Friday, December 24, 2010

Nostalgia di Sooko

Kalau sampeyan belum tahu, saya menghabiskan tiga tahun di Mojokerto, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan situs Majapahit-nya. Bapak saya memang asli Mojokerto, walhasil, kadang saya mengimajinasikan bapak saya yang dari bumi Majapahit bertemu dengan ibu saya yang dari Mataram, wah, seru ya. Jadilah saya hibrida dari kedua kerajaan besar itu.
Pengalaman tiga tahun bersekolah 'bukan' di kota pelajar memberikan sebuah pengalaman luar biasa. Merasakan hidup di desa yang tak pernah punya akses buku-buku bagus (harus ke Surabaya kalau hendak beli Tetralogi Buru), tak ada akses bioskop (lagi-lagi harus ke Surabaya hanya untuk sekedar nonton AADC waktu itu), dan akses internet yang mahal sekali (enam ribu perjam waktu itu).
Dan minggu lalu, demi tandatangan pak kepala sekolah SMA saya yang baru di atas ijazah saya yang lama, saya menyempatkan diri melongok SMA saya yang penuh dengan romantisme masa-masa remaja yang penuh gairah.
Inilah SMA saya dulu yang sekarang sedang menggeliat menjadi sekolah rintisan berstandar internasional, yang artinya SPP semakin mahal (saya dulu hanya 21.500 rupiah per bulan), waktu belajar yang semakin panjang (pulang jam tiga sore setiap hari), dan gratis akses internet di lorong-lorongnya.
Ada kerinduan yang menyeruak begitu saya memasuki halaman depan bangunan ini. Saya masih ingat dulu waktu saya pertama kali masuk semacam OSPEK, saya disuruh membawa sapu untuk kerja bakti, dan saya sempat malu karena seragam saya beda sendiri. Ya, saya kan dari SMP 8 Jogja, jadi seragam saya tak bernama. Hampir semua seragam sekolah di kota ini memiliki nama di dada kirinya. Akhirnya saya menggunting kertas karton tipis dan menulis nama saya dengan spidol hitam lalu saya lekatkan ke dada kiri saya. Jadilah!
Oya, minggu lalu saat saya mampir kesini, ternyata guru-guru saya masih ingat dengan saya. Arek Jogja, arek Jogja, begitu katanya.
Saya tersenyum.
Banyak ruangan yang beralih fungsi saat saya mengamati sekolah saya. Dan banyak wajah-wajah lama yang saya kenal yang tersenyum hangat menyapa saya dengan logat Jawatimuran yang khas.
Setelah berhai-hai dan bersalaman dengan guru-guru, saya langsung menuju kantin. Wah, kantin Emak di belakang kelas IPS saya dulu sudah hilang! Jadi saya berjalan terus ke kantin belakang.
Tiga kantin masih tegak berdiri seperti dulu. Kantin yang pertama adalah kantin soto terenak di Sooko milik paman saya, Pak Edi. Kantin kedua adalah kantin bakso dengan es degan (es kelapa muda), es garbis (es blewah) dan es melon. Kantin ketiga adalah warung bakso dengan tambahan menu gorengan seperti ote-ote (bakwan) dan tahu susur (tahu isi) berukuran jumbo dengan sambal petis yang hitam dan kental.
Wah, saya bersalaman dengan para pemilik kantin. Saya lalu pesan es garbis, alias es blewah. Di Jogja tak ada es garbis, jadi saya ingin mencoba sekecap. Sayangnya, si penjual tak ada garbis, jadilah saya pesan es seadanya, yaitu es sirup yang berwarna merah dicampur dengan hitam kenyal yang namanya saya lupa, baik dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia atau bahasa Jawatimuran-nya, saya lupa apa namanya. Itu lho, hitam-hitam kotak-kotak kenyal-kenyal.He-he.
Dan saya baru ingat, kalau saya belum bayar! Wadow, maaf bulik!
Ha-ha-ha!
Saya juga sempat berkeliling-keliling sendirian di sepanjang lorong, mengintip kelas-kelas yang sedang sibuk ujian semester, ngobrol dengan guru pengawas seperti Pak Tri, guru Fisika saya yang orang Klaten dan Pak Dwi, guru kimia saya yang kenal dengan romo-romo Jesuit dari Sanata Dharma. Wah, agak malu juga, karena nilai fisika dan kimia saya selalu di bawah lima, tapi mereka sepertinya tak ingat. Syukurlah.
