Wednesday, December 15, 2010

Terombang-ambing di Laut

Kalau kemarin saya sudah cerita tentang terombang-ambing di udara dan di darat, sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya terombang-ambing di laut. Wah, episode tiga hari ini memang harus lengkap: episode terombang-ambing. Dan kali ini saya akan bercerita pengalaman pertama saya saat saya naik kapal. Walaupun hanya menyeberang selat kecil yang memisahkan Jawa dan Bali, tapi benar-benar sebuah pengalaman.
Lha, selama ini baru satu kali saya naik perahu, itu pun di kolam besar di tengah Maerakatja, sebuah taman rekreasi di Semarang yang entah sekarang masih ada atau tidak. Saya pergi ke sana sewaktu perpisahan SD, jadi ya sekitar 14 tahun yang lalu. Dan pengalaman naik perahu di danau buatan itu sangat tidak mengenakkan. Hampir sampai di tengah, saat perahu kecil saya mulai miring dan berair. Hampir tenggelam dan kami bertiga di dalamnya bukan perenang, jadi saya teriak-teriak seperti orang gila di panas terik siang itu dan memanggil-manggil petugas penyewaan perahu yang beberapa menit kemudian datang membawa tali tambang untuk menarik perahu kami ke darat. Dan setelah saat itu, saya tidak pernah naik benda apapun yang terapung di atas permukaan air.

Hingga tiba saatnya saya harus menyeberang, mau tak mau, dengan kapal besar yang dapat menampung beberapa bis dan truk. Kami sampai di Ketapang hampir pagi. Dan Greg membawa saya ke beberapa sudut yang menarik. Kami bisa melihat lampu-lampu yang kelap-kelip di atas laut, langit yang gelap yang lalu berangsur-angsur berwarna biru subuh, bulan purnama yang lembut di atas gunung (Semeru, mungkin), gelombang air yang meriak saat haluan kapal membelah permukaannya, dan orang-orang yang terkantuk-kantuk dalam semilir angin laut. Saya berkeliling sendirian, meninggalkan Greg yang tengah berdiri terpekur menatap laut. Saya punguti segala bau, suara, visual dan rasa yang melesat dan berkelebat di sekitar saya. Toilet umum yang sungguh pesing, suara bayi menangis kencang karena terbangun dari tidurnya, rengekan balita yang minta kembali ke dalam bis, dan kelisik pasangan di sudut-sudut gelap.
Saya nikmati pengalaman pertama saya ini dengan menangkap sebanyak-banyaknya, apapun yang bisa dicecap oleh indera saya.
Saya juga sempat melesak sejenak dalam hening dan merasakan perjalanan ini.
Bahwa saya sudah menempuh ribuan kilometer dan terantuk-antuk dalam bis besar, membayangkan apa saja yang telah terjadi, semacam, wah, padahal baru tadi pagi saya dan Greg bergegas-gegas memasukkan barang-barang ke dalam tas, kok pagi ini sudah ada di atas laut, mengambang bersama kapal dan menyaksikan sebuah atmosfer yang berbeda. Sungguh sebuah perjalanan. Saat saya melakukan perjalanan semacam ini, saya selalu membuka diri saya atas semua yang gelap dan terang. Atas semua yang teraba dan tak teraba. Dan sungguh, terombang-ambing di laut kali ini, saya merasa tidak apa-apa. Saya nikmati saja.
Dan saya menggelinding pelan menuju timur. Dengan angin yang berhembus lembut di sela-sela selendang saya, ingin menyapa jantung, dan berkata:
'selamat datang di atas laut!'
Langit biru subuh. Purnama lembut. Laut beriak tenang.
Di antara besi-besi dan palang-palang.
Lingkaran, garis, langit dan laut.
Atas, bawah. Manusia, manusia.

Greg yang menyambut terbitnya matahari dan silamnya purnama.
Besi. Laut. Manusia. Laut. Besi.
Sudut yang indah.
Melampu di atas riak dan gelombang.
Saya, sepatu butut, kapal dan laut. Akhirnya!
Satu sudut indah lagi di kapal ini.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...