Sunday, January 16, 2011

15 Menit dalam Gelap yang Mencekam

Wah, kemarin benar-benar sore yang mencekam!

Jadi, seharian kemarin, saya sedang mengerjakan beberapa tulisan untuk ketjil.bergerak dan mempersiapkan presentasi saya besok Rabu di kantor YPR di Nagan Lor, karena memang kebetulan sedang sepi (karena Sabtu libur) dan di rumah saya sedang banyak orang, bapak saya sakit, dan tak ada ruang yang enak untuk menulis dan berpikir.

Jadilah saya sendirian siang itu, ditemani dengan lagu-lagu The Police dan Beirut. Saking semangatnya, tak terasa sudah jam enam sore, malam datang, dan angin semakin kencang. Sore kemarin, angin memang sedang kencang-kencangnya. Dan tepat jam setengah delapan malam, saat gemuruh terdengar menggetarkan kaca jendela di samping komputer saya, dan saat hujan mulai turun, suhu turun membuat saya menyentuh bulu kuduk saya yang berdiri, dan saat saya hendak menge-post-kan tulisan di blog ketjil.bergerak tiba-tiba:

MATI LAMPU!

Waaaaaaaaa!

Kalau sampeyan belum pernah ke kantor saya di Nagan Lor itu, wah, saya sulit menjelaskan! Gelap gulita! Sedangkan ruangannya luas, banyak jendela kaca, berkamar-kamar, dan angin membuat bayangan-bayangan aneh di dinding, dan handuk saya berkibar-kibar seperti rambut panjang, kilat mengerjap, dan saya sendirian! Dalam gelap!

Sewaktu lampu mati PET! saya otomatis berlari menuju pintu keluar. Sekeliling saya sudah gelap lap, dan tak ada kendaraan lewat. Jantung saya berdegup keras sekali. Saya mengumpat! Sialan, handphone saya yang ada senternya ketinggalan di atas meja! Sialan! Saya tak bisa melihat apapun. Gelapnya pekat sekali. Saya berjalan meraba-raba dan akhirnya menyentuh helm, laptop, dan kertas-kertas. Mana handphone saya??

Akhirnya saya menyentuh benda hitam itu!
Langsung saya pencet flashlight on.
Dan saya agak lega, karena ada sedikit cahaya. Meskipun malah semakin menyeramkan karena semua benda di meja mempunyai bayang-bayang memanjang yang mengerikan. Saya lalu ingat, saya pernah membeli lilin yang saya tancapkan ke asbak. Dan saya kalang kabut, mencari di meja-meja, di mana asbaknya. Lalu saya ingat lagi, kemarin Jumat Gugun datang dan ia selalu merokok, jadi pasti asbaknya ada di mejanya. Saya cari, dan hanya ada asbaknya! Guguuuun! Waaah, di mana lilinku??


Akhirnya saya melihat benda putih panjang tergeletak di antara buku-buku. Saya raih cepat lalu saya tertegun. Bodoh! Tak ada korek!
Saya lalu ingat, mungkin ada satu milik Bu Sumi atau Pak Kabul yang tertinggal di laci-laci. Tak ada! Saya hampir tak bisa bernapas karena jantung yang berdegup, keringat dingin dan kegelapan yang menyesakkan.
Saya berjalan mondar-mandir sambil membawa lilin di tangan.
Tiba-tiba saya ingat ada kompor gas di dapur!
Oh tidak!
Haruskah saya kembali ke dapur?
Melewati handuk yang melambai-lambai? Lalu tumpukan barang-barang yang diam menggunung, dan lorong menuju kamar mandi yang menyeramkan itu?
Tidaaak! Tapi kalau saya takut, saya tak jadi menyalakan lilin.
Akhirnya dengan hati mantap, saya buka pintu menuju ruang belakang. Pintu dapur menutup. Saya buka dengan paksa, saya hampir tak mampu melihat apa yang ada di hadapan saya. Dan ternyata, di depan saya ada kompor gas!
Okelah, saya lalu menyalakan kompor, mengambil api, dan menjaga nyala lilin agar tak padam. Angin kencang berhembus tiba-tiba dan membuat suara-suara aneh. Saya berlari, merenggut handuk saya yang berkibar-kibar, mengunci pintu lalu berjalan kembali ke meja saya.
Saya pikir, saya harus segera pulang!

