Monday, December 20, 2010

Sepuluh Menit Saja di Istiqlal

Kali ini Antoine mengajak saya ke Masjid Istiqlal, yang katanya terbesar di Asia Tenggara. Kami masuk ke pelatarannya dan mencopot alas kaki, lalu masuk ke dalam. Lantai agak lengket karena banyaknya orang yang lalu lalang dan keluar masuk masjid. Begitu tiba di dalam, kami bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku menjadi pemandu karena Antoine seorang bule. Dia berkata, saya akan ajak Anda berkeliling masjid, sepuluh menit saja.
Kami berpandangan. Sepuluh menit saja? Wah, okelah.
Kami mengikuti mas-mas yang berpakaian rapi itu, lalu mulai masuk ke dalam masjid. Ini pertama kalinya saya pergi ke Istiqlal, jadi saya cerap sebanyak-banyaknya rasa yang menggaung dan bergema di sudut-sudut pilar masjid.
Lengkung yang berpendar emas.
Mihrab yang cantik.
Waktunya berdoa tengah hari.
Lorong jingga yang indah.
Lubang udara yang membiaskan cahaya.
Tugu Monas terlihat di kejauhan.
Antoine, teman saya dari Perancis bersama pemandu masjid.
Sepuluh menit saja ya, Pak.

Syahdunya nuansa di sini.
Pilar-pilar Istiqlal.
Bulan dan bintang di puncak kubah.
Minaret Istiqlal hanya satu, simbol Allah yang Esa.
Tapi sayang, arsitekturnya beragama Nasrani.

Begitu kata sang pemandu yang mengantar kami berkeliling masjid,
benar-benar hanya sepuluh menit.
Sepuluh menit saja.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...