Friday, January 28, 2011

Gara-Gara 'Giliran'

'Giliran'.
Sebuah terma lokal di Yogyakarta yang berarti 'mati lampu'.

Akhir-akhir ini, kota Yogya diguyur hujan deras beserta angin besar setiap siang menjelang sore hari. Seperti Rabu lalu, saat angin besar merobohkan dua beringin tua di 'pintu masuk' keraton (di depan Istana Negara) dan di 'pintu keluar' keraton (tepat di gerbang Alun-Alun Selatan yang paling selatan), lalu membuat papan-papan iklan beterbangan (kalau ini saya tak keberatan, karena papan-papan iklan besar itu polusi visual), dan kantor YPR pun tak ketinggalan.

Sunday, January 23, 2011

Mabuk Kamera

Waow!
Saya baru bisa menengok laptop saya karena selama 2 hari ini saya sibuk syuting film! Apa? Iya, syuting film.
Wah, saya sendiri juga ndak tahu, kenapa bisa dalam waktu 2 hari berurutan, saya harus syuting film dengan 3 kelompok yang berbeda-beda.
Memang, pengalaman saya masuk TV berawal sejak saya kelas 4 SD. Saya diajak Om saya untuk berperan dalam sebuah drama keluarga yang ditayangkan di TVRI. Bayarannya waktu itu? 7500 rupiah!

Wednesday, January 19, 2011

Cihuy! Pendadaran Sudah Selesai!

Wah, saya senang sekali!
Saya sudah selesai ujian skripsi!

Semalam, saya tak bisa tidur, baru bisa tidur sekitar jam duabelas, dan paginya bangun jam lima pagi. Lalu tidur lagi sampai jam tujuh, he-he.
Saya bangun dengan santai, mandi, sempat nge-cek email, minum teh, dandan, membuat list of errata, lalu berangkat ke kampus, tak lupa menge-print list of errata tadi, mampir beli roti kepal, lalu simulasi presentasi dengan Greg, dan akhirnya saya sampai di kampus yang sangat sepi (karena sedang liburan) tepat jam sembilan lebih sepuluh menit.

Tuesday, January 18, 2011

Akhirnya!

Akhirnya!
Saya pendadaran juga!

Besok pagi, Rabu 19 Januari jam sebelas siang, saya akan pendadaran (istilah mahasiswa Jogja untuk ujian skripsi). Skripsi saya tentang kajian literatur, analisa poskolonial tentang tiga cerita pendeknya Jhumpa Lahiri yang ada dalam kumpulan cerpennya, Interpreter of Maladies.
Nah, besok pagi saya harus bertarung dengan diri saya sendiri, dengan para dosen penguji (yang semuanya adalah dosen linguistik padahal skripsi saya literatur!)

Wah, doakan saya ya teman-teman!

Sunday, January 16, 2011

15 Menit dalam Gelap yang Mencekam

Wah, kemarin benar-benar sore yang mencekam!

Jadi, seharian kemarin, saya sedang mengerjakan beberapa tulisan untuk ketjil.bergerak dan mempersiapkan presentasi saya besok Rabu di kantor YPR di Nagan Lor, karena memang kebetulan sedang sepi (karena Sabtu libur) dan di rumah saya sedang banyak orang, bapak saya sakit, dan tak ada ruang yang enak untuk menulis dan berpikir.

Jadilah saya sendirian siang itu, ditemani dengan lagu-lagu The Police dan Beirut. Saking semangatnya, tak terasa sudah jam enam sore, malam datang, dan angin semakin kencang. Sore kemarin, angin memang sedang kencang-kencangnya. Dan tepat jam setengah delapan malam, saat gemuruh terdengar menggetarkan kaca jendela di samping komputer saya, dan saat hujan mulai turun, suhu turun membuat saya menyentuh bulu kuduk saya yang berdiri, dan saat saya hendak menge-post-kan tulisan di blog ketjil.bergerak tiba-tiba:

Saturday, January 15, 2011

Aja Lara Soale Lara Larang

*aja lara soale lara larang adalah Bahasa Jawa, yang artinya 'jangan sakit, karena sakit mahal'

Jadilah, saya geregetan sekali.
Bagaimana tidak?
Sepertinya sakit itu datang beruntun.
Pertama, adik saya, Wisnu, sakit, sekitar pertengahan Desember lalu.
Disusul adik saya, Nunna.
Penyakitnya sama:
panas, demam, hidung berair, pilek, batuk, lemah, lesu, pusing, mual.
Penyakit saat musim hujan tiba.
Lalu, saya yang kena.
Disusul adik saya, Dea.

