Monday, January 3, 2011

Perjalanan ke Suralaya

Pada suatu pagi yang cerah beberapa waktu lalu, saya dan Greg bersama dua teman karib kami, Pius dan Muhamad menyempatkan diri untuk bertandang ke Puncak Suralaya, sebuah puncak yang cukup terkenal di kalangan orang-orang Kejawen yang terletak di daerah Giripurwo, Samigaluh, Kulonprogo.
Kami berangkat melewati jalur pesawahan dengan jalan yang berliku-liku, dan udara bersih khas pegunungan.
Kami juga melewati patung Diponegoro yang mengacungkan tangannya ke arah Goa Sriti.
Wah, gua apa ya? Tempat persembunyian beliau kah, atau tempat semadi?
Kami tak sempat ke sana. Mungkin lain kali.
Kami sengaja tak mencari jalan pintas, karena ingin menikmati pemandangan alam.
Dan tentu saja, mencoba rute baru, karena sebenarnya Puncak Suralaya ini jaraknya berdekatan dengan Sendangsono, tempat ziarah bagi umat Katolik dengan arsitektur yang menawan khas Romo Mangun. Saya dan Greg yang sudah sering ke Sendangsono memutuskan untuk mencari rute baru yang mungkin saja lebih jauh dan memutar, dan jadilah kami kehausan di tengah jalan karena ternyata rute yang kami tempuh memang jauh sekali.
Saya sendiri tak tahu kami melewati daerah mana saja, namun sepeda motor yang kami naiki selalu menanjak dan menanjak.
Akhirnya kami berhenti sejenak di sebuah warung kecil di sebuah tikungan yang sepi dengan hanya beberapa rumah terbuat dari batu di sekelilingnya.
Kami membeli beberapa botol air mineral, dan ketika kami sedang beristirahat sejenak di lincak-nya, saya melihat beberapa mainan anak-anak yang hanya bisa saya jumpai waktu saya di SD dulu.
Mainan jaman SD saya dulu.
Limaribu? Mahal sekali. Seingat saya dulu hanya 500 perak.
Ini adalah mainan kuda-kudaan yang kalau dipencet kantongnya bisa bergerak.
Mainan-mainan plastik ini 'made in China' semuanya.
Kami tertawa-tawa mengenang mainan-mainan sejak SD yang terpampang di hadapan kami. Wah, gila ya, ternyata masih saja diproduksi di jaman yang serba digital ini. Kami lalu melanjutkan perjalanan.
Oya, kami tadi juga melewati jembatan gantung yang sudah tua sekali, mungkin sejak jaman Belanda. Sangat dag-dig-dug kalau melewati jembatan ini. Jalannya sempit, hanya bisa dilalui satu sepeda motor, jadi haru mengantri, dan setiap ada motor lewat, jembatan akan berayun-ayun kencang padahal Sungai Progo yang maha luas itu terbentang di bawah kami. Waaaah!
Kami menyempatkan diri untuk turun sejenak dari sepeda motor lantas berjalan kaki menyusuri jembatan, hendak merasakan bagaimana rasanya digoyang-goyang di atas jembatan gantung sedang di bawah kaki adalah Sungai Progo yang dalam.
Rasanya: untuk yang takut ketinggian saya sarankan untuk tidak mencoba-coba. Karena rasanya horor sekali. Seperti berpegang pada sesuatu yang rapuh dan tak pasti. Padahal, jembatan gantung ini sudah ada sejak jaman dahulu dan cukup kuat untuk dilewati berbagai kendaraan berabad-abad.
Saya menyempatkan diri untuk berfoto sejenak di atas jembatan gantung sambil berpegangan erat-erat pada besi jembatan karena angin dan goyangannya cukup kencang.
Pemandangan yang cukup indah di atas sini, dengan latar belakang pegunungan membiru, hutan kelapa yang menghijau, dan arus sungai yang airnya kecoklatan karena semalam baru saja hujan deras. Hmm, berdiri di atas jembatan ini membuat saya menjadi semakin penasaran, seperti apa ya Puncak Suralaya yang sering diceritakan orang itu?
Kami lalu meneruskan perjalanan, sembari berhenti sejenak saat melewati titik-titik indah yang sulit diabaikan indera begitu saja.
Inilah beberapa gambar yang berhasil saya abadikan, saat kami sedang menanjak dan terus menanjak menuju ke Puncak Suralaya.

Ikuti kami terus ya!




No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...