Wednesday, December 8, 2010

Mampir di Omah Sinten

Kali ini kami mampir makan malam di Omah Sinten, kawasan Ngarsopuro, depan Kraton Mangkunegaran, Solo setelah jalan-jalan sejenak ke Pasar Triwindu untuk berburu barang antik. Greg dan saya segera memilih tempat dan membaca daftar menu.
Wah, lumayan mahal juga, pikir saya. Mencoba satu kali saja, tentunya dibolehkan kan? Sekedar mengecap suasana senja di Solo dan merasa apa yang ditangkap indra.
Kami disuguhi ceriping ketela sebagai makanan pembuka sambil menunggu hidangan utama. Angin sepoi-sepoi di pendapa tempat kami duduk sambil menunggu senja. Sambil menunggu, saya melihat berkeliling dan melihat arsitektur tradisional Jawa yang bernuansa warna tanah tampak mendominasi sekitar.
Di depan pendapa ada dapur terbuka yang dapat dilongok dan dilihat. Tampak beberapa pegawai hotel dan restoran Omah Sinten mondar-mandir.
Di depan dapur terbuka ada gerobak es kuno bergambar Dakocan hitam. Hotel Omah Sinten sendiri seperti rumah panggung dengan banyak kamar dengan tangga kayu yang dibuat seperti rumah tempo dulu. Katanya sih, Omah Sinten ini milik Pak Jokowi, walikota Solo, tapi saya juga nggak tahu benar atau tidak. Wong cuma katanya teman saya.
Setelah beberapa menit menunggu, pesanan utama kami akhirnya datang. Ini dia!

Saya memesan Sari Laut Bumbu Rempah, yang dalam daftar menunya tertulis seperti ini: sup isi cumi, udang, kakap, jamur kancing-sampinyon dengan bumbu rempah asam pedas.


Sari Laut Bumbu Rempah a la Omah Sinten
Sedang Greg memesan Garang Asem Bumbung yang menjadi menu andalan Omah Sinten yang isinya adalah ayam masak bumbu rempah, blimbing wuluh dan santan disajikan dalam bumbung (bambu).

Garang Asem Bumbung a la Omah Sinten
Wah, bumbung bambunya besar. Dan masih ada nasi untuk kami. Tentu saja, ide untuk jalan-jalan ke Solo tanpa rencana ini membuat kami lapar, karena kami berangkat dari Yogya naik kereta dari Maguwo jam tiga sore, begitu saja, tanpa persiapan apapun, karena tujuan kami ke Maguwo sebenarnya pergi ke bandara untuk me-refund tiket Garuda saya yang batal terbang karena abu Merapi. Inilah nasi yang kami tunggu-tunggu:
Nasi Rames a la Omah Sinten
Minuman yang saya pesan adalah Coklat Sinten, yang katanya dari resep tradisi turun temurun, sedang Greg memesan yang lebih segar, Es Seger Waras, yaitu campuran irisan buah segar dan susu disajikan dengan jus sirsak. Hmm, selamat makan semuanya!

Coklat Sinten
Es Seger Waras a la Omah Sinten

2 comments:

  1. Display warung nya plng menarik... :D

    Foto2 lama, tetntang sejarah (warung atau kota solo ya?) hehehe :D

    ReplyDelete
  2. Hehehe, dua-duanya Mas :)
    kalau saya ke tempat baru yang belum pernah saya kunjungi, saya biasanya nyicipi makanannya juga. Disini, m-a-h-a-l, hehehe :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...