Friday, January 7, 2011

Sepeda Listrik!

Sampeyan tahu kan, kalau saya ndak bisa naik sepeda motor?
Nah, kali ini saya mau pamer.

Saya punya sepeda baru!

Sepeda saya yang lama, si jengki berwarna perak telah tutup usia karena tua dan sakit-sakitan. Si jengki perak ini dulu saya beli murah sekali, empat ratus ribu saja di toko sepeda di bilangan Jalan Katamso.
Namanya saja sepeda cina yang diproduksi massal, jadi ya memang cepet rusak. Padahal saya membeli sepda pertama saya itu dengan gaji pertama saya menjadi guru di desa Turgo, lereng Merapi sekitar empat tahun yang lalu.
Ya, tidak apa-apa.
Setelah kemana-mana selalu merepotkan orang lain, atau kadang rela berjalan kaki dan seringnya naik bis transjogja yang superlama nunggunya, saya sekarang bisa agak bernafas lega.

Saya punya sepeda baru!
Nah, sepeda saya kali ini adalah sepeda listrik.

Hibrida dari sepeda dengan aki yang berat sekali, tapi tak perlu dikayuh.
Sebenarnya agak dilema juga.
Saya tahu, para penyepeda sejati takkan mau memakai sepeda saya.
Sepeda bohong-bohongan.
Yang namanya sepeda ya harus dikayuh.
Kalau pengen nggak capek ya sekalian naik mobil saja.
Dan para pengendara sepeda motor juga tak mau memakai sepeda saya.
Wah, ngapain beli kayak ginian? Mending beli miyo.
Nggak praktis, kalau habis aki gimana?
Wah, hanya bisa dipakai di dalam kota saja. Rugi.

Ya, memang benar.
Saya sebenarnya pengen belajar naik sepda motor, tapi kaki saya tak pernah sampai. Jangankan kaki, jempol saya saja tak pernah menyentuh tanah saat saya naik sepeda motor yang bahkan sudah diceperkan. Tragis ya.

Dan saya ingin tetap bersepeda tapi tidak terlalu kepayahan.
Curang ya. Lha saya kadang merasa nggak enak sekali selama lima tahun ini menjadi parasit yang menempel di punggung Greg, harus nebeng sepeda motornya yang juga sudah uzur itu.


Jadilah saya membeli sepeda listrik di sebuah toko sepeda besar di Jalan Katamso. Saya naksir yang merah sebenarnya. Dan ternyata, begitu saya coba, lagi-lagi jempol kaki saya tak bisa menyentuh tanah! Huaaaaa!
Kenapa saya pendek sekali ya?
Saya meminta mas-masnya untuk merendahkan sadel, dan sampeyan tahu, kaki saya tetap melayang di udara.
Wah, terpaksa dengan agak dongkol saya memilih yang biru, si mini.
Dan oh oh. Jempol saya hampir menyentuh lantai!
Hampir.
Saya merah sekali karena malu.
Saya meminta mas-masnya untuk merendahkan sadel sekali lagi, hingga mentok ke pangkalnya.
Dan okelah, saya bisa menapak dengan ujung jempol saya.


Ketika sudah sampai di YPR untuk dicoba, wah, ternyata ada gas-nya.
Waduh, sama saja dengan sepeda motor dong!
Saya seperti orang naik kuda saja.
Tersendat-sendat dan meloncat-loncat.
Keringat dingin menetes saat saya mencoba sepeda baru saya pelan-pelan.

Huaaaaaaa!
Meluncur dengan sempurna di jalanan!
AKhirnya, saya bisa juga!


Eniwei, maaf karena kamera saya sedang ngambek jadi, tak ada foto hari ini.
Oya, tak lupa saya bilang
maturnuwun kepada Pakdhe Darwis atas sepeda listriknya yang ngejreng! Yuhuuuu!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...