Monday, January 10, 2011

Senja Biru di Candi Boko

Kata Greg pada suatu hari, kalau momen matahari terbit terindah bisa dilihat di Candi Borobudur, maka momen matahari terbenam terindah bisa dinikmati di Candi Boko.
Jadilah kami pergi ke Candi Boko bersama dengan Wisnu adik saya yang paling kecil.

Kami berangkat naik sepeda motor sore hari, sekitar jam empat dari rumah. Sampai di Boko hampir senja. Wah, tiketnya satu orang sepuluh ribu ya. Kami segera berjalan memasuki kompleks Candi Boko.
Suasana sore itu cukup ramai, karena ternyata sedang ada syuting sinetron 'ber-budget rendah'. Saya melihat beberapa wajah yang saya kenal dan tak saya kenal.
Saya melihat bagaimana proses syuting sinetron itu berlangsung. Saya sendiri tak tahu sinetron apa itu, atau ceritanya bagaimana. Saya melihat dari kejauhan. Beberapa pemain sinetron sedang di-make up dan beberapa sedang tiduran di atas matras sambil menghapalkan skrip.
Dan yang sedang berlangsung adalah adegan seorang anak kecil, laki-laki, yang sedang berakting menghilang. Lucu sekali melihat anak kecil itu berusaha berputar, lalu kemudian teriakan CUT! CUT! berulang-ulang terdengar. Sepertinya agak kesusahan juga anak kecil itu berakting adegan seolah-olah ia bisa menghilang di tengah-tengah candi. Cling!
Padahal matahari hampir tenggelam, dan saya pikir tak terlalu bagus untuk merekam gambar sore-sore. Ah, sudahlah, saya nikmati saja semilir angin Boko sore ini. Oya, sebelum saya lupa, saya ke Boko karena saya ingin mengajak adik saya, Wisnu, yang belum pernah melihat candi seumur hidupnya (yang baru berusia lima tahun itu). Yang terjadi, Wisnu malahan mengejar-ngejar belalang di rerumputan. Toh, saya biarkan saja. Karena Wisnu dan saya punya sindrom yang sama, rindu akan ruang yang luas dan terhampar. Sampeyan tahu kan, hidup di rumah yang berjubel dengan barang-barang dengan tujuh anggota keluarga begitu terasa sempit dan sesak.

Oya, Greg lalu mengajak kami menaiki tangga batu yang membuat Wisnu agak terengah-engah. Tangganya berukuran besar-besar dan kami harus melompat-lompat karena di beberapa bagian ada tangga yang hilang.
Setelah sampai di puncak tangga, kami tiba di depan sebuah pendapa yang kurang terawat, dengan pohon besar di dekatnya. Di bawah pohon besar itu ada semacam kotak yang ditutup dengan lembaran seng. Apa ya isinya? Sumur tersembunyi kah? Ah, saya hanya bisa mengira-ngira. Greg lalu mengajak kami menatap ke utara. Ada puncak Merapi yang terlihat menyembul di langit sore. Hamparan sawah dan lengkung Yogya juga terlihat jelas. Namun, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Di pendapa itu ada 'sesuatu' entah apa yang membuat saya kurang nyaman. Saya melirik Greg, ternyata ia juga merasakan hal yang sama. Saya lirik Wisnu yang tubuhnya tegang, tak mau lepas menempel dari saya. Wah, turun saja yuk, kata saya.
Kami lalu bergegas turun, dan melewati tangga-tangga batu yang besar, dan melompat-lompat lagi.
Kami menikmati senja biru yang indah.
Namun tanpa matahari yang terlihat. Tak ada sunset sore itu.
Tak apa. Kami sudah senang dengan langit yang membiru di atas tumpukan batu-batu kuno berlumut yang terdiam menatap kami sambil mendendangkan nyanyian tanpa suara tentang sebuah peradaban, sebuah tata kota lama, tentang cerita puteri-puteri, prajurit dan Ratu Boko.
Bulan yang malu-malu di atas candi.
Mengheningkan cipta.
Ada anjing yang menyapa kami.
Senja di puncak Boko.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...