Tuesday, December 14, 2010

Terombang-ambing di Udara

Ada yang menarik saat saya hendak pulang ke Jogja dari Bali.
Masih dalam masa-masa saat Merapi masih aktif, dan banyak penerbangan yang ditunda, atau bahkan dibatalkan. Dalam jadwal tiket saya hari itu, seharusnya saya pulang ke Jogja naik Garuda malam hari, sekitar jam 8 WITA. Sehari sebelumnya, saya ditelpon pihak Garuda yang membatalkan penerbangan ke Jogja karena abu vulkanik masih mengganggu penerbangan. Okelah. Jadilah saya manut dengan Mbak Dyah, dari Solo, yang mengajak saya untuk bersama-sama naik Lion Air. Dengan jadwal pukul 12 siang bertolak dari Ngurah Rai, lalu transit dulu di Jakarta, baru ke Adi Sumarmo, Solo. Rencananya saya akan naik kereta api Prambanan Ekspress, alias Prameks begitu saya sampai di Solo.
Dan tanpa firasat apa-apa, saya berangkat dengan Mbak Dyah.
Kami tiba di Ngurah Rai hampir pukul 12 dan berlari-lari ke kounter Lion untuk check-in. Dan ternyata, pesawat ditunda. Pukul 2 siang, pesawat baru datang. Jadi kami menunggu dua jam, mengobrol, dan kelaparan.

Saya hanya makan pagi di hotel dan tidak sempat membawa apa-apa. Ketika pengumuman sudah berkumandang, kami segera boarding dan menunggu lagi. Wah, sampai Jakarta jam berapa ya? pikir saya.
Ternyata saya tak punya kesempatan untuk berpikir lagi. Semua begitu cepat. Nggotong-nggotong tas, masuk keamanan, nggotong-nggotong tas lagi, menunggu, mengobrol sedikit, perut berbunyi, lalu mengantri, panjang sekali, dan berjalan menyeberangi lapangan udara untuk masuk ke pesawat. Berjejal-jejal, mengantri lagi, nggotong-nggotong barang lagi, baru bisa duduk. Dan ketika pesawat lepas landas, saya lega.
Jogja, saya akan pulang.
Sudah rindu dengan beberapa orang di sana.

Penerbangan terasa kering dan membosankan. Membaca majalah sampai habis, tak juga membunuh bosan. Mungkin saya terlalu cepat membaca. Jadi, saya ulangi lagi. Kali ini hanya melihat-lihat dan mencermati gambar-gambarnya saja. Hendak tidur, kepala saya pening sekali, karena lapar. Jadi saya menutup mata.
Dan beberapa lama kemudian, pesawat sudah hampir mendarat di Soekarno-Hatta. Nggotong-nggotong lagi, antri lagi, berjejalan, menyeberangi lapangan udara, menuju tangga sempit, dan berbondong-bondong menuju loket transit, mengantri lagi, lalu nggotong-nggotong barang lagi, dan berbondong-bondong.
Wah, siapa bilang bepergian naik pesawat enak? pikir saya.

