Sunday, December 5, 2010

Sesuap Sore di Jimbaran

Saat ke Bali awal November kemarin, saya dan teman-teman penerima Prakarsa Kota Lestari mampir ke Pantai Jimbaran untuk merasakan bagaimana rasanya makan malam di sepanjang pantai, yang konon katanya sambil memandang matahari terbenam di pesisir Bali.

Jadilah kami bersama-sama berangkat, dan ternyata setelah sampai di pantai, mendung bergayut di atas laut. Wah,sepertinya tidak akan ada matahari terbenam di Jimbaran sore ini. Jadi ya kami putuskan untuk menunggu saja. Teman-teman saya yang kebanyakan sudah berkeluarga itu sedang asyik berfoto-foto ria, saya memilih untuk berjalan-jalan di pantai yang masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bermain air, dan sisanya bermalas-malasan di atas handuk pantai.Dan saat saya kembali, sudah terhidang di depan saya, piring-piring putih yang berderet rapi beserta botol air mineral yang segelnya sudah terbuka (atau dibuka?).
Hmm, saya bertanya-tanya, harga paket 60 ribu per orang ini akan seperti apa. Lalu, susul menyusul semangkok sop dan segelas kecil jus jeruk. Saya mencicipi satu persatu. Oke, sopnya tidak terlalu panas, dan jus jeruknya tidak seperti jus jeruk. Mungkin ini sirup jeruk, bukan jus. Okelah, ndak apa-apa, pikir saya.


Ronde pertama, semangkok sop sayuran dan segelas sirup jeruk.
Sop sayuran yang kurang panas, tapi lumayan lah, yang isinya wortel dan kentang.
Inilah makanan utamanya, ada sate cumi, ikan, dua udang, dan kerang.
Ternyata mereka menambahkan kangkung untuk lalapan.
Wah, tampilan secara visual sih oke, mari kita coba satu-satu. Semua tampak baik-baik saja, sate cumi, ikan, udang dan kerang, lumayan. Tapi, ada sesuatu yang kurang dalam rasa saya. Apa ya? Saya coba lagi. Kangkung dan lalapannya. Karena saya suka tomat, saya gigit langsung, dan ini dia! Saya tahu apa yang kurang. Semua oke, tapi KURANG SEGAR. Seperti sudah agak lama tersimpan dalam lemari pendingin, ya, sayurannya, ikannya, udangnya, cuminya, kerangnya, dan saya cicipi lagi sup dan sirup jeruknya, sama.
Semua-kurang-segar.

Tapi ya ndak papa, saya nikmati saja semuanya.
Pantainya, mendungnya, makanannya, dan musiknya.


Aw, saya lupa! Ada yang tidak pas dengan musiknya. Saya pikir, ketika saya makan organisme laut di bibir pantai Jimbaran, saya akan disuguhi dengan gending-gending Bali yang rancak. Ternyata tidak, sama sekali. Sampeyan tahu, apa yang mereka setel? Gamelan Sunda. Wah wah wah. Saya heran, apa gamelan Sunda memang cocok untuk menemani santap makan? Wah wah, saya jadi agak terganggu. Ternyata, ada satu lagi alasan kenapa kadang saya tak suka pantai, iya itu tadi. Beberapa bagian pantai di Bali saya pikir sudah semakin dikomersialisasikan. Dan saya kadang rindu dengan pantai-pantai yang apa adanya. Yang kemungkinan besar, pantai-pantai apa adanya itu cepat atau lambat juga akan dirambah oleh bisnis pariwisata. Kadang terlalu banyak turis juga saya tidak terlalu suka. Tidak terlalu sehat, menurut saya lho.
Ah, mending saya beli jagung rebus saja...
Jagung, pantai, perahu, anak-anak, dan sore yang mendung.

1 comment:

  1. waaah, pengen deh main2 kaya gitu...makanannya enak pasti..

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...