Monday, December 26, 2011

Cafe Batavia, Oh!

Setelah pengalaman kami mencicipi Soto Tangkar, kami melanjutkan jalan-jalan kami di Kota Tua. Kami menuju Kompleks Gedung Fatahillah. Sedang ada acara di sana. Tenda-tenda kerucut putih bertebaran,musik keras berdengung di salah satu panggung, udara nyaman, tak begitu panas, semilir angin kencang. Dan perjalanan kami terhenti di sebuah restoran lawas bernama Cafe Batavia.
Wah, ini dulu kafe yang sempat saya cari-cari saat saya dan Romo Antoine berpetualang di seputaran Kota Tua!
Tentu saja, saya langsung ajak Greg masuk dan mencoba mencicipi sesuatu di dalam sana.
Suasana kafe agak lengang siang itu. Hanya ada beberapa pasang bule berumur yang sedang makan siang. Kami menuju lantai dua karena di lantai satu agak gelap.
Waaa...ada tangga merah!
Dan puluhan pigura dengan figur-figur terkenal, bahkan Bung Karno juga ada. Lantai dua ini cukup terang. Ada meja bar besar dengan botol-botol dan gelas-gelas berkilau. Ada satu sudut yang saya suka sekali.
Di pojok ruangan ada satu set meja kursi vintage, dengan bantal-bantal berwarna krem yang terlihat sangat nyaman. Cahaya dari jendela samping membuat atmosfer kafe semakin syahdu. Wah! Sudut yang romantis sekali, batin saya sambil membayangkan suasana tempo doeloe yang terjadi di kafe ini. Oya, apa sampeyan ingin tahu beberapa spot yang sempat saya tangkap dengan kamera Ixus Pinky saya?
Sudut yang cukup syahdu.
Bung Karno di sela-sela puluhan pigura-pigura kayu.
Say: (bun)ciiiiiiiiis!
Ada lampu biru yang sangat vintage yang menerpa wajah saya.
Setelah ruangan ini, kami masuk melewati pintu kayu yang di atasnya ada lampu biru yang sangat vintage sekali. Dan begitu saya masuk, waaaah!
Saya seperti di atas kapal Titanic!
Cafe Batavia, Oh!
Mengingatkan saya pada salah satu scene di film Titanic.
Sudut di lantai dua yang juga saya suka!
Yah, mungkin berlebihan, tapi suasana di lantai dua yang penuh dengan kayu membuat saya teringat akan satu adegan dalam film Titanic. Kami segera memilih tempat duduk, dan melihat buku menu yang sudah lawas. Ck ck ck.
Pilih menu apa ya?
Ditimpa cahaya tengah hari Kota Tua.
Kami memesan menu makanan penutup saja: Panacotta Slice dan Crepes Suzette. Sluuurp! Begitu pesanan datang, air liur saya terbit.
Crepes Suzette: traditional French pancakes with ice cream.
Panacotta Slice: panacotta cheese cake with chocolate ice cream.
Hmm. Cukup oke untuk pengalaman pertama. Saya lebih suka Panacotta Slice daripada crepes-nya. Lembuuuut sekali! Dan setelah berfot-foto ria, saya minta tagihan, dan langsung terdiam beberapa detik. Oh-oh! Ada pajak yang tidak tertera di menu yang harus kami bayar. Tapi tak apa. Pengalaman pertama selalu berharga. Dan tak bernilai.
Jadilah kami meninggalkan Cafe Batavia, menuruni tangga, berdiri sejenak memandangi pigura-pigura kayu, lalu meninggalkan Cafe Batavia yang masih menyimpan aroma masa lalu. Kami lalu berjalan lagi. Menyusuri lorong-lorong Kota Tua di tengah-tengah terik mentari Jakarta.
Memori di Cafe Batavia.

Friday, December 23, 2011

Taksi Gila, Pesawat Gila, dan Soto Tangkar!