Ini kali ketiga saya mampir ke Soekarno-Hatta. Sebelumnya saya sempat nyasar karena baru pertama kali lewat penerbangan internasional, dan sempat dikira TKW dari Malaysia. Wah, kalau saya ingat itu, saya tersenyum kecut. Lha bagaimana, bawaan saya banyak, kecil, sendirian, bingung dan bahasa Jawa-nya 'medok' sekali. Untunglah waktu itu saya berhasil mencapai area penerbangan domestik dengan bantuan seorang bapak yang mengaku dari Gunung Kidul. Jadilah saya menginjak lantai batubata ini lagi. Menghirup aroma bandara yang sempat saya rasakan setahun yang lalu. Rasanya masih sama. Namun kali ini, saya sudah agak santai. Kami berhenti sejenak. Ingin rasanya membeli segumpal rotiboi atau apa, perut saya sudah kriuk kriuk. Tapi, kami harus segera ke gerbang 3, untuk menunggu lagi. Dan pesawat yang akan ke Solo baru tiba sekitar pukul empat. Okelah. Saya melepas lelah sejenak karena tas saya berat sekali. Buku-buku yang saya bawa mungkin beratnya setara dengan berat badan adik saya yang paling kecil, Wisnu.
Saya letakkan tas punggung saya di lantai dan melihat-lihat. Saya masih ingat dengan atap ini, juga lampu-lampunya yang 'gumandhul'. Saya juga masih ingat dengan toko-tokonya yang berwarna-warni dan dijaga oleh perempuan-perempuan cantik dengan rok panjang berbelahan tinggi. Pahanya yang mulus tersingkap beberapa kali saat orang-orang lewat di depannya. Saya juga masih ingat dengan suara-suara ini. Wah, ini jadi romantisme yang menarik, pikir saya. Setiap saya pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, saya selalu mencecap sampai puas rasanya. Iya. 'Rasa'nya. Semua tempat di dunia ini punya 'rasa' dan saya selalu me'rasa'kan, menyentuh, dan membungkus 'rasa' itu hingga tersimpan baik dalam botol-botol 'rasa' di dalam rak-rak saya. Tiba-tiba Mbak Dyah mengajak untuk bergegas karena sudah hampir setengah empat. Kami berbondong-bondong lagi, nggotong-nggotong lagi, dan mengikuti arus orang-orang yang tak bernama dan menguarkan hawa letih di pori-pori mereka yang tertutup kain berwarna-warni.
Saya tapaki lagi lantai batubata ini.
Mengikuti arus orang-orang, suara roda koper yang menggelinding, dan suara-suara membujuk dari kanan kiri. Saya juga melewati kounter PMI yang kotak dananya penuh dengan uang tersumpal-sumpal. Saya masih ingat. Saya juga ingat dengan ruangan khusus untuk perokok yang mirip seperti boks kaca dengan para laki-laki penghisap tembakau di dalamnya.
Manusia itu aneh ya, kadang-kadang, saya seperti alien yang masuk ke sebuah planet penuh dengan makhluk bernama manusia yang baru pertama kali saya lihat. Menarik sekali. Perempuan-perempuan dengan tungkai panjang, laki-laki dengan perut membuncit yang disangga dengan benda hitam mengkilat yang melingkari pinggang mereka, anak-anak yang berbinar-binar dengan menyeret koper kecil mereka yang berwarna permen.
Dan tibalah kami di gerbang keberangkatan.
Dan sampeyan tahu, hampir tak ada tempat duduk yang kosong. Jadilah saya duduk di lantai beralaskan sepatu butut saya. Setengah jam, empat puluh menit tanpa berita. Hampir jam lima. Dan ternyata, kami harus pindah ke gerbang keberangkatan nomor 1 karena pesawat ke Solo ditunda. Apa?

Ditunda lagi? Jadi kami berbondong-bondong lagi, bergegas-gegas, nggotong-nggotong, dan masuk ke gerbang 1. Hingga hampir maghrib kami menunggu, akhirnya pesawat yang akan ke Solo pun datanglah.
Saya sudah tak terkirakan capeknya. Dan lapar.
Kami berbondong-bondong lagi masuk ke pesawat, berjejalan, mengantri, nggotong-nggotong, dan akhirnya duduk. Huah!

