bagaimana para suami-istri kompak dalam goreng menggoreng dan celup mencelup. Saya sempat kaget juga melihat lombok hijau besar-besar yang juga dijadikan cemilan. Wah, cemilannya lombok ijo! Saya ndak beli yang itu, tapi saya beli beberapa gorengan yang saya cemil di tempat dan beberapa saya bungkus untuk teman makan di perjalanan. Dan ternyata, gorengannya pedas semua!

Thursday, April 14, 2011

Sungai-sungai Tamil

Dalam setiap perjalanan naik bis, kereta, atau alat transportasi apapun, saya selalu dengan semangat menengok ke jendela terhadap dua hal ini: jembatan dan sungai. Tak tahu kenapa. Saya suka sekali jembatan dan sungai. Dan ketika beberapa waktu yang lalu saya melewati sungai-sungai besar dalam perjalanan ke timur dan barat pulau Jawa, tiba-tiba saya teringat dengan sebuah sungai di Tamil Nadu, India Selatan.
Saat itu saya dan rombongan teman-teman sedang naik bus hendak menuju ke beberapa kuil-kuil Tamil, dan dalam perjalanan, kami melewati sebuah sungai.

Wednesday, April 13, 2011

Antara Indon dan TKW

Saya jadi ingat sesuatu.
Saat saya di Singapura beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk presentasi di sekolah internasional bernama United World College of South East Asia. Saya menghabiskan empat hari penuh dari pagi sampai sore di sekolah itu, bersama dengan para murid-murid kelas 5 dan guru-gurunya.
Nah, ada satu asisten guru yang baru pertama kali itu bertemu. Dengan ramah, ia menyapa saya,
'Dari mana?' *dengan logat Melayu*
Dengan bangga saya bilang, 'Indonesia'
Sampeyan tahu jawabannya apa?
'Aaaah, orang Indon!'
Saya kaget bukan kepalang. INDON?

Tuesday, April 12, 2011

s.e.n.d.i.r.i

Ya.
Saya pernah sendiri.
Merasa sendiri.
Seperti saat saya berada di pinggir pantai Kuta sendirian
dan melihat si anjing putih ini juga berjalan sendirian menyusuri pantai.











***
Atau,
kadang saya sedang ingin sendiri.
Seperti saat saya memandang si ayam jago
yang bertengger di puncak gereja Pohsarang, Kediri.

Sendiri, menantang langit, dan melihat sekelilingnya.
Saya sedang ingin seperti si ayam jago.

Monday, April 11, 2011

Wong Ponorogo

Kakek saya asalnya dari Ponorogo.
Kakek yang saya maksud ini dari ibu saya. Kakek saya yang asli Ponorogo ini meninggal tiga tahun yang lalu. 
Saya menulis ini karena saya kangen dengan kakek-kakek saya.
Ya. Saya sudah tidak punya kakek lagi.
Kakek yang asli 'wong Ponorogo' sudah meninggal tahun 2008, dan kakek saya yang di Mojokerto juga sudah meninggal dua-duanya. Ya, saya memang punya tiga kakek dan tiga nenek. Dan ketiga kakek saya semua sudah meninggal, plus satu nenek. Tinggal dua nenek saja yang saya punya. Kadang kalau saya sedang di jalan, lalu berpapasan dengan kakek-kakek, saya selalu menyapa dengan senyum. Kadang saya mbrebes mili kalau melihat kakek-kakek mengemis di jalan.

Sunday, April 10, 2011

Anak Wage

Saya terlahir pada pasaran Wage.
Dan katanya, jangan membeli barang baru saat Wage. Mudah rusak.
Saya lalu mencoba mengingat-ingat apakah saya sering merusakkan barang-barang, baik milik saya ataupun orang lain.
Dan jawabannya adalah: YA.