Awal bulan November lalu, saya dan Greg ke Jakarta.
Ini akan menjadi kali pertama Greg pergi ke Jakarta.
Ha-ha-ha, silahkan tertawa.
Ya, Greg belum pernah menginjakkan kaki ke ibukota.
Jadilah hari itu kami bersiap-siap. Tiket sudah dipesan. Kontak di Jakarta sudah dibuat. Dan baju-baju sudah disiapkan. Saya agak santai kali ini, saya hanya ingin menghabiskan waktu berkualitas dengan Greg saat di Jakarta karena sudah lima bulan ini kami berdua disibukkan dengan beberapa projek dengan ketjilbergerak. Kami membutuhkan liburan.
Liburan kok di Jakarta?
Ya itu tadi, karena Greg belum pernah ke Jakarta! Ia pernah berujar pada suatu waktu saat ia masih berkutat dengan urusan skripsi dan tetek bengek kampus: 
'kalau aku sudah lulus, kita harus ke Jakarta ya, Nok'.
Dan sore itu, kami sudah siap. Tinggal menelpon taksi saja. Dan setelah berpamitan dan memasukkan semua koper ke dalam bagasi, kami segera masuk taksi. Pak sopir yang masih muda bertanya, ke mana Mbak?
Saya jawab, ke bandara Pak.
Ia membalas lagi, penerbangan jam berapa?
Greg yang menjawab, jam enam.
Dan tiba-tiba hati saya berdesir. Segera saya merogoh tiket pesawat dan olala! Saya terbelalak ngeri. Tiket di tangan saya berkata, pesawat akan berangkat jam 17.35. Dan sekarang jam 17.00!!!!
GILA!
Greg melihat saya dengan tatapan yang membunuh.
35 menit ke bandara?
Dan belum segala scanning, check in, boarding, ah!
Pak sopir yang tahu bahwa ia hanya punya waktu 20 menit saja dari Nagan Lor hingga bandara tampak tenang. Dengan secepat kilat ia langsung mengemudikan taksinya dengan kecepatan maksimal. Wus wus wus!
Sepanjang perjalanan saya menelan ludah. Tenggorokan saya kering. Tangan mencengkeram erat tas. Sedangkan Greg diam membisu.
Saya tahu, ia tak mau ketinggalan pesawat gara-gara keteledoran saya salah membaca jadwal. Dan tentu saja saya juga tak mau ketinggalan pesawat!
Kepala saya pusing. Saya mau muntah.
Di dalam taksi yang berdesing dan ngebut tak karuan, mata saya sudah berkunang-kunang. Jantung saya ikut-ikutan ngebut di sepanjang aspal sore yang berkilat tertimpa cahaya senja, berdetak keras saat di lampu merah, aaah, cepat hijau! cepat hijau!
Dan saat kami tiba di parkiran bandara, jam sudah menunjukkan pukul 17.29!
Saya bergegas membayar, masuk bandara, scanning (saking terburu-burunya saya menjatuhkan semua barang-barang pribadi saya: KTP, tiket, ponsel, kartu-kartu, ah bodoh!), lalu menuju konter check-in dan oh tidak!
Antriannya sangat sangat panjang!
Saya terengah-engah.
Dan tepat pukul 17.35 kami berhasil masuk boarding dan oh oh, pesawat terlambat (seperti biasa).
Saya duduk lemas di kursi besi yang dingin.
Dan saya sangat sangat haus sekali.
Untunglah pesawat tiba sepuluh menit kemudian, dan kami bergegas lagi, berlari-lari menuju pesawat di tengah hujan gerimis. Dan lima puluh menit ke depan, perjalanan sungguh mendebarkan: turbulensi yang mengaduk-aduk perut, pesawat naik turun seperti roller-coaster, Greg berkeringat dingin dan sangat waspada, dan saya menggenggam terus tangan Greg. Erat. Sangat erat. Kami tak memejamkan mata sedetik pun.
