Sunday, December 19, 2010

Kuli-kuli Sunda Kelapa

Saat saya mampir ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya sempat menyambangi Sunda Kelapa. Sebuah pelabuhan yang tidak asing di telinga saya karena sudah diulang-ulang sejak SD dalam pelajaran Sejarah.
Saya pergi ke Sunda Kelapa dengan teman bule saya dari Perancis, Antoine, seorang romo Katolik yang sangat tertarik sekali dengan budaya Indonesia. Kami naik taksi dari Cengkareng, lalu turun di seputaran Harmoni, dan berjalan kaki sampai Sunda Kelapa.Sore yang mendung.
Baru pertama kali ini saya menginjakkan kaki ke pelabuhan lawas yang sarat dengan sejarah tentang kedatangan Portugis sekitar abad 16, saat laut Indonesia menjadi jalan raya atas tujuan utama rempah-rempah Nusantara yang lalu disusul dengan Belanda dengan VOC-nya.

Saya takjub dengan pelabuhan ini. Kapal-kapal pinisi berjejer dengan gagah, menyorongkan tubunnya yang ramping dan perkasa dan menjulangkan tiang-tiangnya ke angkasa. Lalu lalang pelaut, buruh angkut dan para pelancong seperti kami berbaur di sini. Antoine banyak bercerita tentang asal usul Sunda Kelapa dan banyak merenung tentang sesuatu entah apa.
Saya melihat orang-orang yang sedang mengangkut muatan dari truk ke dalam kapal, lalu orang-orang yang hilir mudik di atas geladak dengan karung-karung di atas punggungnya, dan orang-orang yang memanjat tiang-tiang kapal nun jauh di atas sana. Mungkin mereka sedang mengecek tiang dan tambang.
Antoine menunjukkan sesuatu yang menarik kepada saya sore itu.
Lihat, invani, para kuli yang bekerja di atas kapal itu. Lihat mekanisme mereka memindahkan karung-karung itu ke dalam kapal.
Saya mengamati benar-benar.
Memang ada sebuah mekanisme yang bergerak di ujung sana.
Karung-karung dari truk, dipindah ke dalam kapal melalui deretan panjang orang-orang yang berjajar.
Di atas truk ada laki-laki yang terus menerus melemparkan karung ke teman di seberangnya. Teman di seberangnya menumpuknya di sebuah papan kayu sederhana yang digunakan sebagai jembatan dari truk menuju kapal. Dan ada orang yang melemparkan karung-karung itu ke punggung-punggung yang hilir mudik tanpa henti. Orang-orang dengan punggung baja itu menekuk lututnya, lalu BUG! karung sudah di punggung, dan orang itu lantas berlari-lari kecil melewati jembatan papan, dan menaruhnya di geladak kapal. Beberapa orang di kapal lantas menumpuk karung-karung dan mengikatnya agar tidak lepas. Begitu seterusnya. Terus menerus tanpa henti.
Itulah yang disebut sistem kuli tradisional, kamu tahu mengapa para kuli itu mengangkut karung dengan punggungnya? Mereka sudah tahu keterbatasan manusia, invani, kau takkan sanggup mengangkut karung itu dengan kedua lenganmu meski lenganmu sekuat baja, kata Antoine.
Rambutnya yang memutih tersibak angin laut yang lengket dan berhawa garam. Saya terdiam. Mendengarkan.
Bayangkan butuh berapa lama untuk memindahkan 500 karung dari truk ke dalam kapal dengan mekanisme seperti itu. Coba lihat yang sebelah sana.
Antoine menunjuk ke kapal di sebelahnya.
Di kapal itu saya melihat ada yang berbeda. Kali ini ada semacam tangan raksasa dari besi yang mengangkat karung-karung itu dengan sekali terkam, dan orang-orang di kapal menunggu sampai karung-karung itu mendarat di geladak, baru mereka menata karung-karung itu dan mengikatnya dengan tali tambang yang super kuat. Antoine berkata dengan sedih, di beberapa negara maju, manusia sudah tak diperhitungkan lagi kekuatannya. Kamu tahu, invani, tak ada kuli di pelabuhan-pelabuhan modern Eropa. Mereka tak percaya dengan kekuatan tubuh yang liat itu. Mereka lebih bergantung pada dinginnya mesin-mesin dan baja-baja besar bermagnet yang hanya dengan satu hentakan dapat mengangkat satu kontainer besar seberat satu ton. Satu hentakan saja.
Saya terdiam. Membayangkan ketika kuli-kuli yang penuh semangat itu menghilang dan digantikan dengan dengung-dengung mesin besar yang memutar-mutar tangan besinya.