Saya juga menyempatkan untuk memfoto gerbang sekolah saya yang unik. Bukan hanya warnanya yang nge-pink itu, tapi bentuknya. Di Mojokerto, hampir semua rumah, instansi pemerintah, sekolah, rumah sakit, gang kampung, dan bangunan-bangunan lainnya, termasuk rumah kakek saya, punya gapura semacam ini, namanya Gapura Candi Bentar. Terinspirasi dari Candi Bentar di situs Majapahit di Trowulan. Kalau saya naik bis dari Jogja, saya akan langsung tahu kalau saya sudah di Mojokerto hanya dengan mengamati gapura-gapura semacam ini di pinggir jalan. Nah, biasanya, di depan gapura sekolah saya ini, setiap hari sepulang sekolah saya selalu duduk di sini, dan menunggu teman-teman saya yang bermotor untuk nunut, alias nebeng sampai rumah. Saya memang selalu jalan kaki kalau berangkat ke sekolah karena rumah nenek saya di belakang sekolah ini. Dan saya masih ingat, siapapun teman sekelas saya pasti pernah saya tebengi. Hanya berbekal dengan helm semata. Dan kadang-kadang, saya tak hanya diantar sampai rumah, tapi juga langsung dolin, alias dolan, atau jalan-jalan tebar pesona.
Namun ada kalanya saya tak pernah dapat tumpangan.
Pernah, saya masih ingat, saya menunggu hingga sore, dan tak ada yang lewat. Biasanya saya lantas beli pentol, atau kalau di Jogja semacam bakso kecil-kecil dari tepung tapioka dengan sedikit ikan di dalamnya terus dicelup ke saos atau sambal. Ya, kalau sekarang yang nge-tren sih semacam cilok yang bertebaran di depan kampus saya. Nah, bedanya,
kalau di Jawatimur, namanya pentol, harganya 500 perak dengan variasi ketebalan dan kekenyalan yang langsung diambil dari soblog besar yang umeb, kebul-kebul, alias masih panaaaaas.
Jadi harus tiup-tiup dulu sebelum makan dan tangan serta seragam menjadi belepotan saus merah yang merah dan kental. Nah, saat saya di depan gang waktu itu, saya menjumpai si 'pentol kirun' ini. Saya beli seribu saja, dapat dua pentol. Langsung saya nikmati bulat-bulat. Wah, rasanya. Kangen saya dengan rasa ini, rasa es-em-a!
Di sekolah saya ini, ternyata pedagang pentol dan yang lainnya tak boleh berjualan di dalam gerbang lagi. Mereka harus berjualan di luar gerbang. Hmm, apa ini ada kaitannya dengan sekolah 'berstandar internasional' tadi ya? Curiga saya.
Kembali ke sekolah saya, sambil makan pentol, saya sempatkan berkeliling-keliling ke sayap barat, melongok UKS, tempat langganan saya untuk mbolos jam pelajaran, mampir ke mushola, tempat saya menggoda para remaja masjid yang ganteng-ganteng dan pemalu itu, lalu ke markas Pramuka saya dulu, eits, jangan salah, saya ikut Pramuka juga lho!
Di kota ini, Pramuka masih menjadi ekskul wajib untuk kelas 1 SMA, dan saya masih melanjutkan menjadi Kerani (alias sekretaris) saat saya kelas 2. Whaa.
Saya melongok ke dalamnya. Masih persis dengan sepuluh tahun yang lalu.
Bahkan pura kecil di depan markas Pramuka ini masih ada. Bentuknya seperti pura bertingkat lima dengan puncak kecilnya. Wah, dulu saya tidak terlalu ngeh dengan pura kecil ini. Jadi, saya potret saja, sebagai kenangan kalau saya pernah rajin nongkrong di sini dengan teman-teman baik saya di Pramuka Brandi's (Brawijaya-Srikandi) setiap sore sambil ngobrol tentang masa depan. Saya baru sadar sekarang, dulu waktu es-em-a saya rajin sekali ya. Ikut Pramuka, teater, mading, OSIS dan sempat berjualan pernak-pernik unik yang saya impor langsung dari Jogja, sembari membantu paman saya cuci piring di warung sotonya, demi semangkok soto uenak dengan koya di atasnya. Slurrrp!
Sebuah pagi yang menyenangkan!
Sedikit meluangkan waktu untuk menyapa ruang-ruang yang sempat menjadi 'rumah' bagi saya, sepuluh tahun yang lalu.

3 comments:

  1. Heiiii... itu juga SMA sayaaaa... dan Pak Dwi juga guru favorit saya... tiap ngajar n berhenti didepan bangku saya selalu nyanyiin lagu Belanda dari penyanyi De Four Tak- Sonja, yang sesuai sama nama saya... :) Miss old time in Sooko... :) *numpak len C :)*

    ReplyDelete
  2. Oh ya... yang hitam hitam kenyal itu, basa Mojokerto-annya, "janggelan" alias cincau hitam.. :)

    ReplyDelete
  3. Halo adek kelas, salam kenal. Bolehkah saya pakai foto SMA Sooko nya. Disebutkan kok, sumber foto itu dalam blog saya. I will pull it out from my blog immediately if the picture is copyrighted.
    :-)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...