Thursday, December 16, 2010

Tebuireng, Gus Dur dan Jilbab Jingga

Hari ini saya diajak paman saya untuk menengok atau bahasa Jawa Timurnya, nyambangi sepupu saya, Anis, yang mondok di pondok pesantren di Jombang. Sudah hampir seminggu saya memang menyepi di rumah nenek saya di Mojokerto. Dan sore ini saya bertolak menuju Jombang, ke sebuah daerah bernama Diwek, Cukir, dekat Pondok Pesantren Tebuireng, tempat dimana Gus Dur dimakamkan. Wah, saya sudah tidak sabar. Saya memang berniat untuk ziarah ke makam Gus Dur.
Dan ketika paman saya sudah bersiap-siap hendak berangkat, mbah putri saya bilang, eh, lapo koen gak athik jilbab?

Kenapa saya tak pakai jilbab? Ya saya kan memang tak berjilbab.
Ternyata, usut punya usut, kalau kita ke pondok, memang harus berjilbab. Ya. Jadilah saya memakai jilbab, dengan selendang pashmina jingga kesayangan saya, serta suara tertawa sepupu saya, Nia, yang melihat saya memakai jilbab. Wah, sampeyan koyok guruku ndek sekolah mbak, puersis rek!
Dan akhirnya kami berangkat. Naik sepeda motor.
Daleman-Sooko-Brangkal-Trowulan-Mojoagung, lalu berbelok, ke kiri, ke ruas jalan alternatif bernama Mojowarno yang belum pernah saya lewati sebelumnya. Kata paman saya, rute ini lebih cepat dan lebih enak, karena tak ada bis-bis besar jurusan Surabaya-Jogja dan tak ada lampu merah. Kami melewati hamparan sawah dan aroma desa-desa. Ketika akhirnya sepeda motor paman saya membelok ke kanan, saya terkejut, wah, banyak sekali rumah Belanda di sepanjang desa ini. Rumah-rumah kolonial yang beralih jadi pemukiman warga, tersembul malu-malu di antara bangunan-bangunan baru. Hampir semua bangunan lama itu masih terawat dengan baik, dan saya sudah mulai menduga-duga, kalau ada bangunan Belanda di sebuah daerah, hanya ada sedikit pilihan jawaban. Ada pabrik gula, perkebunan, atau wilayah administrasi. Dan sepertinya, jawaban pertama-lah yang paling tepat.
Ada sebuah pabrik gula besar dan tua bernama TJOEKIR alias Cukir yang langsung saya tangkap saat saya sampai pada sebuah ujung pertigaan jalan yang penuh dengan truk pengangkut tebu yang hilir mudik dan becak-becak yang berseliweran. Wah, sepertinya saya sudah sampai.
Ya, kami lalu masuk ke dalam pondok pesantren tempat sepupu saya bersekolah di dalamnya. Dan menunggu. Cukup lama juga ya. Katanya sepupu saya sedang mengaji. Paman saya tak boleh masuk, karena dia laki-laki. Jadi, hanya saya saja yang dibolehkan untuk masuk ke dalam. Dan sampeyan tahu, masuk ke pondok pesantren putri itu sangat seru. Ada beberapa hal menarik yang bisa dilihat dan dipelajari. Waktu saya sedang berdiri di depan sebuah kotak kayu dengan kotak-kotak kecil yang berisi beraneka sandal, gayung warna-warni, beragam celana dalam yang digantung, saya mendengar ada seorang berseru, mbak, suci mbak. Saya diam saja. Suara itu terdengar lagi, mbak, suci, mbak! Dan seorang perempuan datang menghampiri saya sambil menuding ke arah sepatu butut saya yang sangat terlihat kotor sekali. Wah, saya lupa! Ini daerah suci, artinya, harus lepas alas kaki karena lantai yang saya injak digunakan untuk lalu lalang orang setelah mereka mengambil air wudhu. Wah, berkali-kali saya minta maaf.
Beberapa saat kemudian, sepupu saya keluar, dan mengajak saya keluar.
Sampai di halaman dalam, sepupu saya bertemu dengan ayahnya, ya paman saya itu. Saya melihat-lihat sekitar karena saya tak mau mengganggu mereka bercengkerama. Maklum, jika seorang anak 'dipondokkan' berarti si anak akan berpisah dengan orangtuanya, belajar hidup mandiri, dan mungkin sebulan dua kali si orangtuan datang menengok sambil membawa uang saku atau makanan kecil. Nah, saat saya melihat-lihat itulah saya mendapati gerobak bakpao yang biasa saja, tapi bakpaonya aneh. Bentuknya seperti payudara. Lengkap dengan putingnya. Ha-ha-ha. Saya foto saja. Apa semua bakpao di Jombang seperti ini ya? He-he.
Setelah minum susu kedelai kesukaan saya dan beberapa bakpao berputing yang lumayan enak, saya meminta sepupu saya untuk mengantar saya ke makam Gus Dur. Saya hendak ziarah. Dan kami lalu berangkat. Perjalanan hanya tiga menit naik sepeda motor. Dan ternyata, tutup. Wah, kami harus meminta kepada pak satpam untuk membolehkan kami masuk. Boleh.
Huaa! Kami lalu masuk ke area Pondok Pesantren Tebuireng yang didirikan KH. Hasyim Asy'ari tahun 1899 lalu. Hampir maghrib. Dan kami harus berjalan pelan dengan menunduk karena kami masuk ke pondok putra. Kata sepupu saya, seharusnya kami tak boleh masuk lewat sini.
Dan setelah berjalan menyeberangi lapangan masjid, kami sampai.
Hanya ada beberapa orang yang berdoa, cukup sepi. Lalu kami segera mengirim doa untuk Gus Dur. Saya ber-amin-amin, sepupu saya yang memimpin doa. Lima menit. Sepuluh menit. Lalu saya terpekur. Di depan saya terbaring sosok guru besar bangsa, dan saya memang agak terkejut, makamnya sederhana sekali. Hanya ada dua pot bunga sedap malam yang menemani, dengan batubata yang disusun melingkar. Tali-tali pembatas tampak terlihat untuk mengantisipasi peziarah yang membludak. Lagi-lagi saya terpekur. Berziarah membuat saya banyak berpikir tentang kehidupan, dan kematian.
Sepupu saya bilang, ayok mbak, wis kate magrib, ditunggu ambek ayah.