Thursday, January 13, 2011

Asyiknya Bersepeda Listrik!

Halo!
Wah, senangnya saya bisa keliling kota sore hari dengan sepeda listrik!
Saya bisa meluncur dengan tenang di jalanan, merasakan hembusan angin yang menerpa wajah dan rambut saya, dan merasakan dag dig dug setiap saat ada mobil di belakang saya atau saat saya harus berhenti beramai-ramai di lampu merah.
Wah, ternyata jalan raya itu kadang kejam ya! Pernah saya diklakson berulang-ulang oleh mobil es krim kuning di seputaran Ngasem, pernah saya kaget berat saat ada pick-up nyelonong dan hampir seinci menyentuh setang sepeda saya. Waa!

Wednesday, January 12, 2011

Salad Murah Meriah

Sore tadi, saya dan Greg menyempatkan diri untuk mencicipi warung salad yang (sepertinya) masih baru. Letaknya di seputaran jalan satu arah kompleks perumahan PJKA Lempuyangan.
Karena saya berangkat dari Mrican, maka saya harus ke Jalan Solo dulu, lewat UKDW, pas lampu merah di dekat kampus UKDW, kami belok kiri.
Nah, ikuti saja jalan satu arah tersebut, setelah SD di kiri jalan, sampeyan akan melihat deretan warung-warung baru, salah satunya bertuliskan 'warung salad' dengan plang berwarna hijau segar. Ada payung dengan kursi-kursi taman berwarna putih.

Warung masih sepi saat kami mampir sore itu.

Tuesday, January 11, 2011

Mang Didi: Warung Burjo tanpa Burjo

Saya selalu nongkrong dengan Greg di warung Mang Didi saat hari sedang panas, atau saat kami sedang ingin camilan dan jeruk panas sambil mendengarkan lagu-lagu jaman dulu sambil ikut berdendang.
Mang Didi berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Seperti kebanyakan warung burjo yang tersebar di sekitar kampus-kampus di Yogya, hampir semua penjualnya berasal dari Jawa Barat. Jadi, sapaan seperti 'mang' atau 'aak' kerap terdengar di sini. Ada sih warung burjo yang pemiliknya orang Jogja, tapi tak banyak.

Monday, January 10, 2011

Senja Biru di Candi Boko

Kata Greg pada suatu hari, kalau momen matahari terbit terindah bisa dilihat di Candi Borobudur, maka momen matahari terbenam terindah bisa dinikmati di Candi Boko.
Jadilah kami pergi ke Candi Boko bersama dengan Wisnu adik saya yang paling kecil.

Kami berangkat naik sepeda motor sore hari, sekitar jam empat dari rumah. Sampai di Boko hampir senja. Wah, tiketnya satu orang sepuluh ribu ya. Kami segera berjalan memasuki kompleks Candi Boko.
Suasana sore itu cukup ramai, karena ternyata sedang ada syuting sinetron 'ber-budget rendah'. Saya melihat beberapa wajah yang saya kenal dan tak saya kenal.

Sunday, January 9, 2011

Pagi yang Berbeda

Ada yang berbeda pada setiap pagi akhir-akhir ini.
Remasan di tangan begitu mata membuka.
Mata bulat yang menatapku begitu pagi muncul.
Dan senyum yang berbau malam.