Dan akhirnya kami mendarat. Di Jakarta.
Tak ada penyambutan. Kami langsung bergegas memesan tiket travel menuju BSD. Ada teman baik kami, Victor, yang akan menampung kami sementara.
***
Esok paginya, kami bersiap menuju Kota Tua.
Dengan tiket feeder bus di tangan, kami berkendara menuju rimba Jakarta. Berbekal peta dan jadwal bis dari Victor, kami siap menjelajah kota dan mencicipi segala macam hal.
Hampir jam 12 siang, kami diturunkan di depan BNI Kota Tua, dan jujur saja, kami sangat lapar.
Kami berjalan beriringan di atas trotoar yang sudah berlubang besar, hingga saya harus ekstra hati-hati melangkahkan kaki. Dan di ujung sanalah saya melihat deretan orang-orang asyik melahap sesuatu. Apa itu? Saya bergegas.
Dan ternyata, mereka sedang bergerumbul di dekat gerobak warna biru.
Saya menengok: SOTO TANGKAR.
Apa itu? Saya penasaran. Dan melongok isinya.
Ada banyak kentang goreng!
Kuning-kuning keemasan.
Wah, jangan-jangan ini juga Soto Betawi, pikir saya.
Hmm, tapi kok warnanya tidak sama dengan Soto Betawi ya? Mengingat saat-saat sarapan di warung Soto Betawi langganan saya di Ngasem.
Saya bertanya dengan gaya Betawi:
ini daging apa, Bang?
Pertanyaan yang bodoh sebenarnya, karena dilafalkan dengan gaya Betawi dan seharusnya orang Betawi tahu 'soto tangkar' itu apa.
Tapi si penjual soto tetap menjawab walau dengan singkat: sapi.
Waduh!
Kami berdua tidak makan daging, tapi pesanan kadung dibuat. Saya nggak enak untuk membatalkan, jadi saya hanya memesan satu porsi saja dengan nasi.
Saat saya bilang Greg kalau Soto Tangkar adalah soto sapi, ia bilang, tak apa-apa, kan soto Betawi biasanya ada kentangnya, kita nanti makan kentangnya saja.
Dan saat pesanan datang, beginilah pose saya. Duduk di trotoar, sambil memegang semangkok Soto Tangkar, dan sepiring nasi putih. Wah, ternyata kebodohan masih berlanjut! Yang kami kira potongan-potongan kentang goreng kuning keemasan ternyata kikil sapi, sodara-sodara!
Kami menelan ludah.
Tak jadi membayangkan lezatnya Soto Betawi, walau saya akhirnya tahu ternyata Soto Tangkar adalah saudaranya Soto Betawi juga. Jadilah kami makan sepiring berdua, dengan lauk kuah Soto Tangkar, yang sebenarnya juga tidak kami makan banyak-banyak.
Saya ingat tadi ada penjual tempe goreng di depan gerobak soto, jadilah saya membeli tempe goreng tigaribu dan kami makan nasi dan tempe goreng yang super tipis. Tapi, kalau sampeyan penasaran dengan rupa Soto Tangkar yang kami pesan, saya akan memperlihatkan apa yang kami pesan dan apa yang kami (akhirnya) makan di bawah ini.
Tak apa-apa, pengalaman pertama selalu berharga, lebih berharga dari sembilan ribu rupiah yang saya bayar untuk seporsi Soto Tangkar di pinggir trotoar depan BNI di Kota Tua, Jakarta Utara...
Soto Tangkar, saudaranya Soto Betawi.
Jadi, inilah yang sebenarnya kami makan:
nasi putih, tempe goreng supertipis, wortel-tomat-timun,
dan sedikit,... sedikit kuah.
Ah, Soto Tangkar.
Maaf kami tak bisa memakanmu.