Saturday, April 9, 2011

Jangkrik Keju, Syuting Sinetron dan Pedal Patah

Saya baru saja pulang setelah berkeliling kota naik sepeda listrik. Saya diboncengkan Greg.
Sepanjang jalan, saya baru menyadari kalau malam ini adalah malam minggu. Nol kilometer sangat penuh dan macet. Puluhan pasangan muda tampak berbinar duduk di bangku-bangku semen depan Benteng Vredeburg dan Istana Negara. Saling berpegangan tangan, melirik malu-malu, kadang ada yang saling meraba. Ah, darah muda!
Saya juga melihat para pesepeda yang asyik dengan sepeda mereka yang warna-warni dan berkilap. Hampir semuanya berwarna cerah neon. Oranye. Merah. Pink. Hijau. Kuning. Ungu. Saya melirik sepeda saya yang warnanya sudah saya ganti hijau toska yang ditempeli stiker oranye THE SEMELAHnya Mas Eko Nugroho. Seksi juga sepeda listrik saya, he-he-he.

Friday, April 8, 2011

Ketika Ibu-Ibu Turun ke Jalan setiap Jumat

Jumat minggu kemarin, pagi-pagi saya bersepeda ria keliling alun-alun dan pasar. Setiap saya meluncur di jalanan, saya selalu melihat serombongan ibu-ibu berpakaian lusuh dengan buntalan kain diselempangkan di pundak. Kebanyakan dari mereka berombongan 4-5 orang. Memakai rok-rok berwarna tanah dan topi lusuh. Beberapa di antaranya menggendong bayi dalam kain jarik yang juga ndak ketahuan warnanya.
Ah, ibu-ibu yang kembali turun ke jalan setiap Jumat.

Thursday, April 7, 2011

Chinatown Lagi!

Wah, tak habis-habis yang hendak saya bagi untuk sampeyan tentang Chinatown. Walau saya tunggang langgang takut didenda, tapi saya cukup puas dengan petualangan saya di Chinatown.
Kali ini saya akan memperlihatkan sudut-sudut Chinatown yang sempat tertangkap oleh mata saya, dengan segala renik dan pernik yang waow, Cina sekali!
Banyak sekali yang bisa dilihat, disentuh, dirasakan saat saya berjalan sendirian di lorong-lorong jalannya yang penuh dengan pedagang. Belum lagi lampion-lampion merahnya yang tergantung di sepanjang jalan dan gedung-gedung, lalu pedagang-pedagangnya yang berceloteh dengan bahasa Mandarin yang ramai dan riuh terdengar di telinga, serta bau dumpling dan segala macam olahan pork.

Wednesday, April 6, 2011

Denda oh Denda

Stasiun RMT yang seperti mall.
Masih bercerita tentang kota singa, sampeyan mesti tahu kalau Singapura itu negara yang penuh dengan denda. Apa-apa didenda. Buang sampah sembarangan didenda. Merokok di tempat umum didenda. Pas saya jalan-jalan di Chinatown, banyak sekali penjual yang memajang kaos bertuliskan 'Singapore is a FINE Country'. Tak sempat saya bidik, karena waktu saya dengan sangat pede ceklak-ceklek di toko, mereka langsung mendekati saya dan bilang, no photo, no photo. Wah, ya sudahlah.
Oya, jadi saya kemarin bercerita tentang pengalaman saya di Chinatown. Saya berangkat naik kereta cepat yang kadang di bawah tanah, kadang di atas tanah, yang namanya adalah RMT alias Rapid Mass Transit. Maklum, karena saya wong kampung, jadi saya sempat bingung masuk stasiunnya. Awalnya saya sok pede karena saya dibekali dengan peta, kartu langganan RMT yang langsung digesek saat kita masuk ke stasiun, lonely planet Singapura, bekal makan siang berupa tiga kerat roti kismis, satu pisang besar, satu roti gulung, dan botol minum besar berwarna kuning stabilo berisi air putih.

Tuesday, April 5, 2011

Chinatown yang Merah Menyala

Saya menyempatkan diri ke Chinatown karena saya tahu saya tak punya banyak waktu luang untuk berjalan-jalan di Singapura. Jadilah saya punya waktu "hanya" enam jam untuk berkeliling kota sendirian. Dan tujuan saya sangat klise, Chinatown dan Little India. Inilah wajah Chinatown yang penuh dengan warna-warna merah nan menyala, disertai dengan dengungan para penjual dan pembeli yang memadati ruas-ruas jalan Chinatown, dan saya sedang berada di Jalan Pagoda. Mengagumi bangunan-bangunan kunonya yang direstorasi dan berwarna-warni di tengah terik matahari jam satu siang.