Kuli-kuli di Sunda Kelapa itu kebanyakan laki-laki, hampir tak ada perempuan. Hampir semua laki-laki yang menjadi kuli di Sunda Kelapa tubuhnya terbalur bubuk putih dan pakaiannya lusuh. Sempat saya melihat beberapa dari mereka mandi dengan seember air keruh, hanya dengan cawat saja. Saya juga melihat rumah di atas kapal dengan para laki-lakinya yang sedang beristirahat sejenak. Menanti karung-karung yang datang, menanti pagi untuk mengangkat jangkar dan menabuh sauh untuk berlabuh ke arah Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Menurut sebuah artikel yang saya unduh dari internet, Sunda Kelapa merupakan sedikit dari pelabuhan di dunia yang mengandalkan tenaga para kuli bongkar muatnya. Kebanyakan kapal pinisi di pelabuhan ini dikemudikan oleh para pelaut Bugis dan Makassar. Pelaut-pelaut ulung Nusantara yang sigap mengarungi ganasnya laut Hindia.
Sebuah potret kehidupan yang menarik tergelar di sini.
Sementara para pelancong yang datang sibuk dengan kamera-kamera mereka, ber-haha-hihi dan tertawa-tawa, saya tidak. Saya berpikir dan merasa sekaligus.
Saat saya sedang berjalan di tepi sebuah kapal besar berwarna hijau itulah saya bertemu dengan Pak Mande, nelayan asli Jakarta yang giginya tak lengkap dan wajahnya coklat matang terbakar sinar matahari dan garam laut. Pak Mande bercerita tentang kemana kadang kapalnya pergi, tentang pinisi, tentang muatan dan tentang keluarganya.
Saat Antoine datang, ia melirik dan bertanya, suaminya Neng? Saya tertawa kecil, saya bilang saja, dia bapak saya. Pak Mande terkekeh, bapaknya bule kok anaknya jawa.
Kami lalu berpamitan dan saat saya bersalaman Pak Mande, saya merasa berjabatan tangan dengan sesuatu yang kokok namun rapuh di satu sisi. Ada kerinduan akan halusnya tangan perempuan dan suara tangis bayi. Tapi, gambaran itu lalu dihempaskan seperti karung beras yang terhempas di lantai geladak. BUG! Saya menghela nafas panjang.
Sungguh sore yang sangat indah, sekaligus menggetarkan hati.
Saat kami berbalik pulang, ada seorang tukang jamu yang tersenyum malu-malu saat para lelaki bersuit di sekitarnya, mengomentari panggulnya yang berlekuk dan roknya yang melambai tertiup angin.
Dan saat kami hampir sampai pintu masuk pelabuhan, ada seorang perempuan separuh baya yang berteriak kencang sekali ke arah saya, suaminya ya Neng?
Saya berteriak, bukan! ini bapak saya!
Antoine berkata polos, mereka kira kamu seorang prostitute karena berjalan dengan bule?
Saya mendelik.
Pinisi yang menantang mendung dan ombak.
Truk, sahabat kapal dan para kuli di Sunda Kelapa.
Menunggu pelanggan di antara kapal-kapal yang menua.
Inilah galangan kapalnya VOC. Tak sempat memotret. Kamera habis baterai.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...