Thursday, December 22, 2011

Riwayat Si Air Ketjil

Setelah kepergian Angin Ketjil yang begitu menyesakkan, saya masih berpikir-pikir ulang untuk memelihara anjing lagi.
Saya masih berkabung.
Namun, saat pada suatu hari, satu minggu setelah penguburan Angin Ketjil, tepat pada tanggal 22 November 2011, saya dikejutkan dengan selarik sms singkat dari Greg:
'pulanglah ke rumah, ada anjing kecil, hitam putih, seperti panda'.
Respon saya waktu itu adalah tertawa terbahak-bahak.
Saya bilang, ah kamu halusinasi, tak ada anjing kecil di rumah.
Tapi Greg tetap bersikeras agar saya menengok rumah.
Jam 2 siang saya bergegas pulang. Tak ada siapa-siapa. Rumah kosong. Greg beberapa saat kemudian pulang. Dan memang tak ada siapa-siapa.
Hanya ada genangan-genangan air entah dari mana datangnya.
Ya. Air. Kubangan-kubangan kecil hampir di setiap sudut.
Di bawah meja. Di dekat pintu. Di bawah jendela.
Saya sebenarnya punya firasat, mungkin memang ada anjing kecil tadi, sebelum saya pulang, saat Greg mampir sebentar.
Kami segera melupakan peristiwa itu dan saya terus mengolok-olok Greg karena ia berhalusinasi tentang anjing warna panda yang sebenarnya tak ada.
Dan saat maghrib tiba, Greg ke depan untuk menutup pintu. Beberapa detik kemudian saya mendengarnya berteriak: cepat ke sini, Nok!
Dan voila, di sanalah, di dalam kardus kecil yang sudah miring, seekor anjing kecil putih berwarna panda dengan perut gembul memandang kami dengan matanya yang sedih. Alas kardusnya sudah basah kuyup. Bau pesing. Spontan langsung saya gendong ia yang merengik kelaparan. Ah! Kami langsung berpandang-pandangan:
Air Ketjil sudah tiba!
Jadilah kami cukup disibukkan dengan kedatangan si Air Ketjil yang tiba-tiba karena kami masih was-was dengan perkataan dokter bahwa kami seharusnya punya anjing baru lagi paling tidak satu bulan setelah kepergian Angin Ketjil.
Akan tetapi, karena kami hendak pindahan ke rumah baru, hal tersebut tidak akan menjadi masalah.
Jadilah, Air Ketjil masuk dalam teritori kami berdua.
Air, begitu kami biasa memanggilnya, sangat berbeda dengan Angin.
Ia sangat doyan makan, perutnya hampir menyentuh tanah, dan tak suka tidur dengan kami. Ia lebih suka berlari-lari ke sawah mengejar kadal atau ayam, lalu berbaring di atas tanah yang berumput sambil bercanda dengan anak-anak kampung. Air bahkan punya tempat persembunyian rahasianya di gerumbul rimbun daun-daun lebar yang merapat tepat di samping rumah kami.
Ehm, anehnya, Air suka sekali masuk ke lemari es! Ia menikmati 'mampir' sebentar berbaring di lemari es yang sejuk. Dan setiap saya membuka pintu kulkas, ia selalu merengik berharap agar saya mengijinkannya masuk ke dalam dan berleha-leha di sepoi-sepoi udara sejuknya. Saya hanya mengijinkannya satu kali saja! :)
Silahkan berkenalan dengan Air Ketjil, dan mampir ke rumah kami :)
Menikmati sepoi udara kulkas.
Pose tidurnya setiap malam.
Adik saya,  Nuna, dengan Air.
Saya dan Air di depan mural ketjilbergerak dan MementoMori.

Wednesday, December 14, 2011

Sepotong Senja di Depan Rumah

Inilah sepotong senja yang terekam di depan rumah baru kami.
Senja pada tiga hari yang berbeda.
Senja yang menyala.
Senja yang menyembur.
Senja yang lembut.
Senja yang menggaris.
...
Pergilah ke rumah saya setiap sore,
duduklah di tepi pematang,
memanjakan netra dengan hijaunya sawah,
dan semburat ungu-kuning-jingga-merah di ujung barat,
dan semilir angin yang membawa kabar dari selatan,
yang berkata kepada saya:
bahwa sepotong senja tak sempat mampir di laut hari ini
karena sudah kau cuil
untuk kau pajang di depan rumahmu.
...
Saya tersenyum.
Ada senja di bibir saya.

Thursday, December 8, 2011

Momen Tumpah Ruah!