Jam enam sore, kata jam saya. Dan selagi saya duduk, saya melihat rombongan yang tak asing: Sheila on 7. Wah, lumayan. Duta tersenyum saat saya berkata hai, mungkin saya sudah sinting. Terlalu capek untuk berpikir.
Ketika pesawat sudah terbang, saya sudah lega sekali.
Hampir jam setengah tujuh, saat tiba-tiba pesawat yang kami tumpangi mendadak oleng dan seperti dihempaskan. Rasanya seperti naik sepeda motor yang menuruni jalan yang curam. Whuzz. Saya deg-degan sekali.
Wah, ada apa ini. Penumpang-penumpang sudah ribut. Saya pikir, kemungkinan terburuk kalau ada apa-apa dengan pesawat ini, setidaknya saya sepesawat dengan Sheila on 7. Ha-ha-ha.
Pilot mengumumkan ada turbulensi dan angin kencang serta hujan badai di Solo, jadi kami tidak bisa mendarat. Untuk amannya, kami semua akan putar balik menuju ke arah Juanda, Surabaya. APA?
Saya lemas. Penumpang semua ribut. Saya hanya pasrah.
Jam delapan lebih seperempat kami mendarat di Juanda. Begitu pesawat berhenti, terjadilah keributan besar di dalam kabin. Semua penumpang cepat-cepat menyalakan ponsel, dan menelpon sanak kerabatnya di rumah. Bermacam-macam bahasa, dan mereka berteriak-teriak.
Saya tertawa. Ha-ha-ha. Lucu sekali rasanya mendengar seluruh kabin, yang tadinya tenang, kini riuh seperti pasar tiban.
Halo! Wah, pesawat'e telat rek! Aku saiki malah nduk Juanda.
Halo, Pa. Ada badai di Solo. Aku sekarang di Surabaya.
Halo! Kamu di mana? Di bandara? Sudah pulang saja. Aku nanti naik taksi.
Halo! Pak, iki piye. Pesawat'e ki malah mubeng-mubeng. Saiki tekan Suroboyo.
Dan halo-halo yang lain.
Termasuk Mbak Dyah dan penumpang di sebelah kanan saya.
Saya hanya sms saja. Sms ayah saya, Greg dan teman-teman di YPR.
Ternyata kami semua tak diperbolehkan turun dari pesawat, jadi rasanya seperti berada dalam penyanderaan pesawat yang dibajak. Dan tentu saja, delapan jam tanpa makanan, waaah. Lapar sekali!
Akhirnya para pramugari hilir mudik memberikan kotak berisi dua kerat roti yang tebal-tebal beserta air mineral dalam gelas. Saya lahap. Tiga menit, roti saya sudah habis. Dan kami semua harus menunggu.
Hampir pukul sembilan, akhirnya pesawat mulai bergerak. Meninggalkan seorang bapak-bapak yang tak sabar yang kemudian minta diturunkan di Juanda. Dan sontak semua penumpang berseru, HOREEEE!
Saya juga ikut berseru. Wah, akhirnya kami pulang!
Tiba di Adi Sumarmo, Solo, waktu sudah hampir jam sepuluh malam.
Dan tentu saja tak ada kereta api Prameks.
Saya sadar, saya belum benar-benar pulang.
Mbak Dyah menyarankan agar saya naik taksi sampai Jogja. Apa? Naik taksi sampai Jogja? Rencananya saya akan nebeng Sheila on 7, tapi kok mereka tak kelihatan batang hidungnya.

Oke, saya pesan taksi, dan dimulailah perjalanan panjang menuju Jogja.
200 ribu, sodara-sodara, ongkos taksinya.
Berakhirlah perjalanan saya terombang-ambing di udara.
Sampeyan bisa bayangkan:
Denpasar - Jakarta - Surabaya - Solo.
Dari timur, ke barat, berbalik ke timur lagi, lalu ke barat lagi.
Bertolak dari Denpasar jam 12 siang, tiba di Solo jam 10, sampai di Jogja hampir jam 12 malam. WAOW.
Waaaah! Petualangan yang sangat seru!!

Dan saya dijemput Greg dan hujan deras.

Akhirnya: saya BENAR-BENAR PULANG!

4 comments:

  1. penerbangan yang kilat dan ribet tapi seru dan masih sempetnya memikirkan sheilaon7, hahaha, gokil.

    -arum-

    ReplyDelete
  2. hai Arum :)

    iya. lha aku ki seneng karo Duta je. hehehe.
    iya. memang penerbangan yang sangat cihuiy...
    hehehe :)

    ReplyDelete
  3. mbak...kok aku ikutan 'capek' juga ya...keren banget cara bertuturnya...sampe saya kayak ikutan nggotong-nggotong barang dan kelaperan dan merasa dodol karena sempet mikirn SO7 juga hahahahaha

    Nunu

    ReplyDelete
  4. Hai hai Nunu :)
    makasih yaaaa sudah membaca cerita2ku :)
    sip sip :)

    salam hangat dr Jogja :D

    xoxo
    vanie

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...