Sunday, December 19, 2010

Lingga Monas

Masih dalam pengembaraan saya di Jakarta dengan Antoine, romo Katolik dari Perancis yang saya paksa untuk mampir ke Monas, yang menurut dia less-interesting. He-he-he. Jadilah saya pergi ke Tugu Monas untuk pertama kalinya dalam hidup saya! Sekedar ingin tahu agar ada sesuatu yang bisa dirasakan, diceritakan, dibagikan dan dikenang.
Satu kesan pertama tentang Tugu Monas adalah jauuuuuh.
Perjalanan dari Masjid Istiqlal sih tidak jauh, tapi kompleksnya yang luas membuat saya kelaparan. Kata Antoine, lihat invani, pelataran Tugu Monas yang luas ini sepi dan kosong, padahal di bawah jembatan dan tepi Sungai Ciliwung banyak orang berdesakan karena tak punya lahan untuk tempat tinggal. Lihat betapa kontrasnya ibukotamu!
Saya nyengir.
Ya. Saya juga merasakan hal yang sama. Saya sendiri termasuk orang yang kagum dengan lapangan, atau tanah yang luas dan lapang. Bukan karena apa-apa, saya kira saya menderita sindrom ini karena saya terbiasa hidup di rumah sempit yang penuh sesak dengan keluarga saya. Jadi, momen pergi ke alun-alun adalah suatu hal yang sangat saya tunggu-tunggu.
Kembali ke Monas, kami harus melewati jalur bawah tanah, lalu naik, beli tiket dan akhirnya antri untuk masuk Monas. Sampeyan tahu, antriannya 10 meter! Gila!
Seperti antri apa saja, pikir saya.
Rombongan anak sekolah mendominasi antrian. Kami berdiri hampir 45 menit hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam lift yang berjubel. Wajah saya nempel di pintu lift yang dingin selama tiga menit. Akhirnya kami sampai di puncak, dan saya melihat Jakarta dari atas. Oh, jadi "hanya" begini to. Terus apa ya, yang istimewa dari Tugu Monas ini? Memang ada museum, tapi kami memutuskan untuk tidak masuk karena berjubel dengan anak-anak SD dan SMP. Saya bilang kepada Antoine, kamu tahu, banyak yang bilang Monas adalah falus-nya Soekarno. Dia tertawa. Katanya, terlalu banyak simbol lingga di kompleks ini. Apa kamu tadi melihat patung bunga bangkai Rafflesia di pelataran tugu? katanya. Tentu saja saya lihat. Kami tertawa bersama-sama.
Angin cukup keras di atas sini. Sementara langit sangat mendung dan kelabu. Nun sejauh mata saya memandang, saujana pencakar langit terhampar di bawah langit Jakarta yang abu-abu. Berkabut di beberapa sisi.
Saya melamun. Membiarkan angin Monas mengacak-acak poni saya dan menggelembungkan rok saya bulat-bulat.

Monas = bukan hanya lingga, tapi ada yoni-nya juga lho!
Ini bunga bangkai yang disebut-sebut Antoine tadi.
Kalau diamati memang bersimbol lingga dan yoni juga.
Harus naik tangga ini sebelum masuk ke Tugu Monas.
Selayang pandang Jakarta dari puncak tugu.
Pencakar langit kelabu.
Kuning yang kelaparan di depan relief gajah.
Semoga semua makhluk di bumi berbahagia dan damai.
Lihat! Ada lingga yang tersembul di balik sana!
Relief yang cukup menarik.
Memfoto yang memfoto. Dipotret yang dipotret.

2 comments:

  1. saya tertarik tulisan ini pertama, karena ada nama saya hahaha.. kedua, sudah 10 bulan tinggal di ibukota, ke monas baru cuma sampe tamannya. duduk di sana, baca-baca dan menikmati kopi 2000 perak, mau naik kok ya males hehehe..

    ReplyDelete
  2. Mas GaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinK :D
    i miss yuuuuuuuu...
    sudah di jakarte tooooo
    hahahahaha :D

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...