Hanya ada beberapa momen saja saat warga Jogja tumpah ruah di jalan-jalan. Selain malam minggu yang selalu padat di kawasan Malioboro dan 0 kilometer, momen Tahun Baru adalah saat lautan manusia memenuhi jejalanan, mendesak, saling menyikut, dan kruntel-kruntel. Ingin melihat kembang api yang dimekarkan di langit malam.
Selain malam Tahun Baru, perayaan Grebeg Maulud atau pembukaan Sekaten juga merupakan momen yang membuat jalanan penuh dengan orang-orang yang ingin ngalap berkah.
Baru-baru ini, perayaan Jogja Java Carnival yang baru dilaksanakan dua kali juga turut menjadi even tahunan yang menyedot banyak massa yang tumpah ruah di jalanan. Siap-siap kaki pegal dan uyek-uyekan.
Karena rumah keluarga saya cukup dekat dari Malioboro, hanya 5 menit jalan kaki saja sudah sampai, jadilah sejak kecil saya tak pernah melewatkan 'momen tumpah ruah' mulai dari Parade Senja, malam Tahun Baru, Grebeg Maulud, Sekaten bahkan Sholat Idul Fitri. Kami akan berjalan kaki beramai-ramai, kadang satu kampung berduyun-duyun, beramai-ramai.
Saya masih ingat tentang Parade Senja. Ketika genderang dan drum ditabuh, terompet ditiup dan barisan pemuda-pemuda tegap memenuhi jalanan. Saya masih empat atau lima tahun waktu itu. Suka mengamati orang-orang yang berjubel.
Dan beberapa waktu yang lalu, saat ada perhelatan Royal Wedding dari putri Sultan, saya merasa de javu. Kerumunan orang-orang yang tumpah ruah selalu mengingatkan pada masa-masa kecil saya bersama keluarga, saling berdesak-desakan, kaki terinjak-injak, perasaan tak aman karena tubuh saya kecil dan pendek padahal saya 'dikepung' oleh orang-orang yang menjulang, dan perasaan was-was kalau ada yang 'nakal' melakukan hal-hal 'tak sopan' di belakang tubuh kita. Dan sore itu, saat saya, Greg dan Meita memutuskan untuk ikut dalam 'momen tumpah ruah' ini, wow, saya benar-benar merasa terlempar kembali ke masa-masa saat saya kecil dan digandeng oleh ayah saya. Didesak, disikut, diinjak, didorong-dorong, dipepet. Kruntel kruntelBau keringat dan udara sore yang panas menjadi bumbunya.
Hanya bisa melihat tombak-tombak walau sudah berjinjit-jinjit.
Hanya sekelebatan saja yang terlihat.
Saya hanya bisa mendongak.
Sungguh, inilah momen saat menjadi orang pendek sangat terasa!
Saya sama sekali tidak bisa melihat apa-apa, hanya punggung orang-orang yang di depan saya. Bahkan melihat si pengantin laki-lakinya saja hanya sekelebatan mata. Saya hanya bisa melihat langit. Mendongak. Sudah berjinjit mati-matian tapi tetap saja hanya bisa melihat tombak-tombaknya saja, atau payung-payungnya saja. Ah!
Maka saat rombongan pengantin kerajaan itu berlalu, kami lalu berlari kencang ke arah Alun-Alun Utara, menghambur dengan massa yang lain, bertumpah ruah lagi, berdesakan lagi, mendorong-dorong lagi, tergencet, terpepet, ting kruwel lan kruntel-kruntel. Pliket.
Saat kami sudah di depan Graha Telkom, massa semakin beringas dan kami tersudut. Tak bisa maju. Tak bisa mundur. Jadi saya hanya berdiri pasrah, mengelap keringat, megap-megap mencari udara, dan mendongak.
Mengamati orang-orang yang menonton.
Melihat langit. Melihat apa yang ada di atas saya. Karena saya tak bisa melihat ke depan, dan kalau melihat ke bawah saya hanya melihat kaki-kaki dan debu-debu. Inilah beberapa hal yang terekam mata saya saat saya hanya punya sedikit kebebasan untuk melihat:
dengan mendongak.
Penjor pertanda ada 'ewuh mantu'.
Bapak ini menyaksikan prosesi arak-arakan dari puncak tower Telkom.
Gila!
Langit di atas Alun-Alun Utara yang penuh dengan layang-layang.

Saat pulang, di depan Museum Kereta Keraton ada banyak burung
layang-layang yang memenuhi langit dan terbang rendah
berputar-putar di atas kami!
Pulang ke rumah.

Wednesday, December 7, 2011

Selat Solo, Temulawak dan Bubur Labu

Masih di edisi icip-icip.
Karena saya masih bersemangat menulis tentang makanan malam ini.
Kali ini saya hendak mengajak sampeyan berkenalan dengan salah satu kuliner khas Kota Solo, yaitu Selat Solo, lalu berjalan sejenak menyusuri kampung batik Laweyan dan mampir ke salah satu butik yang memiliki kafe dengan menu minuman jaman dulu, yaitu temulawak dan sarsaparilla, hingga ke salah satu restoran vegetarian favorit saya, yaitu Milas.

***
Pertama kali saya mencicipi Selat Solo adalah di sebuah warung sederhana yang penuh dan panas saat siang hari, setelah saya memberi kuliah tentang Kampung dan Kota di UNS. Mahasiswa Sosiologi yang mengantarkan saya ke Stasiun Balapan, Haha, Arie dan Reza, mengajak saya makan siang dahulu sebelum melompat ke Pramex. Saya tak menampik. Berayun-ayun di Pramex selama 3 jam sebelumnya karena mesin kereta sempat mogok di Klaten membuat perut saya melilit minta diisi. Jadilah mereka mengajak saya ke sebuah warung di dekat Stasiun Balapan, yang bernama Vien's.

