Friday, December 10, 2010

Merekam Jejak Sejarah Barang di Pasar Triwindu

Sore itu, saya dan Greg yang sedang ke Solo naik Banyubiru sempat tidak tahu tujuan hendak pergi ke mana karena memang kali ini benar-benar jalan-jalan spontan.
Jadi, begitu kaki kami menginjak lantai Stasiun Balapan dan tiba di parkiran belakangnya yang penuh dengan tukang becak, tiba-tiba saya baru ingat kalau di Solo ada pasar barang antik yang cukup terkenal, meski saya tak tahu namanya. Dan akhirnya kami naik becak ke pasar 'terwindu', yang menurut pak becak, semua barang antik ada di sana. Dan dia berkali-kali meyakinkan kalau 'masih buka, mbak, masih buka'. Saya lirik jam digital di hape saya, hmm, hampir jam lima, dan saya berharap, pasar 'terwindu' masih membuka dirinya untuk kami sore itu.Oya, ternyata 'mbecak' sore-sore di kota ini asyik juga ya. Semilir angin sore dan lalu lintas yang tidak terlalu padat membuat kami terkantuk-kantuk, tapi tetap bersemangat.
Kami melewati sudut-sudut benteng lawas Keraton Surakarta yang lengang. Becak kami meluncur pelan.
Pak becak asyik mengobrol tentang dirinya sendiri,tentang anak-anaknya yang menjadi tentara, sementara si bungsu sedang bekerja di Jogja, tentang pengalamannya 'mbecak' di Jogja dan 'keblasuk-blasuk' sampai Bantul karena tak kenal peta Jogja, dan tentang kota Solo yang selalu disebutnya Sala, nama kuno dari kota ini. Hanya orang-orang tua saja yang menyebut Solo itu Sala.
Kami juga melewati kompleks Keraton Mangkunegaran, kalau tidak salah, dengan benteng-benteng tinggi dan rahasia yang tersimpan di dalamnya, kami juga melewati bangunan baru tapi lawas yang ternyata adalah Omah Sinten yang nantinya kami akan mampir sejenak untuk mencicipi kuliner ala 'tempoe doeloe'. Dan kami melewati seruas jalan yang membuat saya terheran-heran. Hmm, jadi ini to yang membuat Joko Widodo, sering disebut Jokowi (Walikota Solo) terkenal. Sungguh sebuah ruang publik yang nyaman sekali!
Belum sempat saya menikmati, becak sudah berhenti tepat di depan gerbang Pasar Windujenar Sala. Oh, jadi namanya sudah ganti ya.
Pasar sudah lengang ketika kami sampai.

Wah, jangan-jangan semua kios sudah tutup. Ternyata, belum.
Waah, senang sekali saya!
Ada banyak sekali barang-barang kuno dan lawasan dijual di sini. Mulai dari patung-patung, buku cerita jaman dulu, mesin ketik kuno, setrika arang yang ada ayam jagonya itu, otopet sejak jaman Belanda, perhiasan antik, dan kayu-kayu aneh yang saya tak tahu namanya.

Kami berkeliling-keliling, dan setelah hampir setengah jam, hampir semua kios sudah tutup dan sepi. Waah, ya sudahlah.
Kami akan pergi lagi ke sini kapan-kapan. Mungkin agak lebih siang, jadi kami bisa puas melihat-lihat. Siapa tahu ada yang menarik hati.
Jadilah kami berjalan-jalan keluar dan menikmati segarnya sore di Ngarsopuro...


Selamat datang di Pasar Barang Antik.
Lihat kendinya. Eksotis sekali.
Buddha berteman dengan Barong di sini.
Mimi dan Mintuna. Simbol pengantin yang tak lekang oleh waktu.
Lihat para punggawa yang berkepala matahari. Cantik sekali.

2 comments:

  1. suka "tukang becak yang keblasuk sampe bantul"... informasi lokasi wisata nya jg bgs krn bnyk foto2 nya :D.. mksh...

    ReplyDelete
  2. hehehe :) iya. sama-sama :) becak dari stasiun balapan sampai pasar triwindu hanya 10 ribu saja :) siip :) maturnuwun

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...