Ada yang berbeda pada setiap pagi akhir-akhir ini.
Menikmati rasa yang terbit begitu diri terjaga.
Elusan lembut di kepala.
Bibir yang mengerucut sambil bergumam mimpi apa kamu semalam.
Lalu tersenyum bersama walau gigi dan mulut lengket

Saturday, January 8, 2011

Sidosemi, Semangkok Rasa di Bumi Mataram Lama

Seringnya saya ke Kotagede membuat saya selalu mencari-cari tempat yang enak dan unik untuk sekedar melepas lelah sambil minum teh atau makan kudapan khas Kotagede. Dan bertemulah saya dengan warung kuno bernama Sidosemi. Tulisannya saja 'warung ys'. Saya pikir 'ys' itu singkatan, eh ternyata 'ys' dibaca 'es', jadi ya 'warung es Sidosemi'. Letaknya di sebelah selatan makam Kotagede, kanan jalan. Warungnya sederhana. Dengan lincak bambu, dan meja-meja sederhana serta bonus kipas bambu yang sengaja disediakan oleh si penjual bagi para pembeli Sidosemi yang kepanasan. Jadi ya sampeyan bisa pinjam kipas bambu untuk sekedar mencari angin di tengah hari yang terik.

Friday, January 7, 2011

Sepeda Listrik!

Sampeyan tahu kan, kalau saya ndak bisa naik sepeda motor?
Nah, kali ini saya mau pamer.

Saya punya sepeda baru!

Sepeda saya yang lama, si jengki berwarna perak telah tutup usia karena tua dan sakit-sakitan. Si jengki perak ini dulu saya beli murah sekali, empat ratus ribu saja di toko sepeda di bilangan Jalan Katamso.
Namanya saja sepeda cina yang diproduksi massal, jadi ya memang cepet rusak. Padahal saya membeli sepda pertama saya itu dengan gaji pertama saya menjadi guru di desa Turgo, lereng Merapi sekitar empat tahun yang lalu.
Ya, tidak apa-apa.
Setelah kemana-mana selalu merepotkan orang lain, atau kadang rela berjalan kaki dan seringnya naik bis transjogja yang superlama nunggunya, saya sekarang bisa agak bernafas lega.

Saya punya sepeda baru!

Thursday, January 6, 2011

Cerita dari Kampung #3: Dinding yang Mengaum

Kalau sampeyan sudah membaca cerita saya tentang Barkah dan Sipek, maka cerita kali ini masih bernada serupa, satu lagi cerita manusia-manusia unik di kampung saya, di deretan belakang Bakpia Pathuk, barat Malioboro.
Kali ini saya akan bercerita tentang tetangga belakang rumah saya, yang juga "berteman" dengan Barkah dan Sipek.

Namanya Pethak.
Pethak. Huruf 't' diucapkan seperti orang Bali saat menyebutkan 't'.
Saya rasa, Pethak seumuran dengan Barkah dan Sipek.
Berbeda dengan Barkah yang sering keluar rumah, Pethak hampir mirip dengan Sipek. Anak rumahan yang jarang keluar rumah.

Kadang ia berjalan-jalan di sekitar kampung, dengan langkah-langkah pendek nan cepat. Dan ketika sampeyan berpapasan dengannya, wah, jangan meringis ya, karena memang Pethak jarang mandi, atau memang malas mandi.

Wednesday, January 5, 2011

Hari Memasak untuk Uuth

Saat teman karib saya, Uuth, berulang tahun yang ke-23, saya berinisiatif untuk memasak saja daripada nongkrong di restoran. Ajakan saya disambut hangat oleh Ifa, teman karib saya yang langsung berbelanja bahan makanan pada Jumat siang yang mendung itu.
Saya tak bisa memasak. Sama sekali.
Saya hanya bisa merebus air, menggoreng telur dan membuat mi instan.
Payah ya? Dan saya nekat saja untuk mengajak memasak bersama.
Dan siang itu, kami bertiga sudah ribut di dapur YPR yang kecil dengan segala bumbu-bumbu dapur dan bahan-bahan yang biasanya saya lihat dalam keranjang ibu saya di rumah.
Ada cabai, tempe kedelai dalam bungkusan daun pisang yang sudah menguning, bumbu-bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, merica, jahe dan benda-benda yang lain yang cukup asing bagi saya.
Jadilah saya hanya memotret saja, sedang yang memotong-motong wortel, kentang dan sayuran lainnya adalah duo Ifa dan Uuth. Sepertinya mereka maklum dengan kebodohan saya di dapur, jadi saya diberi tugas mencuci sayuran. Dan ternyata itupun salah.

