Sunday, January 2, 2011

Tahu Thek Surabaya

Tidak terlampau sulit untuk mencari masakan Jawa Timur di kota ini. Ada banyak warung dengan judul besar-besar Cak Ini dan Cak Itu, baik itu warung sate, penyetan, soto dan yang lain.
Kali ini saya ingin mengajak sampeyan ke sebuah warung khas arek Suroboyo yang saya temukan di dekat Rumah Sakit Ludira Husada, atau dari Pasar Klithikan ke utara, kanan jalan kalau dari arah selatan.
Namanya: Tahu Thek asli Surabaya Cak San.
Hmm, saya sudah kepengen sekali mencicipi tahu thek dengan sambal petisnya yang uenak itu. Di Jogja, saya agak kecewa dengan sambal petis yang disediakan saat kita membeli tahu petis di warung-warung seputaran Alun-Alun Utara. Sambal petisnya manis! Kebanyakan gula jawa! Wah, semoga kali ini saya bisa mencicipi sambal petis asli yang warnanya kehitaman itu.
Jadilah saya ajak Greg yang belum pernah makan tahu thek.
Dan akhirnya kami nongkrong di warung tendanya Cak San yang berwarna hijau terang itu, sambil menunggu pesanan. Si penjual masih muda. Saya sering bercakap-cakap dengan basa jawatimuran, tapi saya curiga dia bukan Cak San. Dalam bayangan saya, yang biasa dipanggil Cak adalah seorang pria dewasa usia tiga puluhan ke atas, dan mas-mas yang sedang sibuk mengulek kacang dan petis itu masih sangat muda, sekitar dua puluhan.
Tak jadi masalah apakah dia Cak San atau bukan, yang penting saya akan menikmati sepiring tahu thek dengan sambal petis yang diimpor langsung dari Surabaya. Seporsi tahu thek lengkap dengan ketupat, sambal petis dan kerupuk dipatok harga tujuh ribu rupiah. Memang agak lebih mahal daripada gado-gado atau lotek langganan saya di dekat kampus, tapi saya begitu kangen dengan sambal petis, sehingga saya mau merogoh dua ribu ekstra. Daripada saya harus jauh-jauh ke Jawa Timur, he-he-he.
Oya, kalau sampeyan belum pernah makan tahu thek, atau belum punya bayangan seperti apakah tahu thek itu, mungkin tahu gimbal bisa dijadikan pembanding. Isi menunya hampir sama dengan tahu gimbal, atau tahu kupat. 
Ada ketupat, tahu, kentang, telur dadar dan taoge, hanya tak ada bakwan dan sambalnya bukan saus kacang, tapi sambal petis yang liat dan kehitaman yang dicampur dengan kacang tanah.
Ada yang menarik saat memasak tahu thek.
Pertama-tama, tahu digoreng bersama-sama dengan telur.
Tak perlu ada pisau untuk memotong tahu dan telur. Alih-alih pisau, si penjual menggunakan gunting besar. Yap! Gunting besar seperti gunting yang digunakan Paklik saya untuk memotong bahan sepatu di Mojokerto atau gunting yang digunakan Mbah Kakung saya untuk memotong lembaran-lembaran kulit untuk membuat tas.
Saya masih ingat, waktu SD, setiap liburan cawu saya berlibur ke rumah Mbah Kakung saya di Mojokerto.
Dan saya masih ingat, kakek saya yang sudah sepuh itu selalu menggunakan gunting khusus untuk memotong-motong makanan yang disediakan untuknya.
Dulu saya heran sekali, kok ada orang makan memakai gunting. Waktu itu kakek saya menggunting tempe dan tahu menjadi potongan-potongan kecil yang bisa langsung disantap dalam sekali suap.
Dan ketika saya duduk di dalam warung tenda Cak San ini, saya jadi ingat kakek saya (yang sudah almarhum), yang juga selalu menggunakan gunting untuk memotong-motong makanan. Menarik ya.
Setelah tahu dan telur digunting-gunting, sembari menunggu matang, sang penjual lantas menyiapkan sambal petis andalannya.
Kacang tanah diulek bersama dengan cabai sesuai pesanan. Saya selalu pesan satu cabai saja. Agak aneh memang, orang jawatimur yang tidak suka pedas adalah saya. Ya, saya kan hibrida dengan Jogja, jadi lidah saya separo penyuka pedas dan manis. Oya, tak lupa nanti sambal petis yang lengket dan kehitaman ikut dimasukkan ke dalam cobek besar ini lalu diulek bersama-sama dengan ulekan kacang tanah dan cabai tadi.

Piring yang sudah disiapkan pun telah siap dengan irisan ketupat dan tauge serta seledri. Tinggal cemplung-cemplung, sret-sret, jadi deh:
tahu thek Surabaya ala Cak San! Selamat makan semuanya!
Tahu Thek Surabaya a la Cak San, Yogyakarta.

9 comments:

  1. alamatnya mana nehh??

    ReplyDelete
  2. ini di seberang rumah sakit LUDIRA HUSADA. jadi di jalan besarnya. kalo dr arah utara sebelum pasar klithikan :)

    ReplyDelete
  3. neng kidule warung iki ono mi ayam bangka enak banget lho van. terenak se asia tenggara. B-) neng sebelah burjo.

    aku nyesel maem mi ayam itu, soalnya abis makan disitu, kalo aku maem mi ayam dimanapun jadi ga enak :D

    ReplyDelete
  4. ho'o to Bon?
    mi ayam Bangka? ketoke aku yo bendino lewat :)
    wah patut dicoba ki :) sip sip :)

    ReplyDelete
  5. pokoke neng kidule indomaret persis, sebelah burjo persis. mantab tenan..

    nek wis nyoba ditulis wae neng kene, tempat se-spesial itu...oohhhhhh.... *ngeces...

    ReplyDelete
  6. Tp skrg tahu thek cak san pindah sblh barat RS.Ludiro Husodo...

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...