Sunday, December 26, 2010

Kora-Kora: Aaaaaaaaaargh!

Selamat Natal!
Kali ini, saya menghabiskan Natal dengan berjalan-jalan ke Sekaten di Alun-Alun Utara yang penuh sesak. Saya membawa serta adik bungsu saya, Wisnu yang memang minta diajak ke Alun-Alun. Tak lupa Greg saya ajak serta.
Setelah parkir di depan warung bajigur langganan kami di dekat Keraton, kami lansung berjalan ke arah wahana permainan.
Sebenarnya kami ingin naik Bombom-Car, namun urung karena ternyata per orang 10 ribu tiketnya. Apa? Wah, mahal. Padahal kami bertiga. Jadilah kami berjalan-jalan saja melewati banyak hal yang berwarna-warni, berkelap-kelip, berpendar-pendar serta riuh rendah suara-suara khas pasar malam.
Kami melewati dremolem, alias ferries-wheel yang penuh dengan teriakan anak-anak kecil.Kami sudah pernah naik, jadi kami lewati saja.

Malam ini, kami memang ingin mencoba sesuatu yang baru, wahana permainan yang belum pernah kami naiki.
Tibalah kami di depan perahu Kora-kora yang besar itu.
Satu tiket tujuh ribu rupiah. Saya langsung membayar untuk tiga orang setelah cengiran Greg dan antusiasme yang menyala di mata Wisnu.
Sepintas saya berpikir, wah, apanya yang enak, hanya diayun-ayunkan saja ke depan, ke belakang, seperti ayunan. Tak terlalu menantang seperti Ombak Banyu misalnya.
Kami bertiga lalu duduk di bangku paling belakang. Di depan kami ada dua ibu berjilbab separuh baya yang mengapit dua orang anaknya, atau cucunya, yang masih balita. Wah, berani juga, pikir saya. Oke.
Dalam beberapa detik lagi kami akan mengayun. Satu, dua, tiga!

Biasa saja. Saya tertawa-tawa. Wisnu tertawa-tawa. Dan Greg juga.
Semakin lama, ayunan semakin kencang. Dan saya mulai berteriak.
Sekali, dua kali, semakin kencang dan tinggi. Whaaaaaaaaaa!
Wisnu mulai diam dan menunduk. Saya tak berani menengok ke depan.
Lalu, puncaknya: Huaaaaaaaaa! Wisnu menangis keraaaas sekali.
Saya berteriak keraaaaas sekali. Dan Greg tertawa-tawa keraaaaaaas sekali.
Gila! Pusing sekali! Saya mendekap Wisnu erat-erat. Tak lupa berteriak.
Dan setelah hampir sepuluh menit yang membuat mulut saya kering, pelan-pelan si Kora-Kora melambat, lalu berhenti.
Waaaaaah! Saya begitu pusing hingga agak terhuyung saat menuruni tangga.
Dan Wisnu? Sudah berhenti menangis, namun masih shock berat.
Kalau Greg? Wah, dia malah tertawa-tawa hingga keluar airmata.
Asyik! Lain kali kami akan coba lagi! Beramai-ramai. Berteriak-teriak.
Berpusing-pusing. Kata teman saya, Pius, enak, bisa mabuk murah. Ha-ha!

Seperti inilah rasanya dimabuk Kora-Kora.
Diayun tak henti-henti ke depan ke belakang. Huaaa!
Kalau yang ini kadang bikin mabuk juga,
karena laju putarannya kadang terlalu cepat. Sangat cepat, malah.
Wahana yang tak pernah sepi.
Ini yang membuat saya kangen dengan suasana Sekaten.
Pasar malamnya yang merakyat.
Berbagai warna sandal dipajang. Merknya menantang: Abbe.
Yang baru, yang baru!
Anak ayam yang lembut bulu dan menciap-ciap seperti aslinya.
Kembali ke warung bajigur samping Keraton.
Malam yang hangat.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...