Thursday, December 23, 2010

Skripsi oh Skripsi

Jadi, begini to yang namanya skripsi?
Ahai! Wadow! Hush! Sssssst!
Saya mengambil mata kuliah THESIS yang artinya adalah skripsi satu setengah tahun yang lalu, dan hari ini, tepat di hari Ibu, saya pontang panting kesana kemari untuk mencari dosen sambil meminta tandatangannya yang berharga.
Saya pikir, itu hanya mitos.
Saya pikir, itu hanya legenda.
Itu adalah:
Wah, skripsi tuh yang paling sulit mencari tandatangan dosen, van.
Wah, kamu kebanyakan cari duit di luar sih, jadi skripsimu nggak selesai-selesai.
Wah, kamu gonta-ganti novel terus sih, kapan kelarnya?
Ternyata tidak.
Pagi ini saya semangat ke kampus berbekal segepok kertas tebal dan sejumput doa. Dan walhasil, saya harus mengetik beberapa revisian dulu, menge-print-nya, dan setelah kemarin sempat digoyang gempa di workstation perpustakaan Sanata Dharma, saya tetap tak tergoyahkan.
Harus bisa daftar ujian skripsi hari ini!
Setelah melewati beberapa halang rintang:
1) mengasingkan diri di sebuah desa terpencil di Jawa Timur yang tak ada koneksi internet dan lemah sinyal hape untuk menulis bab 1 hingga bab 5 hanya dalam waktu 5 hari saja,
2) menunggu kepala sekolah SMA di Mojokerto untuk meminta tandatangan demi legalisir ijazah,
3) tak berhubungan dengan Greg, pacar saya selama hampir dua minggu,
4) menjalani sebuah perjalanan darat dengan bis yang memabukkan selama 8 jam dan naik kereta api yang penuh sesak selama 6 jam saja,
5) menghabiskan hampir 500 ribu untuk ini itu hanya dalam waktu seminggu,
6) hampir tak bisa foto ujian skripsi di sebuah studio foto di bilangan Samirono, karena hampir jam 9 malam dan saya memohon kepada mbak-mbak front desk-nya karena saya dari rumah naik transjogja dan berpotensi untuk berjalan kaki lagi dari halte Kotabaru sampai rumah saya di barat Malioboro,
7) digoyang gempa saat mengetik revisi di perpustakaan lantai dua,
8) dan berlari-lari sepanjang lorong PBI demi mendapatkan tandatangan yang tak bernilai itu.
Huah!
Akhirnya!
Horeeee!
Saya dapat!
Saya begitu senangnya hingga saya melonjak setinggi tinggi badan saya sendiri. Dan memeluk beberapa orang yang tak saya kenali.
Tapi saya tak peduli.
Lima setengah tahun saya berkutat dengan tugas-tugas kuliah dan paper, dan saya lega sekali tinggal satu langkah lagi.
Tak perlu lah membayar uang kuliah semester depan yang mahal itu, "hanya" membayar uang wisuda yang lumayan mahal juga di bulan April kelak.
Oya, kalau sampeyan ingin tahu tentang apa skripsi saya, saya mengambil sastra untuk skripsi saya, sebelumnya saya berkutat dengan tema propaganda dalam novel George Orwell yang 1984, akan tetapi saya langsung berubah haluan saat di sebuah siang yang tenang di YPR, teman baik saya Gugun datang dan membawa sebuah buku yang lawas dan kekuningan,
van, mau balikin bukunya Mbak Ani (Himawati) ya.
Saya menoleh dan membaca sekilas. Dan agak penasaran.
Saya bawa ke rumah untuk bacaan ringan dan saya langsung jatuh cinta.
Buku itu adalah kumpulan cerita pendek pengarang India bernama Jhumpa Lahiri berjudul Interpreter of Maladies, atau Penafsir Kepedihan.
Dan saya langsung mengambil 3 cerpen untuk saya analisa.
Judul skripsi saya tercetus tiba-tiba saat saya duduk di ruang tamu nenek saya di Jawa Timur, saat saya dalam pengasingan, walhasil, skripsi saya berjudul, The Experience in Exile, atau pengalaman dalam pengasingan.
Betapa kebetulan!
Dan jika sampeyan juga hendak menulis skripsi dengan waktu yang mepet, umur yang mepet, uang yang mepet, dan ide yang mepet juga, cobalah keluar sejenak dari lingkaran sampeyan dan pergi mengasingkan diri ke sebuah tempat yang tak ada koneksi internet dan lemah sinyal, karena dalam kondisi yang tak nyaman, kita dituntut untuk berjuang untuk survive.
Kalau sampeyan tak berhasil dengan cara seperti saya, ya jauh-jauh hari tulislah skripsi sampeyan agar tak mengalami rentetan kejadian seperti yang saya alami ini.
Oke, saya sudah siap untuk ujian skripsi, atau dalam bahasa Jawanya, pendadaran, diambil dari kata dadar, seperti telur dadar, yang dikocok-kocok dahulu, diublak, lalu digoreng sreeeng di atas wajan panas.
Apakah saya akan jadi telur dadar atau telur ceplok?
Tunggu cerita saya ya! :)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...