Friday, January 28, 2011

Gara-Gara 'Giliran'

'Giliran'.
Sebuah terma lokal di Yogyakarta yang berarti 'mati lampu'.

Akhir-akhir ini, kota Yogya diguyur hujan deras beserta angin besar setiap siang menjelang sore hari. Seperti Rabu lalu, saat angin besar merobohkan dua beringin tua di 'pintu masuk' keraton (di depan Istana Negara) dan di 'pintu keluar' keraton (tepat di gerbang Alun-Alun Selatan yang paling selatan), lalu membuat papan-papan iklan beterbangan (kalau ini saya tak keberatan, karena papan-papan iklan besar itu polusi visual), dan kantor YPR pun tak ketinggalan. Bambu-bambu di depan kantor YPR ambruk bruk.
Dan selalu, setiap hujan besar dan angin ribut seperti akhir-akhir ini, 'giliran' selalu datang menyusul kemudian.

'Giliran' selalu datang tiba-tiba.
Tanpa pemberitahuan.
Mendadak gelap gulita.
Membuat bulu kuduk berdiri kalau sampeyan sedang di kantor sendirian dan kerja lembur seperti yang saya alami beberapa saat lalu.Membuat beberapa file yang sudah diketik hilang.

'Giliran' juga kadang hadir saat hari masih siang.
Membuat orang-orang yang di sekitar saya kebingungan.
Termasuk tukang cukur langganan Greg, pacar saya.

Sore tadi, saya menemani Greg mencukur habis rambut di kepalanya. Seperti biasa, kami langsung menuju ke arah Plengkung Gading ke selatan, area Suryodiningratan, tepat di samping penjual arang, ada kios superkecil yang tak pernah sepi antrian para lelaki yang hendak mencukur rambutnya.

Begitu kami datang, langsung disambut dengan,
'cukur gundul to Mas?'
Greg mengiyakan dan suasana menjadi hangat di bilik kecil itu. Obrolan dipenuhi dengan isu crop circle, bahkan si tukang cukur yang asli Godean itu membuat lingkar-lingkar di kepala Greg. Ahay! Bersemangat sekali!

Nah, di tengah-tengah cukur-mencukur itu (dengan cukur silet manual tentu saja, karena listrik mati), datanglah sekeluarga harmonis, seorang bapak dengan helm besar berwarna hijau menggendong anak perempuannya yang masih bayi dan menggandeng seorang anak laki-laki yang (menurut saya) hendak bercukur, beserta istrinya yang menggendong seorang bayi.

Tukang cukur: 'wah, mati lampu Pak'
Bapak : 'wah, punya saya ya iya je'
Tukang cukur: 'ya sudah, kalau lampu di rumah Bapak sudah menyala, sampeyan ke sini saja'

Lalu keluarga itu berlalu.
Dan si tukang cukur yang humoris itu berkata kepada kami dengan nada yang sulit diungkapkan dengan kata-kata:
dua-belas.

Saya tak tahu apa maksudnya.
Si tukang cukur itu melanjutkan:
Gara-gara 'giliran' saya sudah menolak banyak pelanggan, Mbak.
Yang barusan tadi adalah orang yang ke-12 yang saya tolak karena listrik mati.
 


Waow.
12 orang?
Saya coba menghitung pemasukan mas tukang cukur itu dengan mengalikan angka itu dengan 4,000 rupiah (harga standar untuk bercukur).
Sama dengan 58 ribu, yang hilang gara-gara 'giliran'.

Dan ketika kami sudah selesai dan hendak naik ke sepeda motor, ada seorang bapak berkumis memboncengkan anaknya yang langsung parkir di sebelah kami. Berbarengan kami berucap:

tiga-belas!

*bambu ambruk difoto oleh Gugun episode7. maturnuwun Gun!*

3 comments:

  1. wah.. buset. kasian tuh tukang cukur. itu baru satu tukang, gimana dengan pebisnis kecil lainnya? PLN bikin rugi! :(

    ReplyDelete
  2. haiyo. padahal de'e le bukak jam 2.30 sore, le giliran jam 2. haiyah. pait to :(

    ReplyDelete
  3. ya semoga besok dia dapat pelanggan 2x lipat.

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...