Tuesday, January 11, 2011

Mang Didi: Warung Burjo tanpa Burjo

Saya selalu nongkrong dengan Greg di warung Mang Didi saat hari sedang panas, atau saat kami sedang ingin camilan dan jeruk panas sambil mendengarkan lagu-lagu jaman dulu sambil ikut berdendang.
Mang Didi berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Seperti kebanyakan warung burjo yang tersebar di sekitar kampus-kampus di Yogya, hampir semua penjualnya berasal dari Jawa Barat. Jadi, sapaan seperti 'mang' atau 'aak' kerap terdengar di sini. Ada sih warung burjo yang pemiliknya orang Jogja, tapi tak banyak. Nah, kembali ke Mang Didi yang punya warung burjo (bubur kacang ijo) tapi nggak ada burjo-nya, saya hendak mengabadikan gambar Mang Didi dengan kumis tebalnya, tapi sayang, Mang Didi tak mau difoto. Jadilah saya memfoto ruang penuh plastik sachet warna-warni tempat Mang Didi biasanya melayani pembeli. Di warung inilah saya dan Greg biasanya mengobrol sambil memandang lalu lalang orang atau anak-anak kampung yang bermain.

Seperti sore itu, saat kami sedang asyik menyeruput jeruk panas dan bersenda gurau dengan Mang Didi, tampaklah ribut-ribut luar biasa. Dari belokan jalan, terlihat dua boneka merah kuning yang menyebut dirinya 'Si Domar' yang menjadi alat propaganda bagi warga kampung untuk berbelanja di sebuah minimarket yang baru saja berdiri di dekat apartemen Sejahtera. Sampeyan tahu kan, minimarket yang saingan itu lho.
Nah, rombongan badut Si Domar ini datang naik mobil bak terbuka keliling kampung sambil membagi-bagikan balon merah dan kuning, serta berhalo-halo tentang harga-harga sabun cuci, minyak goreng, pembalut dan susu bayi.
Yang membuat saya geli, mobil bak terbuka itu dibuntuti oleh serombongan anak-anak kecil yang berseru-seru mengejek Si Domar. Anak-anak kecil itu membuntuti rombongan badut lebah itu sembari mengayuh sepeda kecil mereka dan tertawa-tawa.
Kata Mang Didi, kemarin mas-mas dari minimarket baru itu datang kesini sambil membawa segepok koran tipis yang isinya harga-harga sembako. Mas-mas itu membawa banyak sekali koran.

Terus dimana Mang korannya, tanya saya penasaran.
Korannya mah udah saya jual ke tukang loak atuh, kata Mang Didi sambil tertawa. Lumayan, buat tambahan beli cabe.
Kami tertawa.
Membayangkan Mang Didi ke pasar pagi-pagi sambil membawa segepok koran promosi minimarket baru itu dan menukarkannya dengan sebungkus cabe yang harganya lebih mahal daripada harga jam tangan saya. Wah!
Sepeda Mang Didi yang setia menemaninya
saat belanja ke Pasar Demangan.

5 comments:

  1. kalo sekali waktu sempat ke malang,monggo mampir ke warung kayungyun,warung burjo (benar2 ada burjonya)milik (kalo gak salah) mang acep,aseli sunda.lokasinya di seputaran kampus brawijaya,itn & unmuh.(cabangnya banyak,jadi gampang nyarinya)

    ReplyDelete
  2. hai Mas Bayu :)

    wah, saya baru ke Malang sekali. iya deh, ntar saya mampir :) salam kenal juga ya dari Jogja :) nuwun

    ReplyDelete
  3. wahh mang didi!! hebat y masih bertahan. mie goreng telor di burjo daerah jatinangor itu 5ribu.. di mang didi skrang brapa ya??

    ReplyDelete
  4. halo Ben :) mi goreng telor di Mang Didi "masih" 4 ribu. hehehe. padahal kalo di warung "bukan" burjo 3,5 rb. hehehe :) kapan aku ke tempatmu ya. pengen makan makanan Sunda sampai kenyang! :D

    ReplyDelete
  5. salam wae lah ka mang didi, dr org kuningan oge.. hehehe

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...