Tuesday, January 4, 2011

Suralaya yang Hening

Akhirnya, tibalah kami di Puncak Suralaya.
Dan saya sempat terpana, karena ternyata kami masih ada di kakinya.
Untuk mencapai puncak yang sebenarnya, kami harus menaiki tangga yang tinggi sekali.
Wah, saya harus menata napas saya, pikir saya.
Saya yang punya asma dan sesak napas sudah berkeringat dingin, sedang Greg yang memang berhobi naik gunung langsung sumringah dan langsung ngacir ke atas, langkahnya enteng sekali seperti tak punya beban.
Dan dalam sekejap, Greg sudah ada di puncak tangga dan tak terlihat lagi oleh kami yang masih ada di bawah.
Saya agak menyesal karena saya memakai sepatu boots tebal yang berat sekali. Saya jadi seperti orang bodoh yang naik tangga dengan ngos-ngosan karena sepatu saya beratnya lima kilo.

Monday, January 3, 2011

Perjalanan ke Suralaya

Pada suatu pagi yang cerah beberapa waktu lalu, saya dan Greg bersama dua teman karib kami, Pius dan Muhamad menyempatkan diri untuk bertandang ke Puncak Suralaya, sebuah puncak yang cukup terkenal di kalangan orang-orang Kejawen yang terletak di daerah Giripurwo, Samigaluh, Kulonprogo.
Kami berangkat melewati jalur pesawahan dengan jalan yang berliku-liku, dan udara bersih khas pegunungan.
Kami juga melewati patung Diponegoro yang mengacungkan tangannya ke arah Goa Sriti.
Wah, gua apa ya? Tempat persembunyian beliau kah, atau tempat semadi?
Kami tak sempat ke sana. Mungkin lain kali.
Kami sengaja tak mencari jalan pintas, karena ingin menikmati pemandangan alam.
Dan tentu saja, mencoba rute baru, karena sebenarnya Puncak Suralaya ini jaraknya berdekatan dengan Sendangsono, tempat ziarah bagi umat Katolik dengan arsitektur yang menawan khas Romo Mangun. Saya dan Greg yang sudah sering ke Sendangsono memutuskan untuk mencari rute baru yang mungkin saja lebih jauh dan memutar, dan jadilah kami kehausan di tengah jalan karena ternyata rute yang kami tempuh memang jauh sekali.

Sunday, January 2, 2011

Tahu Thek Surabaya

Tidak terlampau sulit untuk mencari masakan Jawa Timur di kota ini. Ada banyak warung dengan judul besar-besar Cak Ini dan Cak Itu, baik itu warung sate, penyetan, soto dan yang lain.
Kali ini saya ingin mengajak sampeyan ke sebuah warung khas arek Suroboyo yang saya temukan di dekat Rumah Sakit Ludira Husada, atau dari Pasar Klithikan ke utara, kanan jalan kalau dari arah selatan.
Namanya: Tahu Thek asli Surabaya Cak San.

Saturday, January 1, 2011

Tahun Baru di Tempat Tidur

Wah, jadilah saya ngglethak di tempat tidur sejak tanggal 30 Desember kemarin karena demam yang tak kunjung turun.
Tahun baru malah sakit, begitu sms teman-teman saya.
Saya kehujanan sejak perjalanan saya ke Klaten bersama Greg, hendak mengunjungi teman 'gila' kami, Pius yang baru saja operasi.
Jadilah, ketika Greg dan Pius sedang asyik menonton final piala AFF antara Indonesia dan Malaysia, saya malah tidur, menggigil kedinginan berselimut dua lembar dan berjaket tebal.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...