Dan saya menyesal, kenapa saya membawa barang banyak sekali??

Saya bergetar saat mencabut kabel laptop, menggulungnya, menutup laptop, memasukkan ke dalam tas laptop, mematikan internet, memasukkan kertas-kertas skripsi saya ke dalam tas kresek, memasukkan sikat gigi-sabun-alat mandi ke dalam dompet alat mandi, memberesi bolpen dan pensil, mencari kunci sepeda listrik saya, mencari kunci kantor yang tersembunyi entah di mana, mencari jas hujan, memasukkan semuanya ke dalam tas ransel saya, memasukkan semuanya ke dalam tas pundak saya, memasukkan semuanya ke dalam tas kresek saya, KENAPA SAYA MEMBAWA BANYAK TAS HARI INI???
Sial! Angin semakin kencang, hujan turun dan lilin saya hampir padam.
Ingin saya langsung lari pulang tapi saya tak bisa meninggalkan barang-barang saya, tak bisa saya meninggalkan kantor dalam keadaan terbuka, tak bisa saya meninggalkan sepeda saya, waaa, sepeda!
Saya lalu mengeluarkan sepeda saya dan memasukkan tas kresek berisi jas hujan dan tas punggung saya ke dalam keranjangnya, saya pakai tas punggung, saya pakai helm, saya kalungkan handuk saya ke tubuh saya, lalu saya mengunci pintu belakang, dan bergegas ke ruang depan yang gelap gulita, berlari di sepanjang lorong lalu ketika sampai di depan pintu kaca:
PINTUNYA TERKUNCI!!
Waaaaa!
Siapa yang mengunci pintu???
Saya coba masukkan kunci kantor ke dalam lubang kuncinya dan karena saya gemetar hebat tak karuan, kunci malah terjatuh. Sial!
Saya coba lagi, dan akhirnya pintu terbuka lebar, lalu cepat-cepat saya kunci dari luar, saya berlari ke sepeda, lalu memacu sepeda saya kencang-kencang, tak menengok ke belakang lagi.
Tak sempat saya pakai jas hujan, hanya berkalung handuk dan memakai helm, saya langsung ngebut sengebut-ngebutnya.

Sepanjang jalan, saya pikir, saya malah menghabiskan waktu 15 menit di dalam kegelapan hanya untuk beres-beres barang-barang saya.
Wah, untung saja saya berhasil pergi dalam 15 menit. Karena kalau mati lampu di Nagan, itu bisa makan waktu satu jam lebih.
*syukurlah saya selamat sampai di rumah walau semua basah*

4 comments:

  1. Parah kowe van.... untung aja 'dia' yang gak boleh disebut namanya gak nongol.

    ReplyDelete
  2. ada 2 hal aneh van, dalam ceritamu:
    1. listrik mati, njuk piye le mateni internet? :p
    2. sepeda listrik, njuk piye le ngebut? :p

    hehe...

    ReplyDelete
  3. @Bono
    hehehe.
    1. karena pake Speedy, jadi hanya tinggal mencet aja. maksudku aku menekan tombol off, karena kalau aku tinggal lari, trus aku nggak balik kantor lg, pas lampu udah murup kan internet nyala, pdhl di kantor gak ada orang, jd for the sake of penghematan, aku "matikan" aja tombolnya. hehehe :p
    2. speda listrik memang nggak bisa ngebut, jd biar tmbah cepat, aku kayuh sepedanya, goblog ya, aku lupa kalo itu speda listrik. hehehe :p

    ReplyDelete
  4. tiba-tiba.... DUAAARR!!! Bedug lebaran bertalu-talu. Mohon maaf lahir dan batin.

    .... dalam 15 menit itu ada mas Pocong nggak? Pocongnya lebaran apa natalan??

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...