Thursday, January 6, 2011

Cerita dari Kampung #3: Dinding yang Mengaum

Kalau sampeyan sudah membaca cerita saya tentang Barkah dan Sipek, maka cerita kali ini masih bernada serupa, satu lagi cerita manusia-manusia unik di kampung saya, di deretan belakang Bakpia Pathuk, barat Malioboro.
Kali ini saya akan bercerita tentang tetangga belakang rumah saya, yang juga "berteman" dengan Barkah dan Sipek.

Namanya Pethak.
Pethak. Huruf 't' diucapkan seperti orang Bali saat menyebutkan 't'.
Saya rasa, Pethak seumuran dengan Barkah dan Sipek.
Berbeda dengan Barkah yang sering keluar rumah, Pethak hampir mirip dengan Sipek. Anak rumahan yang jarang keluar rumah.

Kadang ia berjalan-jalan di sekitar kampung, dengan langkah-langkah pendek nan cepat. Dan ketika sampeyan berpapasan dengannya, wah, jangan meringis ya, karena memang Pethak jarang mandi, atau memang malas mandi.
Pethak dan keluarganya tinggal persis di belakang rumah saya.
Hampir saja dinding rumah kami dan rumahnya menjadi satu, kalau bapak saya tak membuat kandang ayam di petak kecil di belakang rumah kami.
Memang tak bisa disebut juga sebagai kandang ayam, karena keadaannya yang mengenaskan. Tapi saya tak akan membahas tentang kandang ayam di rumah saya. Tapi tetangga belakang rumah.

Setiap pagi, saat kami mandi, pasti dinding di belakang rumah saya mengaum.
Keras sekali.

Dan bersahut-sahutan.
Segala sumpah serapah berlabel binatang yang menggonggong hingga seruan-seruan yang membuat geli hingga meringis seringkali terdengar.
Kadang seruan-seruan itu terdengar siang hari, saat ibu saya memasak, dan saya menunggu nasi matang.
Atau terkadang dinding itu akan diam seharian lalu baru mengaum saat sore hari, saat adik kecil saya Wisnu sedang mandi pancuran di depan bak cuci piring.

Kenapa saya sebut mengaum?
Sebab, Pethak-lah yang sebenarnya 'mengaum'.
Berbeda dengan Sipek yang pendiam, dan Barkah yang jarang ngomong selain 'sewu Mas', Pethak senang berteriak.
Dan ia juga senang mengulang kata-kata yang sama.
Dalam setiap teriakannya.

Jadi, terkadang kami harus mendengarkan suara-suara nyaring dari balik tembok yang penuh dengan kosakata binatang atau seruan-seruan yang membuat ibu saya cepat-cepat menutup telinga Wisnu kuat-kuat.
Saya meringis saja.

Kadang saya merasa ada yang hendak meledak di sana.

Ada yang sekian puluh tahun ditekan dan ledakannya tak bisa terlalu dahsyat akibat sesuatu yang saya tak tahu entah apa.
Seperti Merapi yang rajin memuntahkan materialnya sedikit demi sedikit, tetapi sering. Dan keras sekali bunyinya.

Saya sendiri tak terlalu kenal dengan Pethak.
Selain imaji saya tentang seorang yang jalannya pendek-pendek dan cepat-cepat, yang selalu menunduk dan berkomat-kamit sendirian sepanjang jalan.
Saya tak tahu kenapa ia berjalan cepat-cepat.
Saya tak tahu kenapa ia selalu menunduk.
Saya juga tak tahu kenapa ia selalu berteriak-teriak hingga suaranya terdengar hingga seantero rumah saya.
Saya hanya bisa menduga-duga saja, dan meskipun praduga adalah sesuatu yang kadang menjadi tak baik, maka saya simpan saja anggapan-anggapan bodoh saya dalam-dalam.

Hanya terkadang saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi Pethak, atau bahkan menjadi Barkah maupun Sipek.

Dengan tiga orang unik di kampung saya itu, saya merasa kampung saya kaya. Kaya dengan segala ragam penduduknya dan karakter penghuninya.
Kaya dengan segala lika liku keseharian yang kadang membuat saya mendelik, tertawa, atau menangis sekaligus.

Saya merasa perlu untuk menuliskan ketiga tokoh ajaib di kampung saya karena mereka-lah yang membuat hidup saya lebih berwarna dan bertekstur saat menjalani hari-hari saya di kampung.


*Untuk Barkah, Sipek dan Pethak*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...