Tuesday, January 4, 2011

Suralaya yang Hening

Akhirnya, tibalah kami di Puncak Suralaya.
Dan saya sempat terpana, karena ternyata kami masih ada di kakinya.
Untuk mencapai puncak yang sebenarnya, kami harus menaiki tangga yang tinggi sekali.
Wah, saya harus menata napas saya, pikir saya.
Saya yang punya asma dan sesak napas sudah berkeringat dingin, sedang Greg yang memang berhobi naik gunung langsung sumringah dan langsung ngacir ke atas, langkahnya enteng sekali seperti tak punya beban.
Dan dalam sekejap, Greg sudah ada di puncak tangga dan tak terlihat lagi oleh kami yang masih ada di bawah.
Saya agak menyesal karena saya memakai sepatu boots tebal yang berat sekali. Saya jadi seperti orang bodoh yang naik tangga dengan ngos-ngosan karena sepatu saya beratnya lima kilo. Huah! Saya sudah berkunang-kunang, padahal masih di tangga bagian bawah. Lalu saya copot sepatu saya, dan saya masukkan ke dalam tas punggung. Kali ini gantian punggung saya yang membungkuk. Untunglah Muhamad mau membawakan tas saya.
Dan ketika saya hampir sampai puncak, saya tak melihat Greg atau Muhamad lagi. Mereka menghilang di belokan. Dan Pius?
Pius tak ikut naik dengan alasan sudah pernah datang kemari, padahal alasan sebenarnya adalah karena ia takut ketinggian. He-he-he.
Eits, jangan anggap saya seperti pendaki yang sigap, tidak. Saya ngos-ngosan, mata berkunang-kunang dan dada saya sesak.
Wah, alamat buruk, pikir saya.
Karena kalau saya sudah berkeringat dingin, biasanya saya langsung pingsan tak sadarkan diri. Dan saya akan malu sekali kalau saya pingsan sementara saya ada di ujung tangga tahap pertama, yang saya kira sudah selesai, ternyata masih ada tangga lagi ke atas.
Wah! Jauh sekali, pikir saya.
Saya menelan ludah, dan memutuskan untuk istirahat sejenak. Menata napas mengelap keringat. Ada yang mengawasi saya di sini, yaitu Semar yang menempel pada tiang-tiang melengkung di sela-sela pepohonan.
Timbul keberanian dalam diri saya. Sudah jauh-jauh saya kesini, saya tak akan membiarkan kaki saya untuk istirahat dan hanya menyerah sampai di tanjakan ini. Saya segera bangkit dan melanjutkan langkah, tertatih-tatih, dan lama sekali. Hingga saya sampai di gardu pandang Puncak Suralaya yang hening, dengan beberapa orang yang sudah nongkrong di sana, termasuk Greg dan Muhamad. Saya langsung duduk. Tak kuat. Hawa panas tapi angin kencang.
Saya amati sekeliling.
Ada tiga pasangan yang bergerombol, berdiskusi entah apa.
Dan dua orang anak muda asyik dengan tombol-tombol ponsel kamera sibuk berpose.
Saya tersenyum.
Entah kepada siapa.
Karena nafas saya hanya mengijinkan saya untuk tersenyum, dan tak berkata-kata.
Masih sulit bernapas.
Saya menata nafas pelan-pelan, sambil menenangkan pikiran.
Greg dan Muhamad mengajak saya bicara, tapi saya hanya diam saja dan tersenyum.
Tenggorokan saya kering.
Bibir juga kering.
Setelah beberapa menit, semua kembali normal. Tak lagi berkunang-kunang.
Saya berusaha untuk berdiri dan melihat alam sekitar. Hmm, indah sekali. Saya mendengar tentang perdebatan di manakah letak Borobudur yang dapat dilihat dari gardu pandang ini.
Itu lho!
Bukan! Agak ke kiri!
Mana sih?
Itu lho! Kecil sekali dari sini!
Yang hitam-hitam itu?
Bukan, sebelahnya!
Saya jadi ikut-ikutan mencari. Dan tak menemukan. Mungkin karena minus saya sudah lima, silinder pula, jadi semakin tak terlihat oleh mata kecil saya. Tak apa. Saya nikmati saja udara yang sepoi dan hamparan hijau membiru di depan saya.
Di mana-mana ada bukit dan pohon.
Biru dan hijau.
Saya mendengarkan obrolan Greg dan Muhamad tentang Suralaya. Bahwa di tempat ini selalu diadakan ritual jamasan (memandikan) pusaka Keraton setiap awal bulan Sura. Bahwa saat ritual ini, Puncak Suroloyo akan penuh sesak dengan orang-orang yang ingin ngalap berkah. Bahwa jika terjadi banjir bandang menyapu Jawa, maka larilah ke Puncak Suralaya, maka niscaya akan aman.
Dan sebagainya. Saya menyimak saja.
Setelah hampir satu jam, kami memutuskan untuk turun, karena tiba-tiba kami teringat dengan Pius yang menunggu di bawah, menjaga
i motor-motor kami yang diparkir di bawah pohon talok.

Untunglah, saat turun tangga lebih mudah daripada saat naik.
Kami akhiri perjalanan kami dengan nge-teh di warung dekat kaki tangga, dan menunggu lama, karena ternyata untuk mencari air saja, butuh waktu setengah jam untuk turun ke sendang terdekat yang ada di bawah dengan menggunakan sepeda motor. Jadilah kami ngobrol lagi sambil menikmati ceriping.
Dan dalam setengah jam berikutnya, kami sudah bertolak menuju Jogja.

Kyai Semar.
Di gardu pandang, ada grafiti menarik:
cinta mati = love dead.
Kalau teman saya, Ginting, melihat ini, pasti sudah ditulisnya di Lidahibu. Ha-ha-ha!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...