Warungnya tak terlalu besar, tapi penuhnya bukan kepalang. Apalagi saat jam makan siang. Orang makan, pergi, datang lagi, makan, pergi, datang lagi, dan seterusnya. Saya heran, warung ini menjual makanan apa sih?
Kata Haha, harganya juga lumayan murah, harga mahasiswa.
Warung Vien's ini menyambut kita dengan jejeran bungkusan 'sesuatu' yang ditata sedemikian rupa di sebuah meja panjang, dan di belakangnya terdapat sebelanga besar kuah panas berwarna merah kecoklatan yang mengepul. Aromanya sungguh baru bagi saya.
Saya mendongak mengamati menu-menu yang dipasang di dinding. Ada Selat Segar, Sup Matahari, Sup Manten, Sup Macaroni, waaah, apa ya itu? Dan saya ajak supaya temen-temen dari UNS memesan makanan yang berbeda-beda sehingga saya bisa icip-icip satu per satu.
He-he-he.
Wah, ternyata Selat Solo tuh semacam salad berkuah ya. Ada potongan-potongan besar kentang, wortel, buncis, acar mentimun dan telur bacem. Kuahnya segar.
Dan harganya?
Hanya 5,500 rupiah saja!
Aduhai. Murah tur wareg, murah dan kenyang, batin saya.
Dan setelah puas icip-icip Sup Matahari, Sup Manten dan Sup Macaroni milik mereka bertiga, walhasil saya kekenyangan bukan kepalang.
Tepat saat kami sampai di Balapan, kereta sudah datang.
Ah, selamat tinggal Selat Solo!


***
Salah satu daftar tempat yang harus saya kunjungi saat saya pergi jalan-jalan ke luar Jogja adalah mencari batik setempat dan membeli satu-atau-dua. Nah, saat saya ke Solo (lagi) yang kali ini bersama Greg naik sepeda motor, dan kami sempat mampir membeli Selat Solo (lagi), saya mengajak Greg untuk mengunjungi Kampung Batik Laweyan. Sekedar mampir dan melihat-lihat, siapa tahu ada yang cocok untuk dibeli.
Saat kami sampai di Laweyan, hari hampir magrib dan kami tak tahu kalau toko-toko batik di kampung itu akan tutup semua saat magrib. Saya kira sampai malam. Jadilah saya masuk ke salah satu butik batik yang masih buka, yaitu Laweyan Putra.
Ada satu gaun batik biru yang sungguh cantik, dan saya sudah hendak membelinya, tapi sampeyan tahu? Saya harus gigit jari, saat saya hendak mencoba di kamar pas, retsleting gaun tak bisa ditutup!
Gila! Saya ini kenapa jadi tambah melar begini ya?
Karena tak mendapatkan apa-apa, saya lalu melenggang keluar mencari hawa. Sungguh mencoba baju yang terlalu kecil dua kali di tubuh membuat berkeringat sangat!
Saya melenggang di depan butik dan menemukan semacam kedai kayu yang suasananya tempo doeloe sekali.
Saya masuk dan menemukan dua botol ini!
Wah! Seperti menemukan harta karun saja rasanya.
Ada dua botol yang menyita perhatian saya: botol hijau bertuliskan 'temulawak' dan botol berbentuk 'jipang' dengan label 'sarsaparilla'.
Langsung saya pesan dua-duanya!
Wah, segar sekali!
Saya lebih suka sarsaparilla.
Greg lebih suka temulawak.
Untunglah, karena temulawak untuk menambah nafsu makan, kalau saya minum banyak temulawak, sampeyan bayangkan saja badan saya pasti tambah besar!
Satu botol temulawak berharga hanya 3,000 rupiah saja, tapi kalau mau membawa pulang botolnya menjadi 5,000 rupiah. Sedangkan si sarsaparilla seharga 5,000 rupiah, dan kalau dibawa pulang agak lebih mahal, 8,000 rupiah. Saya beli masing-masing dua.
Saya pajang botol-botolnya di atas lemari es sekarang, bersamaan dengan patung Ganesha dari India Selatan, patung Maria Lourdes dari Pohsarang Kediri, serta patung kepala Buddha dari Mumbai.


