Wednesday, December 15, 2010

Terombang-ambing di Darat

Kalau sebelumnya saya bercerita tentang terombang-ambing di udara dalam perjalanan saya dari Bali menuju Jogja, kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana saya terombang-ambing di darat. Saya sampai heran sendiri, kok sepertinya perjalanan saya ke Bali kali ini susah sekali. Berangkatnya susah, pulangnya juga susah. Berangkatnya penuh perjuangan, pulangnya juga penuh perjuangan. Untung saja saya termasuk orang yang tahan menderita. He-he.
Jadi, saya seharusnya berangkat pagi-pagi naik Mandala dengan tujuan Denpasar. Namun, pagi sebelum saya berangkat, saya di-sms Mandala bahwa penerbangan tidak dibatalkan tapi dialihkan ke Semarang. Wah.
Saya putar otak. Jam penerbangan tetap. Jam 7 pagi. Tapi dari Ahmad Yani, Semarang. Dan berarti saya harus menginap. Dan berangkat dari Jogja sore itu juga. Wah. Saya ber-wah-wah sendirian.
Untung saja, teman baik kami, Pius, tinggal di Semarang. Jadilah saya mengkontak dia, saya akan numpang menginap di kamar kosnya.
Pertama-tama, saya berencana naik travel yang langsung ke Semarang.
Dengan ditemani Greg, saya berkeliling dari satu travel ke travel yang lain di seputaran jalan Mangkubumi, dekat Tugu. 
Hasilnya? Nihil.
Wah, maaf mbak, sore ini sudah penuh.
Maaf, tidak ada rute ke Semarang sore ini.
Iya, mbak, kalau mbak mau ada, besok pagi jam delapan, bagaimana?
Saya lemas.
Greg bilang, coba kita cari travel di daerah lain. Lalu kami muter-muter ke Prawirotaman dan sekitarnya, di tengah guyuran hujan deras.
Lagi-lagi nihil.
Gimana dong? Saya sudah panik. Sudah pukul lima sore. Hujan deras.
Dan saya belum segera berangkat ke Semarang.
Saya lalu telpon Pius, dan bertanya apa nama bis yang berangkat ke Semarang. Dan sampeyan tahu, tidak ada satu pun bis yang berangkat ke Semarang sore itu. Tidak ada.
Saya hampir menangis, hingga Pius menyarankan untuk naik Prameks, lalu naik bis ke Semarang dari Terminal Tirtonadi.
Oke. Ada titik terang. Kami bergegas ke Stasiun Tugu.
Dan dikejutkan dengan buanyaknya calon penumpang yang membludak hingga luar stasiun. Wah, ada eksodus besar-besaran to ini, pikir saya.
Untung kami mendapat tiket. Greg memang sengaja saya ajak karena saya butuh teman sore itu. Sangat membutuhkan teman.
 Akhirnya, kami tak jadi naik Prameks tapi ikut kereta bisnis yang menuju Surabaya. Dan kami tiba di Stasiun Balapan disambut hujan deras sekali.
Kami segera naik becak menuju Terminal Tirtonadi karena para sopir taksi menolak membawa kami. Sampai di terminal, kami menunggu bis.
Hampir pukul sembilan saat bis yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Kami bergegas naik. Dan dimulailah perjalanan panjang menuju Semarang. Untunglah bis yang kami tumpangi cukup nyaman, dengan jendela yang cukup besar dan ber-AC. Bahkan ada tivi yang selalu memutar lagu-lagu Poppy Mercury. Wah, lagu-lagu sejak saya SD terputar kembali dalam ingatan saya.

Tiba di Semarang, hampir pukul 11 malam. Pius sudah menunggu kami di pinggir jalan. Dan sampailah kami di kosnya. Saya harus bangun pagi-pagi besok karena pesawat saya berangkat jam 7 pagi. Jadilah kami tidur bertiga, untel-untelan, berdesak-desakan.
Ketika pagi tiba, saya bangun lebih dulu. Greg dan Pius belum bangun. Saya bergegas ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuh saya. Dingin.
Sebenarnya saya agak merasa aneh menggunakan kamar mandi di kosnya Pius ini. Bayangkan. Kalau saya menekan saklar lampu, langsung ada suara yang mendengung keras sekali. Nguuuung.
Dengungan yang berdengung dan dalam. Seperti teredam oleh sesuatu. Saya perhatikan, kamar mandi di kosnya Pius ini tidak simetris. Mirip trapesium. Bak mandinya saja agak mencong-mencong. He-he-he.

Saya mandi sambil melihat-lihat sekitar saya. Ubin birunya berkilat bersih karena setiap hari dipel dengan air sabun. Dan atapnya. Waow. Saya lama melihat ke atas. Atapnya sebenarnya biasa saja. Hanya ada genteng kaca yang bisa menangkap warna langit pukul lima pagi. Birunya indah sekali.
Awalnya berwarna biru gelap, lalu perlahan-lahan berubah-ubah menjadi biru terang dan biru azura. Wah, saya masih terkagum-kagum dengan perubahan warna langit di dalam kamar mandi kosnya Pius ketika saya dikagetkan oleh suara dengungan yang lain. Suara mesin cuci. Wah, berarti sudah ada yang bangun selain saya.
Saya bergegas. Dan cepat-cepat memfoto sepotong langit biru jam lima pagi yang membias mengenai tubuh saya yang masih basah.
Lalu saya segera keluar dan melihat ada seorang perempuan muda berdiri di depan pintu kamar mandi sedang membawa setumpuk cucian kotor. Saya mengangguk. Dan cepat-cepat pergi ke kamar. Ternyata mereka masih tidur. Ealah.
Akhirnya, jam enam tepat saya berangkat menuju bandara Ahmad Yani.
Dengan sedikit pelukan dan tepukan dari Greg, saya berangkat.
Saya langsung check-in dan menunggu hingga waktu boarding tiba.
Wah, kalau dipikir-pikir, sudah berapa bandara yang saya singgahi ya? Efek sampingnya adalah saya jadi tahu nama-nama bandara di kota besar di Jawa. Belum lagi nanti saat saya mengalami terombang-ambing di udara waktu saya pulang dari Bali. Selama saya menunggu, saya melihat berkeliling. Bandara ini tidak terlalu besar. Dan tidak terlalu banyak orang juga. Kebanyakan adalah ibu-ibu separuh baya berjilbab dan rombongan keluarga dengan beberapa anak. Saya sempatkan sebentar untuk melihat-lihat buku di Periplus. Lumayan. Hampir pukul tujuh dan saya masih belum mendengar panggilan keberangkatan pesawat Mandala yang akan menuju ke Denpasar. Lalu saya berinisiatif untuk bertanya kepada petugas, dan ternyata saya memang tidakmendengar pengumuman. Calon penumpang yang menuju Bali sudah ada di dalam ruangan lain. Saya bergegas. Tak ada barang yang digotong-gotong karena saya hanya membawa dua potong baju saja, dua celana, dan empat potong pakaian dalam. Itu saja. Dan lima menit kemudian, saya sudah duduk manis di atas kursi biru. Dan terlelap sejenak karena perjalanan semalam yang cukup melelahkan.
Denpasar, saya datang!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...