Saturday, December 11, 2010

Segarnya Sore di Ngarsopuro

Karena Pasar Triwindu alias Windujenar sudah tutup, kami memutuskan untuk berjalan-jalan saja di sepanjang Jalan Ngarsopuro, Solo.
Wah, segar sekali sore itu!
Hawanya enak sekali. Nyaman.
Dan suasananya Solo banget.
Hampir mirip atmosfer Jogja, tapi agak lengang. Kapan ya, Jogja punya ruang publik seperti ini? Yang sewaktu-waktu mobil-mobil tak boleh lewat, hanya ada pertunjukan wayang kulit atau ketoprak yang dikeraskan suaranya lewat speaker-speaker yang ditanam di dasar tiang-tiang lampu. Sementara berbagai patung menghiasi pinggir jalan yang ditata apik. Pedagang es dawet tampak hilir mudik sambil menanti pembeli. Dan ketika saya melihat ke atas, wah, saya suka dengan lampu kota ini! Indah sekali dengan sangkar burung dari bambu.
Ngarsopuro, saya kira, saya jatuh cinta kepadamu.


Topeng raksasa ini menyambut kedatangan sampeyan di Pasar Windujenar, Sala.
Pasar Windujenar terletak di Jalan Ngarsopuro, dan patung mas Mintuna ini tampak gagah sore itu.
Nah, kalau ini mbak Mimi tampak anggun sekali di samping lesung kayunya yang antik.
Jalan Ngarsopuro, tegelnya kecil-kecil dan pecah-pecah.
Menuju ke arah terbenamnya matahari. Ayo. Jingga, aku datang!
Salah satu sudut jalan Ngarsopuro sore hari yang hangat dan segar.
"Tumbaaaas!"
Rebab.
Ini namanya apa ya? Saya lupa. Sampeyan tahu?
Kendang.
Kandang burung tanpa burung di angkasa.
Saya dan Ngarsopuro.

4 comments:

  1. iyo jeng, waktu acara yang di solo ada dinner terbuka di ngarsopuro. keren gituw.
    pancen diakoni, pak jokowi manteb, hehehe

    btw kui jenenge gambang

    ReplyDelete
  2. hehehe. ho'o. lali aku :)
    btw, follow aku ya jeng :)

    ReplyDelete
  3. wong jawa kok ra njawani,kuwi ngono arane gender mbakyuu.....

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...