***
Milas.
Restoran vegetarian favorit saya dan Greg. Dan kali ini saya kesana tidak dengan Greg, tapi dengan Mbak Idha dan Mas Danto.
Sebelum berangkat, mendung terlihat bergulung di langit selatan. Saya mengayuh sepeda saya dari Nagan Lor menuju Prawirotaman cepat-cepat. Saya tak mau kehujanan sebelum saya makan. Rencananya kami akan bertemu, makan siang dan membicarakan beberapa hal.
Dan sesegera saya memesan menu, semangkok Sop Labu, dan beberapa kudapan lainnya. Sedikit tips kalau makan di Milas, karena mereka baru memasak kalau kita pesan, maka nunggunya agak lama, jadi saya biasanya punya menu favorit yang langsung teringat di kepala, tak perlu buka-buka buku menu lagi karena beberapa menu sudah hapal di luar kepala. Ah! Saat pesanan kami datang, saya sampai bingung mau makan yang mana, dan bagaimana. Ha-ha-ha!

Tuesday, December 6, 2011

Pinky Raminten!

Yay!
Sudah lama saya tidak menulis tentang icip-icip!

Kali ini saya mau menulis tentang salah satu kedai favorit saya yang sekarang (karena sudah semakin terkenal) semakin menggila padatnya kalau malam minggu, yaitu: House of Raminten.

Nah, jadi sewaktu siang itu setelah saya selesai interpreting di UGM, saya mengayuh sepeda listrik saya dan walhasil, listriknya habis pas di Gramedia! Jadilah saya harus menggowes manual (yang lebih berat dari sepeda biasa), kadang saya berhenti dan menuntun sepeda biru saya. Greg mengusulkan untuk mencari tempat yang bisa kita pinjam stekernya karena saya membawa charger sepeda listriknya. Dan tiba-tiba saya ingat Raminten!

Aduh, semoga tidak penuh, batin saya.

Setiba di sana, saya langsung minta tolong kepada mas-mas yang ganteng-ganteng itu, dan bilang kalau sepeda listrik saya kehabisan listrik, dan saya mau minta listrik. Tentu saja saya nggak enak kalau kami tidak makan di sana, hehehe. Jadilah kami leyeh-leyeh dan memesan beberapa menu.
Siang itu cukup terik, dan kami tak kebagian tempat di lantai dua, jadi kami duduk di teras depan sembari mengawasi sepeda saya yang di-charge di depan pintu masuk. Atap di atas kami berwarna merah yang membias. Udara sepoi-sepoi dari kipas angin yang berputar di belakang Greg.
Ah, terlalu sepoi-sepoi, tengkuk saya jadi mendingin, tukasnya.
Kami bergantian tempat.
Saya memesan es krim mint hijau dan Greg segelas besar es buah pinky.
Saya makan telur penyet dan Greg tempe penyet karena ia vegetarian.
Selamat makan semuanya!
Telur dan tempe penyet yang sluuurp, nikmaaaat!
Es krim mint hijau yang enaaaaak dan lembuuut!
Gelasnya mblenduk besaaaaaaar sekaliiiiiii!
Makan siang yang pinky! :)

Monday, December 5, 2011

Surat Cinta!

Baru saja teman saya, Sadat, bertanya kepada saya tentang surat cinta.
Tiba-tiba saja saya langsung teringat dengan surat cinta pertama saya sewaktu saya masih kecil. Apa? Surat cinta? Masa kecil?
Ya.
Saya sudah menulis surat cinta pertama saya waktu saya masih kelas 1 SD!
Begini ceritanya:
Sewaktu saya masih TK Nol Besar, keluarga saya baru saja pindah rumah. Setiap sore, saya dengan diantar ibu 'dititipkan' di rumah sahabat ibu saya yang bernama Mbak Yani untuk belajar sesuatu yang baru. Entah itu matematika, bahasa inggris, atau melipat dan mewarnai.

Nah, di suatu sore itulah Mbak Yani mengajak saya untuk berjalan-jalan keliling kampung, bertandang ke tetangga-tetangga dan 'pamer' saya kepada mereka.
Salah satu yang di'pamer'in adalah seorang anak laki-laki kecil seumuran saya, kulitnya putih terlihat seperti anak rumahan (beda dengan saya yang suka keluyuran keliling kampung saat anak-anak yang lain tidur siang).

Mbak Yani berkata:

'Nah, ini salah satu temanmu di SD besok. Kalian akan bersekolah di SD yang sama. Ayo, kenalan!'
Saya mengangguk.