Monday, April 4, 2011

Berlarian di Sepanjang Orchard Road

Kali ini saya hendak bercerita lagi tentang pengalaman saya di Singapura.
Hari pertama, sesegera setelah saya mendarat di Changi dan bertemu Pak Hassan, saya langsung menuju ke United World College of South East Asia untuk melihat sekolah dan berkenalan dengan guru-gurunya, karena saya akan menghabiskan banyak waktu di sana selama tiga hari ke depan.
Sorenya, saya diajak Craig, sang kepala sekolah baik hati yang mengundang saya untuk jalan-jalan di downtown, bersama dengan putri pertamanya, Sam.
Kami diberi waktu untuk berjalan-jalan berdua di sepanjang Orchard Road yang penuh dengan mall dan gedung-gedung besar itu.

Sunday, April 3, 2011

Kenapa Saya Takut Tikus?

Ya.
Saya memang takut tikus.
Apalagi saat saya bersepeda, dan di tengah jalanan Jogja selalu ada bangkai tikus yang sudah dhedhel dhuwel entah terlindas mobil, gepeng dan iiiih, membayangkannya saja saya sudah bergidik.

Saya punya pengalaman buruk nan traumatis sehubungan dengan mamalia pengerat itu. Saya masih ingat, waktu saya kelas empat SD, keluarga saya yang sedang jatuh bangkrut pindah ke rumah nenek saya karena tak mampu sewa rumah, jadilah kami sekeluarga dengan empat orang anak termasuk saya tidur berdesak-desakan di satu kamar.

Saturday, April 2, 2011

Kelaparan di Changi

Jadi, sampailah saya ke Singapura.
Ini kali pertama saya menginjakkan kaki ke kota singa ini.

Saat saya mendarat di bandara Changi, hawa yang terasa adalah modern, superbersih dan steril. Semua berjalan dengan cepat dan mekanis. Saya mengikuti arus orang-orang yang menatap lurus ke depan, lalu lalang, dan terkadang menabrak saya, lalu bilang, sorry, dan terus melangkah.
Saya menjadi arus yang menuju ke arah cek imigrasi, dan turun melalui eskalator besar dengan, apa itu?
Hah? Pakis raksasa?
Benar ternyata, pakis raksasa di tengah-tengah luasnya cek imigrasi, bahkan ada pohon pisang dan kelapa juga. Eh, beneran ada pohon pisang dan kelapa di dalam bandara? Ternyata hanya gambar, sodara-sodara!

Friday, April 1, 2011

Dari Balik Jendela

Selamat datang bulan April!

Wah, sudah sebulan ini saya absen dan tak menyapa sampeyan semua!
Dan sekarang, saya akan kembali berceloteh gaduh tentang apa saja yang saya temui selama sebulan ini, termasuk petualangan saya di Solo, Madiun dan Singapura, menjelajah Chinatown dan Little India, lalu berkeliling kota dengan sepeda 'baru' saya, serta cerita-cerita kecil tentang ini dan itu.


Saya akan mulai dengan cerita-cerita saya saat saya sedang di dalam pesawat menuju Singapura. Setiap saya naik pesawat, saya selalu meminta untuk duduk di pinggir jendela. Saya senang melihat awan-awan dan pemandangan kota dari atas, ketika semua berubah menjadi kotak-kotak kecil, petak-petak hijau, dan jalan-jalan raya yang mengular.
Saya ingat, pertama kali saya naik pesawat adalah ketika saya hendak pulang ke Jogja dari Jakarta sekitar awal 2006. Waktu itu paman saya menikah dan saya kebagian pulang duluan, dan pesawat pertama saya adalah Garuda jam 6 sore. Waow. Langitnya indah sekali! Saya seperti masuk ke dalam istana awan yang bergulung-gulung, berpendar-pendar seirama cahaya matahari, berubah dari oranye ke kuning terang, lalu merah muda keungu-unguan. Saya masih ingat sekali rasanya waktu itu, menikmati senja di atas sana.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...