Saya tersadar. Dan kami pulang. Melewati lapangan masjid, menunduk, menghindari tatapan mata para santri putra, mengucapkan terima kasih kepada pak satpam, dan menuntun sepeda motor ke gerbang depan.
Akhirnya, saya akhiri perjalanan kali ini, dengan sebuah pemahaman baru, akan sebuah kota, religiusitas, budaya, hubungan sebab akibat, dan rasa berdetak yang terlalu kencang untuk dilukiskan karena paman saya ngebut hingga 100km/jam di jalan raya Surabaya-Jogja.
Saya pegangi jilbab jingga saya erat-erat.
Gerbang depan Pondok Pesantren Tebuireng.

Tulisan yang ditempel pada sebuah pohon di samping pintu gerbang. Saya tidak tahu apa maksudnya.

Saya dan Anis. Jilbab jingga itu sepertinya pas. He-he.

4 comments:

  1. pengalaman menarik.. mksh..

    ReplyDelete
  2. tulisan yang digantung itu namanya mufrodat mbak, alias kosakata. Tempelan2 itu alat bantu bwt santri belajar bahasa di pondok.

    ReplyDelete
  3. Waow. tengkyu Fika :) tak kira ada apa gitu :)
    wah, kamu juga anak pondok ya? :) siiip :) suwun ya :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...