Si bocah laki-laki berkata singkat: 'Dita'.
Saya suka dengan tangannya yang halus.

Rambutnya disisir rapi dan mengkilap.
Matanya, ah, matanya sungguh besar!
Dan saat itulah saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Saya jadi rajin ke rumah Mbak Yani setiap sore, bahkan tanpa diantar atau disuruh ibu saya. Tujuan saya hanya satu: bermain dengan Dita.

Dan saat kami sudah masuk SD bersama-sama, saya suka bangun pagi-pagi, berjalan hingga depan rumahnya, dan kadang menunggunya untuk berjalan bersama-sama menuju sekolah.

Oya, saya punya satu lagi teman dekat, namanya Mbak Sukma.
Setiap pulang sekolah saya selalu bermain di rumah Mbak Sukma yang adem dan rindang karena banyak pohon-pohon. Saya memanggilnya Mbak karena badannya lebih besar dari saya. Mbak Sukma punya banyak komik Donal Bebek dan majalah Bobo yang dibendel. Jadilah saya selalu membaca di teras mungil rumahnya dan selalu disuruh pulang saat jam tidur siang datang.
Ah, kadang saya sebal.
Kenapa harus tidur siang?
Saya termasuk orang yang tak pernah bisa tidur siang. Sampai sekarang.
Benar-benar tak bisa dan tak biasa.
Saya ingat ibu saya pernah menyuruh saya tidur siang pada suatu hari setelah saya pulang sekolah, dan saya berusaha memejamkan mata, sampai berkhayal tentang kisah-kisah Oki dan Nirmala atau Paman Husin dan Asta, tetap saya tak bisa tidur.
Kok saya malah ngobrol tentang tidur siang ya?

Oke, jadilah pada suatu siang seperti biasanya saat saya dan Mbak Sukma ngobrol di teras rumah menikmati semilir angin dan tiba-tiba saja saya punya ide. Sebuah ide gila:
Mbak, aku mau bikin surat buat Dita.

Surat apa?
Surat cinta!
Surat cinta?
Iya. Surat cinta!!
Kamu bisa?
Saya mengangguk cepat.

Dan sejam ke depan, kami sudah tertawa cekikikan karena saat saya mencoba menyusun kata-kata yang pas, Mbak Sukma sudah tertawa-tawa.
Akhirnya surat cinta sudah berhasil saya tulis rapi-rapi.
Mbak Sukma menyumbang amplop.
Dan kami mulai menyusun strategi. Kata Mbak Sukma, Dita jarang keluar rumah. Jam 4 sore adalah waktu yang pas untuk memberikan surat cinta karena Dita sudah selesai mandi sore.
Saya mengangguk.
Dan sore itu tibalah.

Saya berdandan rapi. Pakai rok. Rambut dikuncir kuda. Dan sandal jepit baru.
Mbak Sukma bilang berkali-kali: 'aku hanya antar kamu lho!'
Saya masuk ke teras rumah Dita. Perlahan-lahan.
Dan saya berteriak lantang di depan pintu rumahnya: DIIITAAAAAA!
Saya menelan ludah.
Tak ada sahutan. Ah, mungkin ia masih di kamar mandi.
Sekali lagi dengan irama, mungkin cukup untuk menggugah gendang telinganya: DIIIITAAAAAAAA!
Dan saya mendengar langkah-langkah tergopoh-gopoh.

Wah!
Yang datang bukan Dita!
Tapi BAPAKNYA!

Wednesday, November 30, 2011

Pesta Polaroid #2

Masih tentang polaroid.
Kali ini saya mau berbagi tentang beberapa kisah tentang perjalanan, pencarian, menemukan persinggungan-persinggungan yang indah.
Dan kadang sebuah potret telah berbicara banyak.
Tanpa harus ada ungkapan verbal.
Dan saya membubuhkan sedikit kata-kata pada polaroid-polaroid ini, sebagai sebuah pengingat akan kenangan-kenangan yang ditangkap oleh waktu.
Yogyakarta - pada sebuah pagi, derai, derum dan derap

 Bali - pada pantai, langit dan pasir-pasirnya yang bergerinjil

Pada semangkok, sepiring, sesuap kebersamaan di meja makan

Candi - pada hening bebatuan purba dan sunya semesta
Jakarta - pada jelujur pencakar langit, dermaga tua dan masa kini

*bersambung*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...